Akankah Kamu Jadi Penyebar Fitnah?

social-media
Sumber gambar: techtimes

Ah!kamu mudah sekali tergoda untuk sharing berita atau tulisan di akun medsos kamu. Kejadian seperti ini memang marak dalam beberapa tahun terakhir sejak makin banyaknya pengguna medsos.

Ketika kita baca tulisan tentang suatu peristiwa yang berkenan di hati atau sesuai pemikiran kita, kita langsung share tulisan itu di akun FB, Twitter, atau medsos lain. Padahal kebenaran tulisan tersebut masih diragukan atau bahkan mungkin sama sekali berbeda dengan fakta. Kalau tulisan itu hanya tentang peristiwa ringan, dampaknya mungkin tidak seberapa. Akan tetapi, kalau sudah menyangkut pribadi seseorang apalagi berbau kebencian, sadarkah apa yang yang telah kita lakukan? Fitnah! Ya, sama saja kita telah menyebarkan fitnah.

Banyak dari kita mungkin telah terbiasa menyebarkan fitnah semacam ini. Kita sudah dilatih oleh media konvensional seperti TV yang memiliki acara penyebar gosip berbalut nama infotainment. Di sana seringkali terjadi pemberitaan tentang pribadi pesohor atau selebriti yang belum tentu kebenarannya. Setelah melihat tayangan tersebut, serta-merta kita menyampaikan ke teman kita dan memperbincangkannya, kadang-kadang menambahi dengan opini kita sendiri yang kian berkembang dari fakta.

Menyebarkan berita atau tulisan yang belum tentu sesuai fakta ini makin berkembang dengan bertambahnya pengguna internet baru, atau orang yang baru melek medsos (media sosial). Umumnya mereka menganggap benar adanya segala sesuatu yang berseliweran di timeline FB, kicauan Twitter, posting-an Path atau Instagram. Apalagi sekarang makin banyak website atau blog yang seolah-olah media pemberitaan resmi. Padahal kini dengan mudahnya orang membuat website atau blog, hanya dalam beberapa menit bisa jadi dan menyebarkan tulisan yang seolah berita.

Orang-orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang awam yang mudah sekali percaya dengan iklan yang ditayangkan TV. Pernah kan menemui orang seperti ini? Misalnya setelah melihat iklan minuman dengan perasa jeruk yang di sana disebutkan segala kelebihan yang seolah-olah sama dengan jeruk asli atau bahkan lebih, ia akan ambil mentah-mentah informasi itu dan mengubah perilakunya mengonsumsi jeruk.

Umumnya orang semacam itu adalah orang awam yang kurang pengetahuan atau kurang pendidikan. Akan tetapi, sangat kita sayangkan kejadian penyebaran berita/tulisan fitnah di medsos itu tidak hanya dilakukan oleh orang awam atau tidak berpendidikan. Orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi hingga sarjana atau bahkan berprofesi pendidik semisal dosen pun ikut terbawa.

Justru orang berpendidikan tinggi tapi berperilaku awam seperti ini lebih berbahaya. Mereka dengan kemampuan berbahasa membalut dan menambah opininya sendiri sehingga seolah-olah tulisan yang dia share makin meyakinkan. Orang semacam ini sungguh sudah tertutup hatinya demi tujuan yang ia perjuangkan yang umumnya adalah popularitas (semu) dan bisa saja dia dibayar sebagai buzzer pihak tertentu.

Mungkin orang semacam itu berkedok menyampaikan kritik, tapi kita sudah bisa melihat mana kritik mana kebencian. Tulisan yang hanya memperlihatkan keburukan yang belum tentu benar, tanpa memberi solusi di bagian akhirnya sudah jelas itu hanya penyebar kebencian bahkan fitnah.

Akankah kamu ikut-ikutan jadi orang semacam itu? Sadarkah yang telah kamu lakukan? Mungkin kamu hanya akan mendapatkan imbalan popularitas dan sejumlah uang (sebagai buzzer), tapi kamu telah menjadi penyebar fitnah yang di agama apa pun dilarang dan bernilai dosa besar.

Yang kita tuliskan di timeline medsos dengan mudahnya menyebar, sekalipun kamu menyesalinya dan sudah menghapusnya, tulisan itu mungkin sudah telanjur menyebar dan dikutip (copas) banyak orang. Kalau sudah begitu, perbuatan dosa kita akan terbawa hingga kita mati.

Coba renungkan lagi…

Medsosku Bukan Seluruh Hidupku

social media
Source: jsums.edu

Ah!kamu suka gitu deh. Hampir semua teman kita saat ini memiliki akun di media sosial (medsos) seperti FB, Twitter, Instagram, dan Path. Mereka asyik-asyik hampir setiap hari posting status, catatan, kicauan, foto, lagu dan tautan-tautan dari sumber lain. Dulu, pada awalnya saya sering menilai seseorang dari dinding Facebook-nya, kicauan di Twitter-nya, foto di Instagram-nya, atau meme yang ia pajang di Path-nya. Apalagi, bila teman itu adalah teman sebatas medsos, tanpa pernah kopi darat alias ketemu langsung in person.

Beberapa teman sebatas medsos seperti ini akhirnya ada kesempatan untuk bertemu langsung. Saat ketemu tersebutlah penilaianku terhadap orang itu jadi berubah. Dia tidak sejutek kicauannya, dia tidak secongkak statusnya, dan dia juga tidak seglamor foto-fotonya. Nah kan…

Mungkin ada satu dua karakter yang tercirikan dari status dan sharing-nya, tapi tidak semua. Dan penilaiaan atas seseorang berdasarkan medsos memang tidak fair.

Inti utamanya, sebetulnya sih jangan pernah menilai seseorang dari apa pun, bahkan hanya dari medsos mereka. Tugas kita bukan menilai-nilai, kita bukan guru atau juri buat seseorang. Hidup mereka adalah hidup mereka sendiri, hidup saya adalah hidup saya juga sendiri.

Asalkan status atau apa pun yang mereka pasang dan pajang di medsos tidak mengganggu kita, ngapain juga meributkan. Atau seandainya hal itu mengusik pandangan kita terhadap suatu topik atau masalah, kita bisa berkomentar. Saling berkomentar atau berdiskusi secara baik dan sehat tentu akan menarik serta menuju pemahaman baru demi kebaikan bersama.  Akan tetapi, bila akhirnya kita saling bersikukuh terhadap pandangan masing-masing dan berkembang jadi debat kusir berkepanjangan, ya sudahlah akhiri saja. Tidak ada gunanya saling berbantah.

Apabila hal itu terjadi terus-menerus ya abaikan saja, atau gunakan senjata pamungkas di medsos, yaitu unfollow atau bahkan unfriend. Gampang ‘kan? Unfriend di sini kan sebatas di media sosial, di dunia maya. Bukan berarti kita memutuskan tali silaturahmi sebenarnya. Tapi, seandainya putus pun dengan teman sebatas medsos seperti itu toh juga gak ada salahnya, daripada dia akan mengotori hari-hari kita dan membuat kita akan menyakiti hati orang lain.

Ah!kamu… (bener juga) 😀