Hai Pengusaha Taksi, Beradaptasi dan Berinovasilah

apps-mobile-smartphone-ss-1920-800x450
Bisnis berbasis aplikasi sudah jadi keniscayaan. Sumber: searchengineland

Ah!kamu norak banget. Kejadian demonstrasi anarkistis sopir taksi hari ini di Jakarta sungguh memprihatinkan dan menunjukkan betapa cupet-nya pikiran orang-orang di balik demo tersebut. Perkembangan teknologi saat ini sungguh berlari kencang merambah ke banyak sektor, termasuk transportasi.

Sebetulnya sebelum terjadi kasus katakanlah sebagai taksi online vs konvensional ini, industri musik, buku dan advertising telah mengalami terlebih dahulu. Sebagai contoh, penjualan musik digital secara online melalui iTunes milik Apple telah melibas toko musik konvensional yang menjual kaset dan CD. Lalu hadirnya ebook yang juga dijual secara online, juga hadirnya toko online semacam Amazon telah merebut pangsa pasar toko buku konvensional.

Di sektor advertising atau periklanan, para agency juga menghadapi konsep iklan pay per click atau pay per view yang berbiaya jauh lebih murah. Pengiklan hanya akan membayar jika iklannya ditonton atau di-klik tautannya oleh pengguna internet. Berbeda dengan masa sebelumnya para agensi iklan menangguk keuntungan besar dengan pemasangan iklan di majalah, koran dan televisi, tidak peduli iklan itu terbaca, ditonton atau tidak.

Lalu apa yang dilakukan penggiat industri musik, buku dan periklanan? Apakah mereka melakukan demo? Turun ke jalan menuntut penutupan iTunes store, Amazon, atau Google dan Facebook yang berperan sebagai agen iklan konsep baru ini? Tidak tuh. Mungkin pada awalnya sebagian dari mereka mengeluhkan bentuk-bentuk dan model baru produk dan sistem penjualannya, tetapi langkah-langkah yang mereka ambil sungguh menjadi teladan yang baik bagi pengusaha taksi di negeri ini.

Penerbit musik dan buku beradaptasi dengan juga membuat musik digital dan ebook sebagai salah satu bentuk baru dari produk mereka. Toko buku dan toko musik juga mulai membuka toko online dan juga membuat aplikasi untuk smartphone agar menjangkau dan memenuhi kebutuhan konsumen baru mereka.

Agensi iklan juga mencari dan mengikuti bentuk iklan baru agar masih bisa survive di bisnis mereka. Regulasi terhadap produk dan cara penjualan baru ini di negara kita juga belum sepenuhnya memenuhi dan memuaskan keinginan pelaku bisnis di sektor musik, buku dan periklanan. Memang menjadi PR dan tantangan pemerintah dan pembuat regulasi untuk mengejar lari superkencang teknologi informasi agar bisa membuat peraturan yang benar-benar menjadi tata kelola yang baik bagi bisnis berbasis internet ini, tanpa merugikan cara-cara lama.

Perubahan adalah keniscayaan. Jargon ini sudah sering kita baca dan dengar dan kini saatnya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tuntutan stop atau tutup industri kreatif berbasis internet seperti Uber, Grab, GoJek hanya membuat kita terlihat naif dan cupet tadi. Cupet di sini bisa diartikan sebagai orang yang sudah putus asa dan tidak mau berinovasi serta mentok pada cara-cara lama. Dengan menutup aplikasi yang dirasakan manfaatnya bagi sebagian besar konsumen ini justru akan menyulitkan pembuat regulasi menyusun peraturan yang benar-benar akan memenuhi kebutuhan. Biarlah syarat minimal dari undang-undang atau regulasi yang ada dipenuhi oleh bentuk industri baru ini lalu sambil berjalan dilakukan evaluasi dan perbaikan.

Sekali lagi, tuntutan penutupan aplikasi berbasis internet ini menunjukkan sikap manja dan kekanak-kanakan pelaku bisnis taksi. Sambutlah dunia baru ini dengan menyerap, beradaptasi, dan berinovasi.

Dapatkan Perjalanan Gratis dengan Uber

uber02
Sumber: autoevolution

Ah!kamu jangan ketinggalan zaman dong. Transportasi umum apa di Jakarta dan beberapa kota besar yang paling ciamik saat ini? Jawaban saya tentu saja Uber. Uber ini adalah pemesanan moda transportasi mobil (bukan taksi) melalui aplikasi dari ponsel cerdas kita, baik yang berbasis iOS (iPhone) maupun Android.

Pengalaman saya menggunakan Uber selama beberapa bulan terakhir sejauh ini asyik dan bisa saya daftar keasyikan tersebut sebagai berikut:

  1. Tinggal sentuh-sentuh di layar smartphone setelah install gratis dari App Store ataupun Google Play.
  2. Cepat sekali dapat mobil yang kita pesan begitu kita lihat ada armada di sekitar. Ketersediaan mobil di sekitar bisa kita lihat di layar aplikasi Uber.
  3. Yang lebih penting lagi, ongkosnya lebih murah daripada taksi konvensional. Kalau tidak salah komponen biayanya sebagai berikut: biaya rental Rp3.000, Rp2.000 per kilometer atau Rp300 per menit dan tarif minimum Rp3.000.
  4. Pengemudi mobilnya rata-rata ramah dan berpendidikan karena mereka umumnya adalah pemilik mobil yang “nyambi” jadi pengemudi Uber. Seringkali menemui orang kantoran juga yang sekalian pulang narik tumpangan. Meskipun ada juga mobil milik rental yang kini dipakai untuk narik Uber juga, tetapi rata-rata mereka sudah di-brief ramah dengan penumpang.
  5. Pembayaran praktis ditagih ke kartu kredit, meskipun sekarang ada pilihan pembayaran tunai (cash). Ongkos akan tertera di layar ponsel kita di aplikasi Uber begitu mengakhiri perjalanan.

Setidaknya ada lima hal yang membuat Uber bisa jadi pilihan penting dalam menggunakan transportasi umum. Cukup kan 5 alasan tersebut? 🙂 Sebagai gambaran betapa murahnya ongkos Uber ini saya pernah naik dari Stasiun Tanjung Barat menuju Cilandak Town Square (Citos) untuk jemput anak lalu lanjut pulang ke daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Berapa ongkosnya? Hanya sekitar Rp28.000, saudara-saudara.

Belum pernah coba? Unduh saja aplikasinya ke iPhone atau ponsel Android Anda, lalu daftarkan diri Anda dengan kartu kredit atau sekarang bisa juga tanpa kartu kredit. Lalu di bagian Promotions masukkan kode promo: DIDIKDUE untuk mendapatkan perjalanan gratis atau potongan sebesar Rp75.000.

Selamat mencoba.

Aplikasi Pemesan Transportasi yang Berguna

File illustration picture showing the logo of car-sharing service app Uber on a smartphone next to the picture of an official German taxi sign
Pemesanan taksi melalui aplikasi. Sumber:businessoffapp

Ah!kamu jangan ketinggalan zaman. Dua atau tiga tahun lalu mungkin hal ini belum kita rasakan, yaitu maraknya pemesanan moda transportasi umum berbasis aplikasi di smartphone kita. Ah, kan sudah ada aplikasi serupa dari masing-masing perusahaan taksi. Ya, tapi maksud saya hal itu masih terbatas dan belum sebanyak sekarang penggunanya.

Pengguna moda transportasi umum di Jakarta dan beberapa kota besar kini merasakan perubahan pesat tersebut. Adanya aplikasi GrabTaxi yang memuat juga GrabBike, lalu ada Go-Jek, dan Uber sangat membantu kita memesan atau mencari transportasi umum baik berupa taksi dan ojek. Bahkan Go-Jek memiliki fasilitas tambahan lain seperti Go-Send, Go-Food, Go-Mart yang memungkinkan kita mengirim barang atau dokumen serta membelikan makanan atau barang lain ke toko, resto, atau minimarket.

Terlepas dari kontroversi sesuai atau tidaknya dengan perundang-undangan, aplikasi ini sungguh sangat berguna. Kita bisa memesan taksi dan ojek di mana saja, di pinggir jalan, di lapangan, di mall, tidak perlu berada di rumah atau kantor dan gedung yang selama ini kita lakukan saat memesan taksi secara konvensional. Cukup memanfaatkan GPS yang akan mengarahkan ojek atau taksi ke lokasi kita.

Untuk saat ini dengan adanya diskon atau tarif promosi, pengguna taksi atau ojek yang memesan melalui aplikasi-aplikasi tersebut sangat diuntungkan. Hal ini mungkin sebagai langkah awal untuk menggalang sebanyak-banyaknya pengguna aplikasi.

Selain memesan taksi dan ojek yang sudah familier dengan kehidupan kita, ada Uber dan GrabCar (salah satu bagian dari fitur GrabTaxi) yang membuat kita bisa memesan mobil pribadi beserta sopirnya. Dengan aplikasi ini kita seolah-olah memiliki sopir pribadi karena mobil yang kita gunakan berplat hitam. Nah, ini mungkin yang masih menjadi kontroversi terkait dengan perizinan.

Uber dan GrabCar hampir serupa, tetapi ada sedikit perbedaan dalam cara pembayaran. Uber mewajibkan kita mendaftarkan kartu kredit untuk menagih pembayaran, sedangkan GrabCar menggunakan cara pembayaran cash melalui si sopir. Tarif yang akan kita bayarkan tertera di aplikasi di smartphone kita, bukan pakai alat argometer layaknya taksi.

Menyangkut Uber dan GrabCar yang menjadi perhatian kita mungkin tingkat keamanan karena pada dasarnya kita menggunakan mobil pribadi bukan taksi dengan sopir pribadi juga. Tentu saja pihak Uber dan GrabCar — memang seharusnya —  telah menyeleksi mereka untuk kelayakan kenyamanan dan keamanan. Saya dengar sih mereka selalu melakukan pertemuan untuk pendidikan terhadap sopir, baik Uber, GrabCar, GrabTaxi dan Go-Jek. Adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi memang tidak bisa dihindari karena selalu saja ada yang memanfaatkan celah. Mudah-mudahan hal itu bisa segera dicegah dan diatasi.

Cara dapat free ride (gratis hingga Rp75 ribu) menggunakan Uber:

  1. Unduh aplikasinya di App Store atau Google Play
  2. Setelah selesai melakukan pendaftaran, masuklah ke bagian Promotions dan masukkan Kode Promo: didikdue
  3. Cek di bagian Payment, pastikan di bawah informasi Kartu Kredit ada tanda Free Ride.
  4. Untuk pemesanan berikutnya Anda akan gratis hingga Rp75 ribu.