SuperDidi: Menghibur dan Bermakna

SuperDidi-Featured-630x350
SuperDidi: Ketika Didi harus menggantikan peran Muti

Ah!kamu sudah siap jadi ayah super, belum? Mengasuh dan mendidik anak-anak adalah tanggung jawab kedua orang tua, baik ayah maupun ibu. Bukan semata kewajiban ibu, tetapi ayah juga memiliki peran yang sama. Film keluarga terbaru bertajuk SuperDidi ini ingin menyampaikan pesan mulia tersebut melalui potret keluarga modern dengan dua anak yang masih kecil.

Kisah SuperDidi ini bermula dari pasangan keluarga muda masa kini, Arka (Vino G. Bastian) dan Wina (Karina Nadila) dengan kedua putrinya, Anjani (Anjanique Reney) dan Velia (Aviela Reyna) yang masih balita. Layaknya keluarga modern mereka menjalani aktivitas harian khas ibukota dengan kesibukan masing-masing di tengah mengasuh dan mendidik anak.

Permasalahan muncul ketika Arka yang arsitek diserahi amanah memegang proyek pembangunan bernilai trilyunan pada saat sang istri Wina harus pergi ke Hongkong. Kepergian Wina ini karena ia harus membantu menyelesaikan konflik keluarga sahabatnya, Meisya. Alasan kepergian Wina sebetulnya tidak terlalu kuat apabila tidak mengingat Meisya adalah sahabat dekat keluarga mereka yang juga telah mencomblangi perjodohan Arka dan Wina.

Pendeknya situasi telah membuat Wina harus membantu menyelesaikan konflik Meisya dan suaminya Kei yang ceritanya sudah di ujung tanduk menuju perceraian. Tentu saja, tugas pengasuhan kedua anak mereka yang selama ini ditangani Wina dialihkan ke Arka yang belum pernah banyak terlibat secara langsung. Daftar tugas antar jemput Anjani dan Velia ke sekolah, les balet, les musik dan seterusnya ternyata dirasakan oleh Arka melebihi beban kerjanya sendiri sebagai arsitek.

Situasi frustrasi dan kocak Arka menghadapi kedua putrinya sehari-hari inilah mewarnai hampir sepanjang film. Hadirnya ibu-ibu centil, rese dan bawel di sekolah Anjani dan Velia turut memperkeruh suasana. Kecanggungan Arka menghadapi dunia perempuan kecil seperti mengepang rambut, nonton film kegemaran Frozen, taksir-taksiran ala anak TK menjadi tontonan komedi yang membuat ketawa. Ternyata Arka tidak sendiri menghadapi situasi seperti ini. Ia menemukan komunitas ayah-ayah yang menghadapi kondisi yang sama dengannya. Mereka menamakan diri Pembajak (Perhimpunan Bapak Jaga Anak).

Sementara itu tugas kantor Arka sebagai kepala proyek mau tidak mau terbengkalai karena mengurus keperluan kedua anaknya saja kocak-kacir. Mampukah Arka yang dipanggi anak-anaknya Didi ini menggantikan peran Muti, sang ibu dalam dua minggu kepergiannya? Dalam situasi pontang-panting inilah Arka menemukan pelajaran tak ternilai harganya. Nilai proyek trilyunan tidak ada artinya jika anak-anak kita berantakan.

Film produksi Muti Didi Film yang disutradarai Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayl Yurahma serta diproduseri Reymund Levy ini secara menarik mengajak kita kembali ke nilai-nilai keluarga secara hakiki. Penghargaan tugas masing-masing antara ayah dan ibu dalam sebuah rumah tangga sangatlah diperlukan. Penyelesaian konflik rumah tangga sebaiknya juga diselesaikan di antara mereka sendiri, bukan dari pihak luar yang kadang tidak memahami sepenuhnya masalah mereka.

Di tengah banjirnya film bergenre komedi dewasa, horor dan penuh kekerasan film yang juga dibintangi oleh Mathias Muchus, Ira Maya Sopha dan deretan artis kondang lain ini aman ditonton keluarga. Menghibur sekaligus menyampaikan pesan yang dalam.

Talak 3: Film Sitkom yang Lengkap

Foto-Set-Film-Talak-Tiga
Tiga tokoh sentral ini berperan asyik di film Talak 3. (Sumber: seleb.co.id)

Ah!kamu nonton deh film ini. Sejak awal Februari 2016 film Talak 3 dapat kita nikmati di bioskop. Film yang disutradarai oleh Ismail Basbeth dan Hanung Bramantyo ini dijamin akan membuat kamu ngakak sekaligus terharu biru. Ini adalah ramuan film sit-com atau komedi situasi yang lengkap.

Lengkap gimana? Komedinya gak lebay dan gak garing. Pemerannya juga bermain wajar dan asyik. Nama Vino G. Bastian dan Reza Rahadian layak jadi jaminan kualitas akting. Ditambah Laudya Cintha Bella yang mampu mengimbangi permainan kedua aktor ini. Jalinan dan alur cerita juga mengalir lancar dan masih masuk akal, masih wajar meskipun terkadang tidak terduga.

Film dibuka dengan adegan Bagas (Vino G. Bastian) yang ngebut naik ojek berniat rujuk kembali dengan istrinya, Risa (Laudya Cintha Bella) yang telah ia talak tiga. Adegan pembuka yang kocak ini berlanjut ke adegan kocak lainnya di sepanjang film. Kondisi talak tiga pasutri ini diikuti dengan kebangkrutan mereka secara finansial. Hal itu memaksa mereka untuk mengambil proyek bernilai besar yang mengharuskan mereka rujuk kembali.

Dalam Islam pasutri yang berada dalam kondisi talak 3 jika ingin nikah kembali, sang istri harus dinikahi dulu oleh lelaki lain lalu diceraikan lagi. Syarat yang menurut mereka agak aneh ini memaksa mereka mencari cara dalam waktu secepatnya mengejar target proyek yang akan dikerjakan. Mereka terpaksa memakai cara-cara “belakang” yang dibantu oleh pejabat KUA, Jonur dan Hasmi. Upaya nakal kedua pejabat itu terhambat oleh pegawai baru, Basuki, yang jujur dan anti korupsi.

Setelah upaya-upaya curang ini selalu mengalami kegagalan, tiba-tiba mereka menemukan sosok yang cocok dijadikan suami kontrak bagi Risa, yakni sahabat pasutri ini sendiri, Bimo (Reza Rahadian). Akan berjalan lancarkah rencana mereka untuk rujuk kembali? Sandungan dan masalah ternyata masih belum berhenti menghalangi mereka, justru makin meruncing. Di sinilah kekocakan bercampur aduk dengan keharuan mewarnai separuh akhir film.

Selain adegan kocak, seperti ciri khasnya Hanung juga menampilkan angle gambar-gambar indah di film yang berlokasi di Yogyakarta ini. Lagu-lagu yang menjadi soundtrack film yang skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan Bagus Bramanti ini terasa pas membawa suasana. Kehadiran komedian Cak Lontong, Marwoto, Dodit Mulyanto, dan Hasmi Gundala cukup menyegarkan. Hadirnya seniman Hasmi yang terkenal dengan komiknya Gundala Putra Petir jadi gimmick tersendiri. Kalau kamu jeli, setiap scene yang menampilkan Hasmi selalu ada gambar tokoh superhero lokal karyanya tersebut.

Di tengah banyaknya film Indonesia bertema horor dan komedi slapstik, film Talak 3 ini menjadi tontonan yang segar dan tidak norak. *Wajib Tonton*