Tahun Baru Semangat Baru

4-steps-networking-level
Sumber: careerealism

Ah!kamu merasa tidak? Sudah dua hari kita memasuki tahun baru 2016. Kita melakukan langkah-langkah awal menapak yang semestinya menuju cita-cita yang ingin kita raih sepanjang tahun ini.

Yang tahun ini ingin memulai bisnis atau usaha baru, mari siapkan dengan sebaik-sebaiknya agar berjalan sesuai harapan. Bisnis atau usaha sendiri adalah hal yang bagus dan mulia.

Yang ingin berpindah tempat kerja atau berganti karier, mari mencari dan mempertimbangkan baik dan buruknya dibandingkan tempat kerja yang sekarang. Ingat kerja bukan semata tentang besarnya gaji, tapi ada kenyamanan bekerja, sesuai gairah (passion), pewujudan aktualisasi diri dan peningkatan jenjang karier.

Yang tahun ini bertekad menyelesaikan kuliah dan skripsi, mari benar-benar menyiapkan bekal untuk kelulusan dan skripsi atau tugas akhir agar memperoleh nilai yang memuaskan. Ingat, kelulusan bukanlah tahapan akhir, justru itu adalah langkah awal memasuki dunia kerja.

Mungkin ada daftar panjang cita-cita dan harapan yang ingin kita raih tahun ini, tapi sebaiknya kita melakukan prioritas agar kita tidak terlalu melebar ke mana-mana yang membuat kita tidak fokus. Tugas kita memang hanya bekerja, berusaha, dan berdoa. Selebihnya adalah urusan Tuhan yang mahakuasa untuk mewujudkannya.

Semoga kita, aku dan kamu, dapat menyadari setiap langkah dan aktivitas yang kita jalani bermanfaat dan berkah. Sikap ikhlas dan selalu bersyukur selalu kita hadirkan setiap saat.

Sindrom Jelang Akhir Tahun

regulatory-uncertainty

Ah!kamu parno* deh. Mendekati tahun baru banyak dari kita mengalami kepanikan yang gak jelas. Kita? Kamu (dan aku) aja ‘kali. Hehehe… Sebetulnya ada perasaan campur aduk tak karuan antara senang, sedih, cemas. Kadarnya bisa rendah, sedang hingga akut. Yang rendah mungkin bisa terabaikan. Nah, yang sedang bahkan akut itu yang perlu penanganan.

Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi pada kamu. Kalau toch terjadi aku yakin kamu bisa mengatasinya. Munculnya perasaan itu bisa dianggap wajar, tapi bisa juga dianggap lebay, berlebihan kalau sudah keterlaluan. Semua itu bergantung pada persepsi seseorang terhadap kejadian yang tentu saja dipengaruhi pengalaman di sekelilingnya dari waktu ke waktu. Jiah, bahasanya sudah seperti psikolog aja.

Justru kalau kita memiliki perasaan tertentu terhadap perubahan ini kita memilik titik awal untuk melakukan sesuatu. Sesuatu itu bisa perbaikan kalau kita mampu mengatasinya, tapi justru sebaliknya jika kita mengambil langkah yang salah. Jadi, bisa bersifat konstruktif atau destruktif. Contoh yang destruktif adalah dengan mencoba melupakan perasaan dengan obat-obatan atau minuman keras dalam pesta-pesta.

Orang yang tidak menganggap perubahan tahun sebagai hal yang istimewa atau hampir tidak pernah merayakannya, mungkin akan menghadapinya biasa-biasa saja. Hal ini bisa kita terima. Kalau kita perhatikan secara saksama pergantian hari dan tahun adalah peristiwa alami yang sering kita hadapi. Manusia sendirilah yang membuat hal itu seolah istimewa dengan penamaan dan peringatan.

Hari berganti hari sepanjang waktu ya begitu-begitu saja. Tidak ada bedanya. Yang membedakan adalah kejadian yang dialami setiap individu. Secara umum mau tahun baru, bulan baru, atau hari baru secara alami  bergulir, berjalan tanpa ada kuasa kita untuk menghentikannya.

Sudah kita sepakati bersama bahwa kita perlu selalu memperbaiki diri dari hari ke hari. Jika kita menyadari dan meresapi dan mengamalkan hal ini tiap hari, niscaya kita tidak butuh adanya moment-moment bentukan manusia semacam tahun baru.

Akan tetapi, secara umum manusia membutuhkan moment-moment seperti ulang tahun, tahun baru, hari anu, hari ini untuk menandai fase hidup kita. Misalnya Hari Ibu akan selalu mengingatkan agar kita menghormati ibu kita dan kaum wanita pada umumnya. Pada Hari Pahlawan kita mencoba meneladani sikap kepahlawanan pendahulu kita yang telah mengukir sejarah kebaikan bagi bangsa kita, dan seterusnya.

Tahun baru selain sebagai penanda pergantian hitungan hari dalam setahun yang telah disepakati, bagi sebagian besar orang adalah moment untuk memulai babak baru kehidupan selain moment ulang tahun kelahiran. OK-lah, kita bisa ambil sisi baiknya saja. Kita jadikan moment tahun baru sebagai moment perubahan besar untuk memperbaiki diri.

Tentang keriaan dan acara penyambutan berlebihan dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api itu sudah jadi komoditas komersial. Itu sudah jadi dagangan para produsen untuk mengambil moment penjualan besar-besaran. Kita boleh mengikutinya ataupun tidak, terserah.

Kembali ke campur aduk perasaan yang kusebut di awal, kesedihan mungkin muncul karena hari-hari yang kita lewati pada tahun sebelumnya banyak catatan duka. Sementara itu di sisi lain ada secercah harapan di tahun mendatang yang membuat kita senang. Sementara yang cemas mungkin ada rasa pesimis kondisi hidupnya akan tetap sama, misalnya tetap jomblo. Hehehe…

Yang jelas, seperti kesepakatan umum, mari kita jadikan setiap pergantian hari membuat kita lebih baik dalam segala hal. Semoga. Aamiin…

*paranoid, paranoia = penyakit jiwa yang membuat penderita berpikir aneh-aneh yang bersifat khayalan, seperti merasa dirinya orang besar atau terkenal; penyakit khayal (KBBI)

Sumber gambar: frankcianciulli