Essential Oil Itu Penting

Sebelumnya saya tidak terlalu menganggap perlu kehadiran essential oil (EO) atau minyak atsiri untuk kebutuhan kesehatan sehari-hari. Saya masih ingat beberapa tahun silam saat salah satu merek essential oil yang sedang booming masuk ke Indonesia. Ada keinginan juga mencobanya, tetapi kendala harga yang mahal akhirnya saya mengurungkan niat.

Akhirnya untuk mengobati kekecewaan saya mencoba beli EO di lokapasar daring seharga sekitar Rp50.000-Rp75.000. Beberapa varian saya coba, peppermint, lemongrass, patchoulli, hingga sandalwood, tetapi saya tidak menemukan hasil yang berpengaruh signifikan terhadap beberapa gejala ringan penyakit sehari-hari. Saat saya pasang di diffuser (alat untuk menguapkan aroma EO) pun tidak terlalu memunculkan aroma seperti yang saya harapkan.

Saat itu saya berkesimpulan EO hanya trend sesaat yang berlaku pada orang-orang. Tetapi, saat itu saya juga memahami mungkin EO yang saya beli kadar kandungannya sangat rendah atau proses pembuatannya juga asal-asalan. Maklum harganya juga termasuk murah.

Keinginan untuk menggunakan EO sebagai pertolongan pertama untuk mencegah penyakit atau meredakan gangguan kesehatan sehari-hari saya hentikan. Hingga akhirnya saya menemukan EO dari Essenzo melalui perkenalan produk saat mengikuti pelatihan bisnis digital atau online. Essenzo adalah produk yang dapat kita pasarkan setelah mengikuti pembelajaran bisnis dengan model kekinian tersebut.

Saya beli beberapa EO dan produk kesehatan lain dari Essenzo, termasuk madu. Nanti saya akan cerita tentang beberapa varian madu produk Essenzo. Harga EO Essenzo ini jauh lebih murah dibandingkan EO keluaran merek yang sudah ternama sebelumnya. Apalagi saat itu ada promo: Buy 1 Get 2. Ada beberapa varian EO keluaran Essenzo yang pertama kali saya coba beli, di antaranya peppermint, tea tree, dan citronella. Saat mencium pertama kali, saya sudah bisa merasakan perbedaan dengan EO yang pernah saya beli sebelumnya.

Saat saya mengalami masalah seperti hidung mampet, gejala flu, dan perut kembung saya hirup EO peppermint. Alhamdulillah, secara perlahan gejala tersebut mereda hingga akhirnya hilang. Mulailah saat itu hampir tiap hari saat beryoga atau menjelang tidur saya menyalakan diffuser dengan berbagai aroma sesuai kebutuhan. Latihan yoga saya pun jadi lebih terasa mengena dan tidur pun pulas.

Saya semakin penasaran mengapa minyak dalam botol-botol kecil itu mampu meredakan berbagai gejala penyakit sehari-hari yang saya hadapi. Sebagai orang yang hidup pada era Internet, Google tentu saja jadi andalan guna menemukan jawaban atas rasa ingin tahu. Sebetulnya secara sambil lalu dulu saya juga sudah pernah dengar cerita atau penjelasan tentang manfaat EO ini. Akan tetapi, setelah mengalami sendiri secara nyata, saya mulai mencari penjelasan yang lebih rinci.

Setelah membaca beberapa referensi, di antara link yang ada di bagian akhir tulisan ini, saya mulai percaya penggunaan EO untuk mengurangi atau bahkan menyembuhkan beberapa keluhan gejala penyakit baik yang ringan hingga agak berat. Aromaterapi telah digunakan berabad-abad oleh nenek moyang kita untuk penyembuhan penyakit. Secara ilmiah pun dapat dijelaskan dan telah diteliti bahwa aromaterapi dapat memberikan dampak baik terhadap kesehatan tubuh kita, bahkan menjaga imunitas terhadap beberapa penyakit.

Apabila Anda tertarik untuk mencoba EO keluaran Essenzo, silakan klik link berikut atau hubungi WA berikut.

INFO tentang Essenzo

Terima kasih. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Referensi:

Johns Hopkins Medicine

8 Mitos Salah tentang Yoga

Fitness yoga man in cobra pose stretching abs
Yoga menjadi salah satu latihan olah tubuh yang sangat bermanfaat. (Sumber: healthwaysfit)

Yoga dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu latihan yang banyak dilakukan orang. Studio dan sanggar senam serta gym atau fitness center saat ini sudah banyak yang memasukkan yoga sebagai salah satu kelas andalan. Seiring maraknya yoga, mitos tidak benar tentang yoga masih banyak beredar sehingga membuat sebagian orang enggan berlatih yoga.

Baru-baru ini Yoga Journal, sebuah publikasi khusus tentang yoga, membahas tentang 8 mitos tersebut.

Mitos 1: Harus Bertubuh Lentur untuk Latihan Yoga

Sebagian orang beranggapan bahwa orang yang memiliki tubuh kaku tidak dapat melakukan yoga, yang ada akan kesakitan dan cedera. Mitos ini sungguh tidak benar. Tubuh sekaku apa pun dengan berlatih yoga dengan benar sesuai porsinya akan membentuk tubuh menjadi lebih lentur dan, tentu saja, lebih sehat. Secara perlahan dan bertahap dengan latihan yoga postur tubuh kita mendekati yang semestinya sehingga kita akan mendapatkan rasa nyaman dalam beraktivitas. Mungkin saat-saat awal berlatih yoga kita akan merasa kesakitan keesokan harinya, tetapi bukannya semua latihan olah tubuh memiliki efek seperti itu. Kuncinya berlatihlah secara teratur, benar dan tidak memaksakan diri.

Mitos 2: Perlu Diet, Bentuk Tubuh, dan Pakaian Khusus

Untuk memulai latihan yoga tidak ada prasyarat khusus, baik makanan, tubuh ataupun pakaian dan peralatan. Kita dapat memulai kapan saja, hampir tanpa persiapan khusus pun kita dapat memulainya. Ikutlah kelas-kelas yoga dengan guru yang terlatih. Tidak ada pakaian khusus yoga, bahkan kita tidak perlu sepatu atau alas kaki, cukup kenakan pakaian yang nyaman untuk bergerak, jika tidak ada matras gunakan alas apa saja yang tidak terlalu keras dan tidak licin.

Mitos 3: Yoga itu Terkait dengan Agama Tertentu

Yoga bukanlah agama. Mungkin asal mulanya dilakukan oleh kelompok orang beragama tertentu, tetapi yoga sendiri sebetulnya bukanlah agama dan bukan hal yang relijius. Mungkin ada sebagian orang yang mempraktikkan yoga secara relijius, tetapi tidak ada dogma-dogma atau ajaran yang mewajibkan kita melakukan ritual tersebut seperti mereka. Kita dapat mengambil latihan yoga ini sebagai olah tubuh yang menyehatkan. Mungkin ada kegiatan meditasi dan pernapasan dalam berlatih yoga tetapi tidak mewajibkan kita berdoa atau mengucapkan mantra dari agama tertentu.

Mitos 4: Yoga Hanya untuk Relaksasi

Hal ini sering kita dengar. Yoga hanya duduk atau tiduran sambil melemaskan tubuh. Akan tetapi, sebetulnya yoga memerlukan disiplin latihan agar tercapai tujuan kesehatan baik jasmani dan rohani seperti yang kita harapkan. Ada serangkaian pose dan gerakan yang kita lakukan yang membuat kita berkeringat, bahkan bisa bercucuran keringat yang banyak dibandingkan latihan fisik lain yang pernah kita lakukan. Yoga akan menguatkan otot-otot dan memperbaiki postur kita yang selama ini tidak benar.

Mitos 5: Yoga Hanya untuk Perempuan

Sejauh ini memang banyak perempuan yang mengikuti kelas yoga, tetapi sebetulnya yoga tidak mengenal gender seperti halnya dengan jenis olah tubuh lain. Justru para pria umumnya akan mampu mengikuti pose dan gerakan tertentu yang memerlukan kekuatan dan stamina tinggi. Stephanie Snyder, seorang guru yoga terkenal, mengatakan pada awalnya kelas yoga vinyasa hanya diikuti oleh 20% pria tetapi kini di kelasnya ada sekitar 40% pria dan umumnya mereka mampu melakukan latihan dengan sangat baik dan memperoleh hasil yang baik pula dengan tubuh dan kesehatannya. Kita ketahui beberapa atlet dan selebriti pria juga banyak yang melakukan yoga misalnya Adam Levine, Shaq O’Neil, Robert Downey Jr, Sting, dan beberapa yang lain.

Mitos 6: Terlalu Sibuk untuk Yoga

Alasan ini sungguh sangat dibuat-buat. Kemalasan berolah raga adalah halangan terbesar untuk berlatih, juga untuk olah raga lain. Saat ini ada banyak DVD, saluran YouTube dengan durasi 10 menit hingga 2 jam untuk berlatih yoga sendiri di rumah.

Mitos 7: Sudah Tidak Muda Lagi untuk Berlatih Yoga

Banyak orang memulai latihan yoga di usia 40-an, 50-an, bahkan 60-an. Tidak ada kata terlambat untuk berlatih yoga, semakin cepat memutuskan berlatih semakin baik. Selain memperoleh manfaat kesahatan jasmani dan rohani, efek sosialisasi dan berkomunitas juga akan membuat kita merasa lebih sehat dalam pergaulan.

Mitos 8: Saya Cedera, Tidak Bisa Beryoga

Justru banyak orang yang cedera, entah karena kecelakaan atau setelah melakukan latihan olah tubuh lain, berlatih yoga sebagai proses penyembuhan dan rehab. Sifat yoga yang bertahap dan sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri ini akan sangat bagus sebagai bentuk latihan penyembuhan.

Yoga: Olah Tubuh, Pikiran dan Jiwa

yoga-class
Yoga melatih raga, pernapasan dan jiwa. Sumber gambar: wnyc.org

Ah!kamu olah raga dong. Dalam beberapa tahun terakhir saya rutin latihan yoga di sebuah pusat kebugaran atau fitness centre (gym) dan sesekali bergabung latihan dalam komunitas. Awalnya saya hanya mencoba-coba ikut beberapa kelas yang diselenggarakan oleh gym tersebut. Di antara beberapa kelas yang pernah saya ikuti adalah Body Combat, Body Pump, Body Jam, Body Balance, Pilates, dan beberapa yang lain.

Setelah mengikuti beberapa kelas tersebut saya menemukan beberapa kelas yang saya rasakan cocok dengan kondisi tubuh dan usia saya, salah satunya kelas yoga. Persepsi saya terhadap yoga pertama kali mungkin sama dengan sebagian besar orang yang belum pernah mengenal atau mengikuti latihan yoga. Yoga lebih banyak latihan pernapasan atau lebih jauh lagi melakukan meditasi dengan gerakan-gerakan statis. Bahkan ada teman gym saya yang beranggapan kalau latihan yoga bakal ketiduran, gak ada tantangan. Yakin?  🙂

Ternyata eh ternyata, perkiraan saya dan teman saya (tentu saja) itu salah, meskipun tidak sepenuhnya salah. Memang pernapasan dan meditasi menjadi salah satu bagian dari latihan yoga. Akan tetapi, yoga yang saya ikuti di gym ini lebih banyak berupa latihan yang menyelaraskan antara gerak raga, pernapasan, dan pikiran, atau kalau mau dilanjutkan bisa ke jiwa. Dengan melakukan serangkaian gerakan yang telah didesain oleh sang instruktur kita melakukan pose-pose yang lumayan menguras tenaga.

Sudah pasti latihan yoga ini akan membuat keringat bercucuran dan kalori dalam tubuh terbakar. Aliran darah jadi lancar dan napas pun teratur. Efek pertama dan paling gampang saya rasakan setelah berlatih yoga beberapa kali adalah berkurangnya frekuensi pergi ke tukang pijat. Hehehe… Gerakan peragangan otot yang dilakukan dalam pose-pose atau asana yoga ini sungguh bisa menjadi terapi bagi tubuh kita.

Postur tubuh pun mulai terasa kembali mendekati yang semestinya. Sayangnya saya mengenal latihan yoga di usia yang sudah tidak muda lagi. Postur tubuh sudah mulai tidak benar. Akan tetapi, tidak pernah ada kata terlambat kan. Meskipun postur tubuh selama ini salah karena kebiasaan, setidaknya masih dapat kita sadari untuk kembali ke postur yang lebih baik.

Pikiran dan jiwa pun kembali menjadi tenang setelah berlatih yoga. Di awal dan akhir latihan sang instruktur biasanya mengajak kita untuk menyadari kontrol terhadap pernapasan dan tubuh kita, melepaskan semua ketegangan pikiran dan jiwa setelah menjalani aktivitas seharian. Hal ini bisa kita lanjutkan sendiri, baik saat berlatih atau sedang menghadapi kehidupan. Emosi pun jadi terkendali.

Mungkin banyak orang menganggap latihan yoga ini adalah bagian dari ritual keagamaan tertentu atau bahkan ada yang mengharamkannya. Memang mungkin pada awalnya yoga ini dipraktikkan oleh pemuka agama atau kelompok religius tertentu, tetapi dalam perkembangannya yoga menjadi olah tubuh dan jiwa yang bermanfaat bagi kesehatan. Bukankah olah raga lain ada juga yang awalnya dilakukan oleh kelompok religius tertentu.

Jenis yoga tertentu mungkin saja masih menempelkan ritual atau mantra agama. Akan tetapi, saya memilih yoga yang hanya merupakan olah tubuh yang menyelaraskan raga, pikiran, dan jiwa demi kesehatan menyeluruh. Dan misalnya ketika ber-“meditasi” pun kita masih bisa tetap menyebut dan mengagungkan asma Allah sesuai keyakinan kita. Dengan demikian, kita dapat selalu bersyukur atas nikmat kesehatan yang telah dianugerahkan pada kita.

Lain kali kita sambung lagi ya dengan belajar sedikit sejarah dan pose-pose yoga yang ciamik. 🙂