Sudahkah Saatnya Membuka Mall dan Pasar?

Beberapa hari ini orang mungkin sedang banyak membicarakan tentang new normal atau apa saja namanya. Titik kejenuhan setelah work from home atau PSBB ini mungkin sudah mencapai puncaknya. Sebagian orang ingin mendapat kabar perubahan atau kebijakan yang membuat bisa beraktivitas di luar rumah kembali.

Selama tiga bulan terakhir memang kondisi berbagai sektor kehidupan melambat atau bahkan berhenti, termasuk ekonomi. Beberapa komponen atau unit usaha mungkin menunjukkan kenaikan, seperti jasa kurir dan toko online di marketplace. Akan tetapi, volume profit dari unit-unit bisnis tersebut belum mampu mendongkrak bisnis atau ekonomi secara keseluruhan. Ecieee… sudah kayak pakar ekonomi saja ngomongnya. Hahaha…

Pemerintah baru-baru ini mulai mempertimbangkan untuk membuka kembali shopping mall atau pasar yang diharapkan akan menggeliatkan kembali perekonomian. Tentu saja, keputusan ini sebaiknya sudah melalui pertimbangan yang matang.

Beberapa pertimbangan mungkin termasuk pertumbuhan kasus covid-19 tidak signifikan lagi atau mulai dapat dikontrol antara jumlah kasus sembuh dengan kematian atau kasus baru. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah karakter warga dalam menghadapi pandemi ini. Perlu diingat bahwa pembukaan beberapa mall dan pasar ini bukanlah karena kondisi pandemi sudah berlalu atau membaik, tetapi lebih karena alasan ekonomi. Oleh karena itu, warga sebaiknya tetap harus berpikir ulang untuk pergi berbelanja. Penerapan protokol standar dalam mencegah pandemi harus tetap dijalankan dengan ketat dan sungguh.

Pemantauan penulis ke sebuah shopping mall di Depok kemarin menunjukkan bahwa pengelola mall sudah mulai menyediakan sebagian keperluan untuk “new normal” ini seperti prosedur check in di pintu masuk. Ada alat pengukur suhu dan hand sanitizer dan jarak untuk masuk juga diatur. Pengunjung juga wajib mengenakan masker. Penjagaan oleh security atau satpam yang lebih banyak untuk memantau pengunjung. Para petugas ini mengenakan masker dan face shield. Di beberapa tempat disediakan hand sanitizer, termasuk di toilet. Di urinoir pria juga dibuat jarak antar urinoir.

Beberapa toko mungkin diterapkan ganjil genap nomor toko yang buka, hal ini diharapkan agar jarak antartoko tidak menimbulkan kerumunan. Pembatasan jumlah pengunjung mungkin perlu juga dilakukan agar tidak menimbulkan over kapasitas di dalam mall yang menerapkan distancing yang telah ditetapkan seperti jarak minimal 2 meter, misalnya.

Segala upaya penerapan protokol yang dilakukan pihak mall sudah cukup bagus, tetapi harus diiringi juga oleh kesadaran pengunjung untuk menerapkan hal yang sama. Pengaturan pengunjung shopping mall mungkin relatif lebih mudah. Tidak demikian dengan pasar. Karakter pasar di negara kita yang cenderung kumuh atau crowded dan pengunjung dan penjual yang cenderung lalai akan jadi PR berat bagi pengelola dan pemerintah.

Sebetulnya upaya-upaya pemulihan ekonomi tersebut bisa saja dilakukan atau hanya sebagai uji coba. Perlu ada kajian seberapa besar dampaknya terhadap pertumbuhan kembali perekonomian, sekaligus pertimbangan keselamatan atau dampak penyebaran wabah agar tidak semakin meningkat. Sementara bagi kita sebagai warga sebaiknya tetap waspada. Kalau tidak terlalu penting atau genting keperluannya untuk pergi ke mall atau pasar sebaiknya tidak perlu dilakukan.

Kenikmatan jalan-jalan di mall seperti dulu juga belum dapat kita nikmati karena bioskop masih tutup, tidak semua resto memperbolehkan makan di tempat, hanya take away. Lagipula apa enaknya, jalan-jalan dengan teman dan kerabat misalnya harus berjarak minimal dua meter. Hahaha… Sabar ya, kita tunggu sampai situasi sudah normal kembali.

Tetap jaga kesehatan ya guys.

New Normal, Kebiasaan Baru dalam Tata Hidup?

Welcome to New Normal (Ilustrasi: free pics)

Sudah sekitar tiga bulan kita melakukan karantina mandiri terkait dengan pandemi Covid-19. Istilah WFH (work from home), hashtag dirumahaja, stayhome, belajardirumahaja mulai terbiasa di telinga kita. Protokol pencegahan wabah seperti sering cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, mengenakan masker ketika di tempat umum, menjaga jarak minimal dua meter dengan orang lain dan seterusnya juga telah kita terapkan.

Ketika awal Maret 2020 Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia lalu selanjutnya mulai bertambah dengan cepat, kecemasan, ketakutan dan berbagai perasaan semakin berkembang. Lalu diiringi dengan informasi hoax yang makin membuat situasi tidak menentu. Ada sebagian kelompok meminta segera dilakukan lockdown. Ini juga menambah kosakata baru dalam perbincangan kita. Lalu ada rapid test, swab dan beberapa istilah lain terkait dengan pandemi ini.

Beberapa wilayah menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang bisa saja diartikan sebagai lockdown namun tidak seketat dari arti sebenarnya. Hanya kantor, institusi, dan toko tertentu yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat yang boleh buka dan beroperasi. Para pekerja juga demikian. Praktis hampir semua bekerja di rumah.

Beberapa acara dan kegiatan yang rencananya diselenggarakan di tempat umum dan mendatangkan masyarakat pun ditunda atau dibatalkan. Pameran, seminar, konser, dan lomba di berbagai bidang mau tidak mau dipikirkan ulang jadwal dan cara penyelenggaraannya. Akhirnya, kita menemukan bentuk baru yang sebetulnya tidak baru juga, yaitu secara online atau daring (dalam jaringan). Muncullah webinar, bincang live dan seterusnya.

Aplikasi video conference mendadak laris manis diunduh banyak orang. Zoom seketika mencuat sebagai aplikasi baru yang dipakai sebagai sarana seminar, workshop, dan meeting, meskipun sebelumnya telah ada Skype, Facetime dan beberapa fitur lain dari aplikasi perpesanan. Seiring itu muncul rumor ketidakamanan Zoom untuk video sharing yang sejatinya seperti sebatas rumor atau upaya untuk saling menjatuhkan dari pihak lain. Oleh karena sebetulnya ketika kita menggunakan internet dalam aktivitas kita, kita sudah memaparkan diri ke dunia maya dengan segala kemungkinan.

Instagram Live, Facebook Live juga jadi lebih ramai dari sebelumnya. Banyak acara bincang-bincang dilakukan, baik oleh para pesohor maupun khalayak umum. Berbagai tema dan bentuk diangkat dalam perbincangan tersebut. Latihan-latihan yang sebelumnya dilakukan secara bertemu langsung juga banyak dilakukan secara Live ini. Misalnya latihan yoga bersama, latihan menggambar, latihan masak dan lain-lain. Ada sebagian yang gratis, yang berbayar atau sistem donasi pun banyak.

Setelah melalui itu semua dalam beberapa bulan terakhir, lalu muncul istilah New Normal atau kenormalan baru. Apa pun istilahnya atau namanya, mau tidak mau setelah semua ini terlewati dengan kondisi di depan yang tidak pernah kita tahu akan ada hal-hal baru yang kita lakukan. Akan tetapi, bukankah setiap hari kita mengalami hal baru begitu bangun tidur dan menjalani kehidupan. Bedanya, mungkin kali ini kita semua menghadapi sesuatu yang relatif besar secara bersama-sama.

Menurut saya New Normal atau apalah namanya hanya sebagai penanda yang bisa dikatakan bisa dipakai atau pun ditiadakan. Tidak terlalu penting ada atau tidak nama dari moment hidup yang mungkin akan terasa besar bagi kita semua karena masyarakat secara global mengalaminya. Intinya, istilahnya tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah perubahan sikap kita dalam beberapa hal.

Kenormalan baru, tatanan baru, kebiasaan baru memang akan selalu terjadi selama hidup masih bergulir. Manusia dikarunia kemampuan beradaptasi, mempertahankan diri, dan berimprovisasi serta berkreasi. Dengan bekal itu pulalah secara individu maupun bersama-sama kita akan berusaha menjadi manusia lebih baik dari waktu ke waktu.

Ada upaya, lalu ikhlas, dan bersyukur. Tiga kata tersebut yang akan menuntun kita menuju BAHAGIA.