Virtual Run during Pandemic

Source: runnersworld.com

I wrote this post just after doing my second day run after a long break because of Covid-19 pandemic and some kind of lockdown policy by government since mid-March. Here in Indonesia we call this policy, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) or Large-Scaled Social Distancing. Actually we still can run during the lockdown time by implementing some protocols, but I decided to take a break.

I started to run again also because I have registered to a virtual run called Star Wars South East Asia Virtual Run. It is a multiple virtual run of 40 KM from 15 June to 30 September 2020. So the participants can run anywhere, anytime, and any distance then submit to the app. They use the LIV3LY app downloaded from the App store or Playstore. When we run we have to turn on the app so they will automatically record every run until we reach the total of 40 KM.

Just like in every virtual run, after we finish the run we will get the finisher medal or trophy. I was interested to join this run just because the finisher trophy. It is lovely crafted in Star Wars stormtrooper or Darth Vader figure. Actually I am not such a big fan of Star Wars, but who can resist to collect the trophy which celebrating 40 years of the movie.

Strava and LIV3LY app on my iPhone recorded about 4 KM run, just like what I am planning to. If I run about 4 KM each time so I just need 10 times of running. Not that hard for three months period (until 30 September).

There are a lot of virtual run like this Star Wars conducted by different organisers, especially during the pandemic, even much more. I already participated in many virtual run events since last year, my first run. I like to collect the medals and trophies.

Actually the virtual run misses some kind of the hype of the crowded when compared to the real run race. However, the virtual one is benefited during the lockdown time. Some races go to the virtual version to maintain the brand of the event in runners mind so when the situation is back to normal, the event still get the attention by runners. It happened to the new run race which is not so popular yet like Boston Marathon, Berlin Marathon or Tokyo Marathon.

Run happy and healthy, guys.

Mari Berlari (dari Kenyataan?)

Setelah finish dari Kediri Half Marathon

Sambungan dari tulisan sebelumnya.

Bermula dari BNI ITB Ultra Marathon saya akhirnya menjalani hobi baru: berlari. Bersama teman-teman alumni seangkatan kami berlatih rutin di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta setiap Kamis malam. Lari Kamisan kami menyebutnya. Kebetulan kami memiliki tempat yang dipakai sebagai base camp, yaitu kedai kopi milik teman kami, Kopi Soma di Aquatic Stadium.

Saya pun keterusan ikut beberapa run race seperti Jakarta Marathon, Superball, Pertamina Eco Run dan beberapa lomba lari virtual. Tentang lomba lari virtual ini saya akan bercerita dalam tulisan tersendiri, insya Allah. Tidak terasa, tidak kurang dari 20 medali lari telah saya kumpulkan dalam waktu sekitar enam bulan, baik dari lari nyata maupun maya, tetapi bukan lari dari kenyataan seperti yang sering disentilkan teman-teman ketika diajak lari. Hehehe…

Pencapaian tertinggi dalam lomba lari saya dalam hal jarak adalah Kediri Half Marathon pada 15 Maret 2020 lalu. Race ini kebetulan jadi race terakhir sebelum kehebohan pandemi Covid-19 mulai merebak di negeri ini. Sebetulnya telah diumumkan kasus pertama oleh Pak Presiden Jokowi pada 3 Maret, tetapi saat itu belum ada seruan PSBB di beberapa kota.

Lomba-lomba lari lain sebelum dan setelah tanggal 15 Maret atau bahkan yang bersamaan dengan Kediri HM ditunda atau dibatalkan. Alhamdulillah saya masih bisa merasakan berlari setengah marathon tersebut. Kediri HM ini adalah lari terjauh pertama saya dan acara pertama juga bagi Kabupaten Kediri. Ini jadi momen bersejarah buat saya karena Kediri adalah kampung istri saya.

Akhirnya saya dapat menyelesaikan lari dalam jarak sekitar 21 km dengan catatan waktu masih di bawah COT (Cut of Time). Padahal dalam latihan saya belum pernah sekali pun menempuh jarak tersebut. Sempat ragu juga saya akan mampu menyelesaikannya. Awalnya saya akan memperkirakan separuh jarak atau lebih, sekitar 12-13 km berlari dan sisanya berlari kecil atau jalan kalau memang benar-benar sudah tidak kuat.

Sampai kilometer 15 ternyata saya masih mampu bertahan hingga akhirnya kaki saya seperti mau kram jelang KM 16. Begitu saya mau berlari lagi, kaki ini seperti terasa berat dan kaku. Saya lihat beberapa pelari lain ada yang mengerang kesakitan di pinggir jalan karena kram. Saya tidak ingin mengalami seperti beberapa pelari yang saya lihat tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan saja dengan menahan kaki yang agak berat. Alhamdulillah, meskipun dengan terseok-seok saya sampai garis FINISH juga.

Setelah mencoba melakukan peregangan ringan pada paha dan betis kanan saya yang terasa kencang, perlahan rasa kaku dan berat tersebut menghilang. Ini sungguh jadi pengalaman yang tidak ternilai harganya. Hingga akhirnya hampir semua lomba lari ditunda atau bisa dikatakan dibatalkan dalam tiga bulan terakhir.

Saya hanya bisa berdoa semoga pandemi ini segera berlalu dan kita dapat melakukan aktivitas seperti biasa kembali. Aamiin.

Mari Berlari (tidak dari Kenyataan)

Salah satu Run Race di Monas Jakarta

Oh ya, saya belum cerita tentang hobi baru saya di sini, yang mulai tahun lalu aku lakukan. Apakah itu? Lari. Meskipun saat ini terhenti sejak kebijakan karantina dan PSBB di Jakarta terkait Covid-19, saya sungguh menyenangi hobi menyehatkan ini.

Bermula ketika ITB mengadakan Ultra Marathon, lomba lari sejauh 170-200km dari Jakarta ke Bandung sejak 2017. Kala pertama dan kedua diadakan saya hanya bagian support teman-teman seangkatan yang ikut lari. Waktu penyelenggaraan ketiga tahun 2019, seorang teman mengajak untuk ikutan lari. Tentu saja bukan lari single sejauh 200km, hanya dalam kelompok Relay 18 orang yang berarti masing-masing lari sekitar 10-13km.

Wow! Lari 10km? Satu atau dua kilometer saja tidak terbayangkan sebelumnya. Teman saya ini meyakinkan kalau saya pasti bisa, sementara saya masih ragu-ragu, apalagi pada usia sudah tidak muda lagi ini. Bayangannya sudah “engap” saja napas. Dengan bekal latihan pernapasan yoga selama ini, kata teman saya, saya pasti bisa berlari dengan baik.

Akhirnya saya bilang saya mau terima tantangannya, tetapi minta ditempatkan di etape yang datar. Untuk persiapan menuju event besar tersebut, tiga bulan sebelumnya saya latihan jogging di sekitar rumah. Benar, baru lari 500 meter saja sudah terengah-engah. Beberapa teman yang sudah lari sebelumnya meyakinkan lama-lama nanti akan terbiasa dan menemukan pola napas dan cara berlari yang sesuai dengan profil tubuh.

Lalu saya membekali dengan menyimak cara berlari yang benar di YouTube, saya terapkan dan memang beberapa kali latihan kemudian sudah kuat berlari sampai 1-2km tanpa henti. Jarak 5 km adalah target berikutnya dan dalam beberapa minggu akhirnya saya mampu berlari sejauh 5km dengan pace yang sedang saja.

Untuk menguji mental dalam lomba, saya memutuskan ikutan event lari sebelum menuju “The Big Day”. Acara run race pertama yang saya ikuti adalah Charity Run di Kebun Binatang Ragunan yang diadakan oleh Habitat Foundation. Saya mengambil jarak 5 km. Beberapa hari jelang acara lari tersebut sudah deg-degan saja. Bahkan malam sebelum race saya hampir tidak bisa tidur. Memang terdengar LEBAY… Hahaha harap maklum, ini yang pertama kali seumur-umur.

Hari perlombaan pun tiba. Pagi-pagi saya sudah menuju Ragunan menggunakan GoJek. Jadwal mulainya memang jam 6 pagi dan peserta sudah harus berkumpul di tempat sekitar jam 5 pagi. Ketika bendera Start dikibaskan dan semua peserta berlari, rasanya lega. Akhirnya ikutan bersama ribuan pelari menyusuri kandang-kandang binatang. Oleh karena memang tidak ada target, saya berlari sekuatnya saja. Kalau lagi kuat ya agak kencang, kalau sedang merasa tidak nyaman ya diperlambat. Dalam berlari saya pantang berjalan kaki karena pengalaman saya setelah berjalan kaki untuk memulainya akan terasa lebih berat. Jadi, saya jogging meskipun dengan kecepatan yang paling rendah sambil mengatur napas.

Akhirnya, finish juga di race pertama saya ini. Hadiah medali finisher cukup membahagiakan bagi pelari pemula ini. Dari race pertama ini mulai muncul semangat mengikuti race yang lain. Baru menyadari ternyata lomba-lomba lari jenis 10K-an ini banyak banget di Jakarta. Akhirnya saya ikut beberapa lomba lari yang 5K-an saja sebelum akhirnya tiba BNI ITB UltraMarathon (UM).

Rasa deg-degan ternyata masih ada jelang UM ini. Maklum ini akan jadi lari lebih dari 10K pertama saya, sebelumnya saya hanya ikut tiga kali lari 5K. Dan ini akan berlari estafet dengan teman-teman yang lain dalam satu grup. Saya kebagian lari sekitar 12km di dalam Perumahan Kota Baru Parahyangan, tiga etape sebelum finish di Kampus ITB.

Alhamdulillah, saya dan teman-teman dapat menyelesaikan lomba lari ini dengan selamat, tercapai target waktu yang diinginkan.

(Bersambung)