Perlunya Mengubah Mindset di Bisnis Online

Saat memulai bisnis secara daring atau online, memang pertama kali harus membuka mindset bahwa ini adalah hal baru, terutama bagi kaum kolonial. Hehehe… Berbeda dengan generasi milenial yang sudah menerima atau mengadopsi hal ini sejak awal mereka hidup.

Prinsip bisnis secara mendasar memang tidak banyak berubah, tetapi perangkat promosi yang digunakan bisa saja membuat “kaum lama” tergagap. Akan tetapi, begitu kita mampu mengubah mindset mengikuti era yang sedang berlaku, justru banyak kemudahan yang akan kita dapatkan.

Banyak yang tidak percaya dengan hanya melakukan hal-hal sederhana seperti “main-main” ternyata bisa menghasilkan. Kekuatan dunia online memang tidak pernah terduga dan dahsyat dampaknya. Begitu kita menemukan cara yang tepat untuk memasarkan produk atau jasa kita, efek pertumbuhan berlipat dalam waktu cepat niscaya dapat kita raih. Yang kita namakan aset digital pun kita dapatkan dengan mudah. Aset digital inilah yang akan jadi kekuatan kita mau “ngapain aja” ibaratnya.

Yang dibutuhkan hanya cara yang tepat dan konsisten menjalankannya. Modal? Semua bisa dilakukan dengan modal kecil, bahkan nyaris gratis. Saat ini kita tidak perlu membuka toko fisik berbiaya tinggi, perangkat iklan atau promosi bisa kita dapatkan dengan mudah dan murah, bahkan sekali lagi, gratis.

Lalu, bagaimana memulainya? Silakan bergabung dengan Akademi Bisnis Digital (ABDi). Hanya dengan pendaftaran Rp100.000 sekali saja, kita akan mendapatkan ilmu marketing online yang tak ternilai harganya. Akan tetapi, saya ingatkan. Kita perlu membuka mindset kita, membiasakan dengan hal-hal baru yang akan membuat kita awalnya bertanya-tanya: “Memang bisa hanya dengan begitu saja?”

Yakinlah.

Hubungi WA: ‪+62 838‑2122‑8834‬ untuk info selengkapnya.

Selamat Datang di Dunia Digital

(Sebetulnya sudah agak terlambat untuk kasih ucapan seperti di judul itu, tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulai hal baru)

Zaman sekarang itu serbamudah kalau kata saya. Beneran, ini dari pengalaman saya yang memulai bisnis online dalam hitungan bulan, tepatnya empat lima bulan terakhir.

Ya, ini saya bicara tentang Essenzo yang didukung sama Akademi Bisnis Digital (ABDi). Saya hanya modal seratus ribu untuk daftar bimbingan belajar dan pelatihan, sekali saja untuk selamanya. Saya awalnya juga berpikir apa sih yang bisa dilakukan dengan bisnis bermodal retjeh begini. Pasti main-main doang.

Saya ikuti step by step melalui video yang dibagikan sebagai salah satu fasilitas. Lalu ikut live webinar mereka melalui YouTube, Instagram dan Zoom. Pokoknya saya ikuti saja arahan dan tutorial mereka. Dan bulan pertama langsung menampakkan hasil dan terus bertambah setiap bulan dengan kecepatan yang tidak pernah saya duga.

Memang benar, untuk memulai bisnis online itu harus mengubah mindset. Hal kecil yang kita lakukan secara rutin dan konsisten bisa berdampak besar. Coba lihat apa yang dilakukan para Youtuber dan vlogger yang hanya dengan “main-main” bisa menghasilkan lebih banyak dari orang kerja rutin 9to5.

Saya juga tidak membayangkan bisa jualan dengan omset… yah masih receh sih, belasan juta. Tapi, itu saya lakukan hanya dari rumah dan terkesan “main-main” di waktu senggang. Reward peraih emas di bulan ketiga saya gabung, punya jaringan puluhan reseller yang kalau di dunia nyata kayak punya toko atau kios beberapa cabang ibaratnya.

Oh ya, Essenzo bukan MLM. Ini seperti reseller atau dropshipper biasa. Kita langsung dapat untung dari penjualan, tanpa nunggu minimal penjualan atau tutup poin, tidak perlu stock juga. Untuk para pensiunan dan orang yang ingin mendapatkan tambahan penghasilan di waktu luang sangat cocok, apalagi kalau mau diseriusin.

Ilmu yang didapat dari ABDi yang selalu update dengan video, live webinar juga bermanfaat. Tidak hanya untuk Essenzo, tetapi untuk aktivitas dan kegiatan kita yang lain juga. Guru yoga yang punya jadwal ngajar rutin misalnya, punya produk dan jasa lain yang perlu dipasarkan, ilmunya sangat bisa diterapkan. Saat ini punya aset digital itu sangat perlu dan penting untuk keberlangsungan usaha kita. Dan itu yang saya dapat dari bimbingan dan pelatihan di ABDi.

Ya, kita hanya memerlukan handphone untuk kontrol bisnis kita. Semudah itu.

Silakan klik link berikut untuk info tentang Akademi Bisnis Digital (ABDi)

Akademi Bisnis Digital – Essenzo

Pensiun Mau Ngapain?

Persiapan pensiun sebaiknya secara finansial dan mental. (Source: Romania Insider)

Beberapa hari lalu seorang teman tiba-tiba mengirim pesan ke saya via WhatsApp (WA). Teman ini sudah lama tidak kontak. Begini kira-kira bunyi pesan WA-nya:

Om, apa kabar? Ngupi yuk nanti Agustus atau September? Sebelum saya pensiun.

Saya lalu menjawab pesan tersebut dengan biasa saja awalnya. Lalu timbul tiga reaksi sebagai berikut.

Pertama, tentu senang dapat pesan dari teman lama. Kedua, mengapa harus ngopi pada Agustus atau September? Oh, tentu saja teman tersebut berharap situasi pandemi ini sudah berlalu pada bula-bulan itu. Aamiin, itu doa kita semua. Yang ketiga, tentang pensiun.

Dua reaksi yang pertama dapat diselesaikan dengan mudah. Reaksi ketiga tentu saja yang membuat saya berpikir. Sebetulnya saya sudah sering memikirkan tentang pensiun. Sebatas memikirkan. Hahaha… Teman saya ini memang jarak usianya mungkin dua atau tiga tahun (jauh?) di atas saya. Hahaha… untuk menyamarkan usia sendiri. Dan bulan November tahun ini katanya sudah akan pensiun. Ya Tuhan, ternyata sudah semakin dekat ya masa pensiun ini.

Reaksi atau pertanyaan wajar setelah sekadar memikirkan masa pensiun adalah sudahkah kita menyiapkan masa pensiun? Atau mau ngapain saat pensiun? Tidak hanya soal dana pensiun, tetapi aktivitas yang akan kita lakukan pada masa tersebut.

Dana Pensiun. Bersyukurlah bagi mereka yang sudah menyiapkan atau disiapkan dana pensiunnya jauh-jauh hari. Seperti kita ketahui kalau pegawai negeri atau ASN dan aparat pemerintah mungkin sudah otomatis akan menerima uang pensiun ketika masanya tiba. Banyak perusahaan swasta juga sudah mempersiapkan skema pensiun untuk karyawannya. Akan tetapi, alangkah baiknya kita juga melakukan persiapan secara pribadi, in case dana pensiun yang kita terima dari kantor tidak memadai.

Cara paling gampang dan umum untuk menyiapkan dana pensiun adalah dengan menabung. Ada banyak bank dan institusi keuangan lain seperti asuransi mendesain produk untuk dana pensiun ini. Tinggal kita pilih sesuai kemampuan untuk menabung secara rutin, bisa bulanan, tengah tahunan atau tahunan. Kalau menabung dengan sistem asuransi, harap diperhatikan juga komponen asuransi yang kita ambil. Biasanya ada proteksi terhadap jiwa dan kesehatan.

Kelebihan menabung dana pensiun di asuransi adalah adanya proteksi, meskipun beberapa tabungan di bank kini juga banyak menempelkan fitur asuransi ini. Adanya asuransi memungkinkan kita atau ahli waris akan menerima dana pensiun sebelum jatuh masa pembayaran premi apabila terjadi kecelakaan atau meninggal.

Adanya asuransi tersebut otomatis menyisihkan dana yang kita tabung untuk meng-cover asuransi, jadinya sisa untuk tabungan sedikit berkurang. Kita bisa mempertimbangkan lagi perlu tidaknya ada asuransi.

Menabung dana pensiun akan lebih optimal hasilnya jika dilakukan jauh-jauh hari sebelum jatuh masa pensiun. Lalu bagaimana apabila baru memulai menabung pada saat mendekati masa pensiun? Memang tidak ada kata terlambat. Sebaiknya mulai memilih jenis tabungan yang ada atau mencoba berinvestasi dalam bentuk reksadana atau saham.

Kini, semakin mudah untuk membuka investasi di reksadana atau saham. Mungkin kita mulai dulu dengan reksadana karena investasi saham ada faktor risiko yang agak besar. Investasi reksadana kini semudah sentuh-sentuh di ponsel. Marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, dan manajer-manajer investasi memiliki aplikasi yang adapat digunakan seperti Bareksa dan IPOT IndoPremier. Imbalan yang kita dapat dari investasi reksadana umumnya lebih tinggi dibandingkan deposito apalagi tabungan biasa.

Tabungan bentuk lain bisa saja dalam bentuk emas. Pembelian emas untuk investasi ini kini juga semakin mudah. Di Tokopedia dan Bukalapak juga tersedia untuk membeli atau menabung emas bahkan dalam jumlah kecil. Hanya saja perlu diingat, tabungan emas lebih cocok untuk jangka panjang jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

Kegiatan Pensiun. Setelah ada dana pensiun, mungkin bagi sebagian orang tidak bisa berpangku tangan, apalagi kalau selama ini terbiasa aktif beraktivitas. Bayangan saya, karena saya belum mengalami pensiun, adalah melakukan apa yang kita sukai terlebih dahulu. Kalau kita mau melanjutkan aktivitas yang masih menghasilkan secara finansial, sebaiknya pilih yang kita juga senang melakukannya atau menjadi hobi kita. Misalnya, kita hobi berkebun ya bisa dengan membuka lahan untuk berkebun atau bercocok tanam. Kalau tidak memiliki lahan yang cukup mungkin bisa dengan hidroponik atau memanfaatkan lahan yang ada di rumah.

Kegiatan atau aktivitas kita pada masa pensiun semestinya sudah tidak mengejar profit finansial. Kalau toh ada profit atau keuntungan yang sebagai tambahan saja. Misalnya, hasil dari kebun kita untuk konsumsi pribadi atau kalau lebih bisa dibagi-bagikan ke tetangga atau sanak saudara. Akan tetapi, kalau memang masih membutuhkan tambahan dana, ya bisa saja melakukan penjualan, tidak ada masalah kalau masih punya waktu untuk melakukannya. Kita bisa juga melibatkan anak-anak muda sekitar untuk membantu, siapa tahu akan jadi lapangan kerja bagi mereka.

Hobi-hobi lain seperti menulis, menggambar, bermain musik bisa juga dilakukan. Sebetulnya saat ini terbuka luas untuk mengembangkan berbagai hobi jadi sesuatu yang menghasilkan keuntungan finansial. Menulis di berbagai platform seperti blog seperti ini bisa saja berkembang jadi buku atau konten berbayar yang lumayan untuk tambahan dana pensiun.

Saya pernah berbincang dengan seorang mentor di perusahaan konsultasi pendidikan. Mereka juga membuka konsultasi untuk karyawan jelang pensiun. Mereka melakukan tes psikologi lagi untuk mengarahkan para calon pensiunan ini menjalani masa pensiunnya agar lebih bermanfaat, baik secara batin maupun finansial.

OK, selamat mempersiapkan masa pensiun, baik secara mental maupun finansial.

Penghematan Saat Pandemi

Sumber: Kompas Lifestyle

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia ini memang bisa dianggap bencana, tetapi bisa juga dijadikan momen introspeksi diri. Ketika kita work from home atau lebih banyak beraktivitas di rumah, kita jadi punya banyak waktu untuk meninjau kembali beberapa hal yang rutin kita lakukan selama ini. Salah satu hal tersebut adalah pengeluaran. Yuk kita hitung-hitung pengeluaran yang bisa kita hemat.

Biaya Transportasi. Ketika work from home sudah pasti pengeluaran untuk transport akan berkurang. Selama ini kita yang menggunakan transportasi umum dengan cepat dapat menghitung ongkos yang kita keluarkan. Misalnya, dalam perjalanan dari rumah ke kantor kita menggunakan moda transportasi angkot, KRL dan bus TransJakarta dengan tarif dan jarak tertentu, taruhlah tarif angkot (PP) Rp8.000, KRL (PP) Rp7.000, dan bus TransJakarta (PP) Rp8.000. Totalnya jadi Rp23.000. Dalam seminggu lima hari kita ke kantor sehingga sama dengan 5 x Rp23.000 = Rp115.000.

Makan Siang. Biaya lain yang rutin kita keluarkan adalah untuk makan siang. Taruhlah rata-rata biaya makan siang kita adalah Rp20.000 berarti selama seminggu 5 x Rp20.000 = Rp100.000.

Uang Jajan. Mungkin di sela-sela bekerja atau dalam perjalanan kita sering membeli cemilan atau jajanan seperti gorengan, kacang, atau bakso. Mungkin tidak setiap hari, taruhlah dua kali saja dalam seminggu dengan besaran Rp15.000 maka 5 x 2 x Rp15.000 = Rp150.000.

Dari kedua komponen biaya itu saja minimal dalam seminggu kita telah mengeluarkan Rp115.000 + Rp100.000 + Rp150.000 = Rp365.000 atau kita bulatkan jadi Rp400.000. Sehingga selama sebulan kita telah mengeluarkan rata-rata sekitar 4 xRp400.000 = Rp1.600.000. Wow, jumlah yang lumayan banyak ‘kan?

Aksesoris. Pengeluaran transportasi nyata-nyata bisa kita rasakan berkurang dalam masa WFH. Ketika kita harus keluar rumah untuk bekerja, kita juga memikirkan untuk mengenakan pakaian yang rapi dan bersih, sepatu yang terlihat bagus dan mengkilat, wewangian tubuh atau parfum. Jika biasanya dua atau tiga bulan sekali kita membeli baju baru atau parfum, taruhlah untuk pakaian senilai Rp300.000 dan parfum Rp250.000 sehingga total dalam tiga bulan yang kita keluarkan sebesar Rp550.000 sampai Rp600.000. Kalau kita buat rata-rata per bulan nilainya jadi sekitar Rp200.000.

Dari semua pengeluaran tersebut yang bisa kita kurangi atau hemat selama WFH berarti besarnya sekitar Rp1.800.000 per bulan. Belum lagi kalau kita perhitungkan biaya hiburan pada akhir pekan, seperti nonton bioskop, jalan-jalan di mall, dan makan di restoran bersama teman-teman atau keluarga.

Akan tetapi, jangan-jangan pada saat work from home kita justru tergoda untuk order makanan online secara berlebihan atau beli beberapa benda lain di marketplace yang sebetulnya kebutuhan sekunder atau tersier? Bisa saja hal ini terjadi karena banyak waktu untuk buka-buka toko online saat WFH. Jatuhnya pengeluaran kita akan sami mawon atau malah tekor. Hahaha… Yuk, dari sini kita mulai menata ulang keuangan kita sehingga kita lebih bisa menyisihkan penghasilan untuk keperluan yang lebih penting, seperti menabung untuk membeli rumah atau pendidikan anak-anak kita.

Atur Keuangan Sejak Dini

u-growth

Ah!kamu boros sekali sih. Kerja bertahun-tahun gak berwujud apa-apa. Sering kita mendengar keluhan diri atau omelan orang lain yang intinya kurang lebih seperti itu. Sering ngalami kayak gitu? Pastinya.

Kalau gitu marilah kemari kita belajar berhitung. Atau lebih tepatnya merapikan pemasukan dan pengeluaran kita.

Coba gaji kamu berapa? Ah, pertanyaan yang sensitif ini mah. Baiklah kalau begitu pakai pengandaian aja. Kita misalkan gaji saya Rp4 juta per bulan. Ah kecil amat? Hehehe… Ya deh, yang gajinya gedean nanti tinggal menghitung sisanya yang tentunya lebih besar pula.

Tiga pengeluaran utama yang dapat dihemat:

  1. Tempat Tinggal. Ini tentu saja buat kita yang masih kost alias belum punya rumah sendiri atau tidak tinggal sama orang tua. Kalau masih tinggal sama orang tua, ya nanti hasil akhirnya lebih besar karena tidak mengeluarkan biaya tinggal dan makan di rumah. Untuk tempat kost carilah yang tidak terlalu mahal, yang penting nyaman dan aman. Tidak perlu menyewa apartemen atau kost mewah ber-AC yang umumnya mahal, gak usah mementingkan gengsi karena tempat kost lebih banyak hanya untuk istirahat dan tidur malam hari. Rata-rata berangkat kerja pukul 6-7 pagi dan pulang pukul 8-9 malam sehingga tidak ada gunanya bayar mahal hanya untuk numpang tidur. Ambillah tempat kost seharga Rp500 ribu – 700 ribu. Mungkin agak jauh dari tempat kerja tapi aksesnya dengan kendaraan umum gampang. Kita ambil perkiraan pengeluaran = Rp600 ribu.
  2. Makan dan Jajan. Biaya ini tidak terasa juga akan menguras penghasilan kita. Akan tetapi, selalu bisa kita siasati. Kalau kamu bekerja di wilayah perkantoran Sudirman pasti akan mengeluarkan biaya sekali makan siang minimal Rp30-40 ribu. Cara menyiasatinya sebagai berikut: Sarapan di dekat tempat kost yang relatif murah seperti bubur ayam atau nasi uduk seharga Rp5-7 ribu. Untuk makan siang beli nasi bungkus di warteg dibawa ke kantor. Biar kelihatan lebih enak dipandang makanannya dibawa pakai lunch box saja. Nasi dengan sayur dan lauk di warteg dekat rumah berkisar Rp12-15 ribu, ambil rata-rata Rp13 ribu. Demikian juga untuk makan malam, berhematlah, taruhlah sekitar Rp15 ribu. Sesekali bolehlah makan di restoran yang lebih mahal, tapi gak perlu sering-sering. Dengan rata-rata biaya makan dan jajan per hari Rp40 ribu maka pengeluaran per bulan adalah Rp1.200.000. Biaya ini akan sedikit berkurang jika Anda bekerja di kantor yang memberi jatah catering makan siang.
  3. Transportasi. Terkait dengan transportasi, itulah gunanya cari tempat kost yang strategis dan mudah diakses meskipun agak jauh di pinggiran kota. Pilihlah tempat kost yang mudah dijangkau kendaraan umum seperti dekat dengan stasiun Commuter Line atau halte TransJakarta. Dengan perhitungan ongkos transportasi umum = ongkos CL pp (6 ribu) + TransJakarta (7 ribu) = Rp13 ribu berarti per bulan Rp390 ribu. Pilihan antara tempat tinggal dan transportasi bisa saling terkait. Artinya mungkin agak dekat kantor dengan biaya mahal tapi transport ke kantor tinggal jalan kaki. Hal itu bisa kamu sesuaikan sendiri. Dalam perhitungan kita berarti biaya tempat tinggal + transportasi tidak lebih dari Rp 1 juta. Kalau misalnya dalam perhitungan memungkinkan beli motor, walau seken, ya bisa saja dilakukan.

Dengan demikian, biaya pengeluaran utama per bulan kita adalah 600 ribu + 1,2 juta + 390 ribu = Rp2.190.000. Tentu saja, kita tidak hanya hidup dari tempat kost ke tempat kerja kan? Kita perlu refreshing, beli pakaian dan bersosialisasi. Alokasikan untuk biaya bersosialisasi ini sekitar 10% dari gaji kita atau Rp400 ribu. Gak cukup? Cukup-cukupkanlah. Saya yakin kita pasti bisa mengaturnya. Hiduplah sesuai dengan sikon, kini kita masih dalam tahap kerja keras dan perjuangan, anggap saja begitu. Hidup sederhana itu lebih baik daripada royal tanpa memperhatikan keuangan. Cieee…. Nanti saat kita sudah berkecukupan, bolehlah sesekali memanjakan diri. 🙂

Jadi, total jendral pengeluaran kita per bulan adalah Rp2.190.000 + Rp400.000 = Rp2.590.000 atau kita bulatkan Rp2,6 juta. Masih ada sisa Rp1.300.000. Uang tersebut masih bisa kita gunakan untuk membantu orang tua atau saudara yang mungkin membutuhkan, taruhlah kita sisihkan Rp300 ribu per bulan sehingga masih ada  Rp1 juta.

Uang sisa tersebut masih bisa kita sisihkan untuk biaya pengembangan diri sebagai bekal peningkatan keahlian dan kecakapan. Misalnya untuk beli buku atau mengikuti seminar/workshop. Buku dan seminar-seminar ini akan kita rasakan manfaatnya sebagai bekal pengetahuan yang bernilai investasi. Untuk beli buku, cukup beli di toko buku online karena ini akan lebih hemat biaya transport dan lain-lain. Misalnya, kita anggarkan biaya ini sekitar Rp200 ribu per bulan, maka kita masih punya Rp800 ribu untuk kita tabung atau investasikan dalam bentuk deposito, reksadana dan lain-lain.

Tabungan sebesar Rp800 ribu per bulan ini akan terkumpul minimal Rp9,6-10 juta setahun dan selama 10 tahun berarti sekitar Rp100 juta. Oh ya, bisa saja tiap tahun kita akan mendapatkan bonus dan THR yang nilainya masing-masing taruhlah satu kali gaji per bulan yang berarti berkisar Rp8 juta. Jika bonus ini hanya kita ambil 20% untuk reward diri atau memanjakan diri, perlu lho itu, berarti selama 10 tahun terkumpul Rp64 juta. Ditambah tabungan bulanan tadi, berarti kita memiliki minimal Rp164 juta. Lumayan kan? Kalau saat ini usia kita 20 tahun berarti itu terjadi saat kita berusia Rp30 tahun.

Perkiraan pendapatan tersebut belum memperhitungkan kenaikan gaji, nilai inflasi, dan suku bunga tabungan atau deposito. Yang perlu kita ingat, kita jangan seperti berjalan di treadmill, yang seolah maju tapi hanya berada di tempat. Artinya saat kita mendapat kenaikan gaji, pengeluaran kita juga bertambah besar yang biasanya disebabkan oleh rasa gengsi. Jika kenaikan gaji kita misalnya 20%, kita hanya memberi toleransi kenaikan pengeluaran 5-10% atau bahkan tetap, hanya ngikutin inflasi.

Sebetulnya tidak ada gunanya kan hidup berlebihan, kalau bisa kita hemat dan kita gunakan untuk yang lebih baik dan bermanfaat tentu saja lebih baik. Jika ada bujet yang bisa kita tekan lakukanlah. Tapi, prinsipnya kita berhemat, bukan pelit.

Mungkin uang Rp164 juta yang terkumpul itu kita rasa terlalu kecil. Oleh krena itu, kita perlu memikirkan tentang penghasilan tambahan dengan melakukan pekerjaan di waktu luang. Tentu saja ini jadi ide yang sangat menarik. Kita akan bahas tentang hal ini di tulisan selanjutnya.

Ternyata mudah kan mengatur keuangan? Yang paling penting dari semua itu adalah disiplin dan taat anggaran. Kita perlu membuat catatan pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Banyak aplikasi di smartphone yang bisa kita unduh dan gunakan.

OK, selamat mengatur keuangan sejak dini, semoga kita akan dapat mewujudkan keinginan kita.

Sumber gambar: waldenfinancialplanning