Cerita di Balik Reward Emas

Saya bergabung dengan ABDi – Essenzo sekitar lima bulan lalu. Awalnya saat akan join saya agak pesimis bahkan sedikit curiga. Saya kira Essenzo ini seperti program direct selling yang lain, susah untuk jual produknya dan sulit untuk mendapatkan penghasilan apalagi bonus dan reward, kecuali sudah memiliki jaringan yang banyak.

Akan tetapi, saat memutuskan join dan hari pertama masuk ke Dashboard keanggotaan serta menonton video penjelasan bisnisnya saya mulai percaya diri. Saya yakin saya bisa melakukan, apalagi di Dashboard tersebut banyak berisi video tutorial untuk memulai, dilengkapi dengan perangkat promosinya. Lalu saya mengikuti webinar-webinar yang diselenggarakan. Dengan membayar Rp100.000 mendapatkan semua fasilitas bimbingan bisnis online, ini sungguh harga yang keterlaluan‚Ķ murahnya. ūüėÄ

Kemudian saya mencoba produknya mulai dari madu, essential oil, propolis yang memang berkualitas baik dan berguna untuk menjaga kesehatan kita. Kepedean saya semakin bertambah karena saya yakin banyak orang yang akan menyukai produknya, dengan standar harga yang reasonable alias sepadan dengan mutu dan manfaatnya.

Setelah saya mengikuti semua program yang dianjurkan, tidak ada yang sulit. Yang kita butuhkan hanyalah mengubah mindset kita dan konsistensi. Alhamdulillah terbukti saya memperoleh penghasilan pada bulan pertama join dan terus bertumbuh dari bulan ke bulan. Semua ini karena sistem kemitraan kita dengan Essenzo adalah murni reseller, bukan MLM. Kita langsung mendapatkan profit begitu ada penjualan, berapa pun nilainya. Tidak harus mencapai target minimal dulu untuk dapat profit, tidak ada yang namanya tutup poin seperti umumnya di MLM.

Kita juga tidak dipusingkan dengan urusan pengiriman barang, semua dilakukan oleh Essenzo. Tidak ada pembelian stock juga. Jadi, bisa dikatakan tanpa modal, hanya membayar Rp100.000 sekali berlaku selamanya dan itu pun sebetulnya untuk mengikuti bimbingan bisnis online terus-menerus selamanya. Kita selalu dapat update ilmu dan jurus terbaru dalam berpromosi secara online. Dan ilmunya bisa kita terapkan untuk bisnis atau aktivitas kita yang lain.

Mudahnya mendapat reward di bisnis ini juga terbukti dengan hasil emas pada Januari lalu. Ini adalah challenge yang sungguh tidak terduga yang dapat kami raih. Reward di Essenzo bersifat semua akan mampu mendapatkan, bukan undian atau target tinggi yang sulit diraih. Asalkan kita konsisten menjalankan program marketing yang dianjurkan dan itu sebetulnya sangat mudah dilakukan jika kita punya niat dan kemauan.

Bisnis ini sangat layak sebagai kerja sampingan karena tidak banyak menyita waktu kita atau sebagai persiapan mengisi masa pensiun bila memang kita masih perlu untuk melakukan aktivitas ringan tapi dapat menghasilkan.

Untuk bergabung bersama ABDi – Essenzo silakan klik link berikut:

Bergabung ABDi – Essenzo

Perlunya Mengubah Mindset di Bisnis Online

Saat memulai bisnis secara daring atau online, memang pertama kali harus membuka mindset bahwa ini adalah hal baru, terutama bagi kaum kolonial. Hehehe… Berbeda dengan generasi milenial yang sudah menerima atau mengadopsi hal ini sejak awal mereka hidup.

Prinsip bisnis secara mendasar memang tidak banyak berubah, tetapi perangkat promosi yang digunakan bisa saja membuat ‚Äúkaum lama‚ÄĚ tergagap. Akan tetapi, begitu kita mampu mengubah mindset mengikuti era yang sedang berlaku, justru banyak kemudahan yang akan kita dapatkan.

Banyak yang tidak percaya dengan hanya melakukan hal-hal sederhana seperti ‚Äúmain-main‚ÄĚ ternyata bisa menghasilkan. Kekuatan dunia online memang tidak pernah terduga dan dahsyat dampaknya. Begitu kita menemukan cara yang tepat untuk memasarkan produk atau jasa kita, efek pertumbuhan berlipat dalam waktu cepat niscaya dapat kita raih. Yang kita namakan aset digital pun kita dapatkan dengan mudah. Aset digital inilah yang akan jadi kekuatan kita mau ‚Äúngapain aja‚ÄĚ ibaratnya.

Yang dibutuhkan hanya cara yang tepat dan konsisten menjalankannya. Modal? Semua bisa dilakukan dengan modal kecil, bahkan nyaris gratis. Saat ini kita tidak perlu membuka toko fisik berbiaya tinggi, perangkat iklan atau promosi bisa kita dapatkan dengan mudah dan murah, bahkan sekali lagi, gratis.

Lalu, bagaimana memulainya? Silakan bergabung dengan Akademi Bisnis Digital (ABDi). Hanya dengan pendaftaran Rp100.000 sekali saja, kita akan mendapatkan ilmu marketing online yang tak ternilai harganya. Akan tetapi, saya ingatkan. Kita perlu membuka mindset kita, membiasakan dengan hal-hal baru yang akan membuat kita awalnya bertanya-tanya: ‚ÄúMemang bisa hanya dengan begitu saja?‚ÄĚ

Yakinlah.

Hubungi WA: ‚Ä™+62 838‚ÄĎ2122‚ÄĎ8834‚Ĩ untuk info selengkapnya.

Selamat Datang di Dunia Digital

(Sebetulnya sudah agak terlambat untuk kasih ucapan seperti di judul itu, tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulai hal baru)

Zaman sekarang itu serbamudah kalau kata saya. Beneran, ini dari pengalaman saya yang memulai bisnis online dalam hitungan bulan, tepatnya empat lima bulan terakhir.

Ya, ini saya bicara tentang Essenzo yang didukung sama Akademi Bisnis Digital (ABDi). Saya hanya modal seratus ribu untuk daftar bimbingan belajar dan pelatihan, sekali saja untuk selamanya. Saya awalnya juga berpikir apa sih yang bisa dilakukan dengan bisnis bermodal retjeh begini. Pasti main-main doang.

Saya ikuti step by step melalui video yang dibagikan sebagai salah satu fasilitas. Lalu ikut live webinar mereka melalui YouTube, Instagram dan Zoom. Pokoknya saya ikuti saja arahan dan tutorial mereka. Dan bulan pertama langsung menampakkan hasil dan terus bertambah setiap bulan dengan kecepatan yang tidak pernah saya duga.

Memang benar, untuk memulai bisnis online itu harus mengubah mindset. Hal kecil yang kita lakukan secara rutin dan konsisten bisa berdampak besar. Coba lihat apa yang dilakukan para Youtuber dan vlogger yang hanya dengan ‚Äúmain-main‚ÄĚ bisa menghasilkan lebih banyak dari orang kerja rutin 9to5.

Saya juga tidak membayangkan bisa jualan dengan omset… yah masih receh sih, belasan juta. Tapi, itu saya lakukan hanya dari rumah dan terkesan ‚Äúmain-main‚ÄĚ di waktu senggang. Reward peraih emas di bulan ketiga saya gabung, punya jaringan puluhan reseller yang kalau di dunia nyata kayak punya toko atau kios beberapa cabang ibaratnya.

Oh ya, Essenzo bukan MLM. Ini seperti reseller atau dropshipper biasa. Kita langsung dapat untung dari penjualan, tanpa nunggu minimal penjualan atau tutup poin, tidak perlu stock juga. Untuk para pensiunan dan orang yang ingin mendapatkan tambahan penghasilan di waktu luang sangat cocok, apalagi kalau mau diseriusin.

Ilmu yang didapat dari ABDi yang selalu update dengan video, live webinar juga bermanfaat. Tidak hanya untuk Essenzo, tetapi untuk aktivitas dan kegiatan kita yang lain juga. Guru yoga yang punya jadwal ngajar rutin misalnya, punya produk dan jasa lain yang perlu dipasarkan, ilmunya sangat bisa diterapkan. Saat ini punya aset digital itu sangat perlu dan penting untuk keberlangsungan usaha kita. Dan itu yang saya dapat dari bimbingan dan pelatihan di ABDi.

Ya, kita hanya memerlukan handphone untuk kontrol bisnis kita. Semudah itu.

Silakan klik link berikut untuk info tentang Akademi Bisnis Digital (ABDi)

Akademi Bisnis Digital – Essenzo

Hai Pengusaha Taksi, Beradaptasi dan Berinovasilah

apps-mobile-smartphone-ss-1920-800x450
Bisnis berbasis aplikasi sudah jadi keniscayaan. Sumber: searchengineland

Ah!kamu norak banget. Kejadian demonstrasi anarkistis sopir taksi hari ini di Jakarta sungguh memprihatinkan dan menunjukkan betapa cupet-nya pikiran orang-orang di balik demo tersebut. Perkembangan teknologi saat ini sungguh berlari kencang merambah ke banyak sektor, termasuk transportasi.

Sebetulnya sebelum terjadi kasus katakanlah sebagai taksi online vs konvensional ini, industri musik, buku dan advertising telah mengalami terlebih dahulu. Sebagai contoh, penjualan musik digital secara online melalui iTunes milik Apple telah melibas toko musik konvensional yang menjual kaset dan CD. Lalu hadirnya ebook yang juga dijual secara online, juga hadirnya toko online semacam Amazon telah merebut pangsa pasar toko buku konvensional.

Di sektor advertising atau periklanan, para agency juga menghadapi konsep iklan pay per click atau pay per view yang berbiaya jauh lebih murah. Pengiklan hanya akan membayar jika iklannya ditonton atau di-klik tautannya oleh pengguna internet. Berbeda dengan masa sebelumnya para agensi iklan menangguk keuntungan besar dengan pemasangan iklan di majalah, koran dan televisi, tidak peduli iklan itu terbaca, ditonton atau tidak.

Lalu apa yang dilakukan penggiat industri musik, buku dan periklanan? Apakah mereka melakukan demo? Turun ke jalan menuntut penutupan iTunes store, Amazon, atau Google dan Facebook yang berperan sebagai agen iklan konsep baru ini? Tidak tuh. Mungkin pada awalnya sebagian dari mereka mengeluhkan bentuk-bentuk dan model baru produk dan sistem penjualannya, tetapi langkah-langkah yang mereka ambil sungguh menjadi teladan yang baik bagi pengusaha taksi di negeri ini.

Penerbit musik dan buku beradaptasi dengan juga membuat musik digital dan ebook sebagai salah satu bentuk baru dari produk mereka. Toko buku dan toko musik juga mulai membuka toko online dan juga membuat aplikasi untuk smartphone agar menjangkau dan memenuhi kebutuhan konsumen baru mereka.

Agensi iklan juga mencari dan mengikuti bentuk iklan baru agar masih bisa survive di bisnis mereka. Regulasi terhadap produk dan cara penjualan baru ini di negara kita juga belum sepenuhnya memenuhi dan memuaskan keinginan pelaku bisnis di sektor musik, buku dan periklanan. Memang menjadi PR dan tantangan pemerintah dan pembuat regulasi untuk mengejar lari superkencang teknologi informasi agar bisa membuat peraturan yang benar-benar menjadi tata kelola yang baik bagi bisnis berbasis internet ini, tanpa merugikan cara-cara lama.

Perubahan adalah keniscayaan. Jargon ini sudah sering kita baca dan dengar dan kini saatnya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tuntutan stop atau tutup industri kreatif berbasis internet seperti Uber, Grab, GoJek hanya membuat kita terlihat naif dan cupet tadi. Cupet di sini bisa diartikan sebagai orang yang sudah putus asa dan tidak mau berinovasi serta mentok pada cara-cara lama. Dengan menutup aplikasi yang dirasakan manfaatnya bagi sebagian besar konsumen ini justru akan menyulitkan pembuat regulasi menyusun peraturan yang benar-benar akan memenuhi kebutuhan. Biarlah syarat minimal dari undang-undang atau regulasi yang ada dipenuhi oleh bentuk industri baru ini lalu sambil berjalan dilakukan evaluasi dan perbaikan.

Sekali lagi, tuntutan penutupan aplikasi berbasis internet ini menunjukkan sikap manja dan kekanak-kanakan pelaku bisnis taksi. Sambutlah dunia baru ini dengan menyerap, beradaptasi, dan berinovasi.

Akankah Kamu Jadi Penyebar Fitnah?

social-media
Sumber gambar: techtimes

Ah!kamu mudah sekali tergoda untuk sharing berita atau tulisan di akun medsos kamu. Kejadian seperti ini memang marak dalam beberapa tahun terakhir sejak makin banyaknya pengguna medsos.

Ketika kita baca tulisan tentang suatu peristiwa yang berkenan di hati atau sesuai pemikiran kita, kita langsung share tulisan itu di akun FB, Twitter, atau medsos lain. Padahal kebenaran tulisan tersebut masih diragukan atau bahkan mungkin sama sekali berbeda dengan fakta. Kalau tulisan itu hanya tentang peristiwa ringan, dampaknya mungkin tidak seberapa. Akan tetapi, kalau sudah menyangkut pribadi seseorang apalagi berbau kebencian, sadarkah apa yang yang telah kita lakukan? Fitnah! Ya, sama saja kita telah menyebarkan fitnah.

Banyak dari kita mungkin telah terbiasa menyebarkan fitnah semacam ini. Kita sudah dilatih oleh media konvensional seperti TV yang memiliki acara penyebar gosip berbalut nama infotainment. Di sana seringkali terjadi pemberitaan tentang pribadi pesohor atau selebriti yang belum tentu kebenarannya. Setelah melihat tayangan tersebut, serta-merta kita menyampaikan ke teman kita dan memperbincangkannya, kadang-kadang menambahi dengan opini kita sendiri yang kian berkembang dari fakta.

Menyebarkan berita atau tulisan yang belum tentu sesuai fakta ini makin berkembang dengan bertambahnya pengguna internet baru, atau orang yang baru melek medsos (media sosial). Umumnya mereka menganggap benar adanya segala sesuatu yang berseliweran di timeline FB, kicauan Twitter, posting-an Path atau Instagram. Apalagi sekarang makin banyak website atau blog yang seolah-olah media pemberitaan resmi. Padahal kini dengan mudahnya orang membuat website atau blog, hanya dalam beberapa menit bisa jadi dan menyebarkan tulisan yang seolah berita.

Orang-orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang awam yang mudah sekali percaya dengan iklan yang ditayangkan TV. Pernah kan menemui orang seperti ini? Misalnya setelah melihat iklan minuman dengan perasa jeruk yang di sana disebutkan segala kelebihan yang seolah-olah sama dengan jeruk asli atau bahkan lebih, ia akan ambil mentah-mentah informasi itu dan mengubah perilakunya mengonsumsi jeruk.

Umumnya orang semacam itu adalah orang awam yang kurang pengetahuan atau kurang pendidikan. Akan tetapi, sangat kita sayangkan kejadian penyebaran berita/tulisan fitnah di medsos itu tidak hanya dilakukan oleh orang awam atau tidak berpendidikan. Orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi hingga sarjana atau bahkan berprofesi pendidik semisal dosen pun ikut terbawa.

Justru orang berpendidikan tinggi tapi berperilaku awam seperti ini lebih berbahaya. Mereka dengan kemampuan berbahasa membalut dan menambah opininya sendiri sehingga seolah-olah tulisan yang dia share makin meyakinkan. Orang semacam ini sungguh sudah tertutup hatinya demi tujuan yang ia perjuangkan yang umumnya adalah popularitas (semu) dan bisa saja dia dibayar sebagai buzzer pihak tertentu.

Mungkin orang semacam itu berkedok menyampaikan kritik, tapi kita sudah bisa melihat mana kritik mana kebencian. Tulisan yang hanya memperlihatkan keburukan yang belum tentu benar, tanpa memberi solusi di bagian akhirnya sudah jelas itu hanya penyebar kebencian bahkan fitnah.

Akankah kamu ikut-ikutan jadi orang semacam itu? Sadarkah yang telah kamu lakukan? Mungkin kamu hanya akan mendapatkan imbalan popularitas dan sejumlah uang (sebagai buzzer), tapi kamu telah menjadi penyebar fitnah yang di agama apa pun dilarang dan bernilai dosa besar.

Yang kita tuliskan di timeline medsos dengan mudahnya menyebar, sekalipun kamu menyesalinya dan sudah menghapusnya, tulisan itu mungkin sudah telanjur menyebar dan dikutip (copas) banyak orang. Kalau sudah begitu, perbuatan dosa kita akan terbawa hingga kita mati.

Coba renungkan lagi…

Mari Berkaraoke di Hape

Ak!kamu mulai ketagihan. Mungkin kamu sempat lihat postingan sebelumnya yang berisi link lagu coveran yang saya nyanyikan. Hehehe… Dalam beberapa minggu terakhir saya memang senang nyanyi-nyanyi ala karaoke, tapi lewat handphone. Ya, pakai salah satu aplikasi karaoke paling hits saat ini, Sing! Karaoke by Smule yang lebih ngetop disebut smule-an.

Sebetulnya saya sudah punya akun Smule sejak sekitar 2 tahun lalu di iPhone, tapi saat itu belum banyak punya teman. Masih nyanyi-nyanyi duet sama orang dari luar, kebanyakan Amerika. Smule memang pertama kali bikin app ini di iPhone, lalu berkembang ke Android. Oleh karena itu, ada banyak perbedaan fitur untuk versi iOS (iPhone) dan Android. Nanti akan saya ceritakan di bagian belakang.

Kembali ke Smule, di app ini kita bisa nyanyi solo (sendiri), duet, atau group. Ada ribuan lagu yang tersedia untuk kita nyanyikan. Cara untuk gabung sangat mudah. Berikut ini langkah-langkahnya:

  1. Unduh aplikasi Smule Sing! Karaoke lewat Google Play (Android) atau App store (iOS/iPhone).
  2. Buatlah akun, bisa dilakukan via akun Facebook atau membuat akun baru dengan mendaftarkan dengan email baru. Setelah itu, isi username, bio dan foto seperti halnya kita mendaftar di media sosial.
  3. Taraaa… kita sudah siap bernyanyi dengan cara memilih lagu yang ada dalam segmen Songs (ada beberapa kategori lagu), lalu akan muncul pilihan mau bernyanyi solo, duet, atau group. Jika kita pilih salah satu darinya, akan muncul syarat kita harus menjadi anggota VIP dengan membayar langganan. Ada perbedaan biaya antara pengguna Android dan iPhone dalam hal ini. Untuk Android hanya Rp19 ribu per bulan, sedangkan pengguna iPhone harus membayar Rp45 ribu untuk mingguan, Rp149 ribu untuk bulanan, dan hampir Rp500 ribu untuk tahunan. Perbedaan ini pula yang menyebabkan fitur versi iPhone lebih lengkap dibandingkan versi Android.
  4. Save dan share ke media sosial lain seperti Facebook, Twitter, Path, instagram dll.

Perbedaan Sing! Karaoke by Smule versi iPhone dan Android:

  1. Di versi iPhone kita bisa merekam video sambil bernyanyi yang akan muncul saat kita share, baik saat solo maupun duet. Di versi Android hingga saat ini belum tersedia.
  2. Versi iPhone memiliki efek suara lebih banyak, selain yang standar ada di versi lain: Studio, Star, Indie, Grunge. Di versi iPhone ada Super Studio yang memungkinkan kita mengatur reverb, dan tone. Lalu ada juga Super Star.
  3. Di versi iPhone kita bisa mengulang bernanyi bagian tertentu yang baru saja kita nyanyikan dan rasa kurang bagus, jadi tidak harus mengulang sampai selesai satu lagu. Nah, di versi Android kita harus mengulang seluruh lagu.
  4. Di versi iPhone saat bernyanyi kita langsung bisa mengatur efek untuk masuk, tanpa harus menunggu selesai lagu. Di versi Android harus menunggu sampai satu lagu selesai dan mereviewnya.
  5. Suara hasil rekaman (recording) di versi iPhone terdengar lebih jernih dan meredam suara-suara di sekitar (entah ini pengaruh earpod iPhone atau memang di-setting dari aplikasinya).

OK, versi apa pun yang kita gunakan, sebetulnya yang penting kita happy bernyanyi-nyanyi sendiri, duet dengan teman atau bahkan dengan penyanyi aslinya. Ya, dalam setiap periode selalu ada penyanyi baru membawakan lagu baru mereka yang mengajak kita berduet. Kalau berani terima tantangan ini, tentu saja akan seru apalagi biasanya disertai video si artis yang bersanding dengan pengguna Smule yang gabung berduet. ūüėÄ