Nonton Film Zaman Now

Selama masa pandemi dengan banyak melakukan aktivitas di rumah saja mungkin kan lebih meningkatkan kejenuhan. Salah satu cara untuk menghilangkan jenuh dan bosan adalah nonton film. Oleh karena itu, kegiatan nonton film, baik film lepas maupun seri, mungkin meningkat selama PSBB ini. Statistik resminya sih saya belum cek. Tidak tahu juga ada di mana datanya. Hehehe… Tetapi, dugaan sementara seperti itulah sebagai riset kecil-kecilan.

Sebagai bagian dari riset adalah saya sendiri. Saya memang termasuk orang yang suka nonton film (bioskop atau TV). Selama ini frekuensi nonton saya sebetulnya tidak terlalu tinggi. Sebelum pandemi mungkin hanya sebulan sekali atau kalau pas ada film yang saya anggap bagus, bisa dua kali sebulan. Sedangkan untuk film TV, saat masih jadwal kerja normal, paling lebih banyak nonton TV saat akhir pekan atau pada malam hari. Saya lebih banyak nonton film seri TV dan sekarang lebih suka nonton di aplikasi penyedia film seperti Netflix atau Amazon Prime Video ketimbang channel konvensional.

Alasannya, saya lebih bisa memilih film dan jadwal nonton sesuka saya. Tidak demikian dengan di TV konvensional. Saya harus mengikuti jadwal yang ditetapkan mereka, meskipun ada layanan On Demand tapi enath kenapa saya masih kurang nyaman dengan layanan tersebut. Selain harus membayar lagi untuk memakai layanan tersebut dan sifat bebasnya seperti masih kurang.

Kebiasaan nonton seperti ini adalah bentuk baru yang mulai ada sejak era YouTube. YouTube bisa dikatakan sebagai bentuk baru dari televisi. Di YouTube kita bebas mau nonton apa dan kapan saja. Kalau ternyata tidak suka dengan tayangan yang kita tonton, tinggal search saja tayangan yang lain dengan kata kunci yang kita inginkan.

Netflix dan Prime Video mencoba memenuhi kebiasaan baru ini dengan memberikan lapak film ala YouTube. Digelar seluas-luasnya dan Anda bebas memilih. Dengan membayar langganan yang relatif lebih murah dibandingkan langganan TV berbayar, kita punya seleksi film yang banyak. Sebetulnya tidak murah juga karena kita masih harus membayar koneksi internet. Sayangnya internet yang kencang untuk di rumah masih dikuasai oleh provider yang umumnya menempelkan langganan TV, jadinya kita harus bayar lebih untuk sekumpulan channel yang jarang kita tonton.

Kalau kita memang lebih banyak memilih nonton melalui Netflix, Prime Video, atau iflix dan Catchplay sebaiknya memang kita memilih langganan koneksi internet saja. Jatuhnya memang akan agak lebih mahal kalau itung-itungan tidak dapat paket langganan TV.

Kalau mau agak sedikit nakal, dan ini sudah banyak dilakukan orang, adalah nonton melalui aplikasi streaming yang banyak tersedia di Playstore atau App store seperti Stremio. Ini memang ilegal, tetapi mungkin ke depannya akan jadi pertimbangan sendiri bagi mereka yang bergerak dalam industri film dan hiburan. Di aplikasi Stremio kita bisa menemukan film bioskop dan film TV yang relatif masih gres. Bahkan aplikasi ini dapat menyediakan subtitle beberapa bahasa, yang utama English, kalau lagi untung ada juga Bahasa Indonesia.

Memang nonton di Stremio tidak senyaman di Netflix, ada serangkaian langkah yang harus dilakukan. Setelah memilih film lalu kita memilih link server dari film tersebut dan belum tentu kualitas dari server yang kita pilih bagus, sehingga kita harus kembali untuk memilih server yang lain.

Di aplikasi Stremio film-film bioskop kadang sudah berkualitas bagus untuk film yang baru beberapa minggu tayang di bioskop, tetapi kebanyakan sekualitas rekaman Cam. Kita perlu bersabar beberapa minggu lagi untuk mendapatkan film dengan kualitas baik. Ini masih lebih cepat dibandingkan dengan tayangan resmi di HBO, Fox Movies dan lain-lain. Untuk film TV akan lebih cepat, kadang-kadang berbarengan dengan saat tayang di channel resminya, atau paling beda sehari dua hari dengan kualitas yang bagus.

Guys, sebetulnya nonton di Stremio ini adalah tindakan ilegal sama saja dengan pembajakan, tetapi godaan untuk nonton “murah” dan pilihan film yang seabrek banyaknya seringkali lebih kuat menarik. Aplikasi-aplikasi semacam ini ada banyak banget dan setiap waktu hilang muncul lagi yang baru karena di-banned atau di-block.

Saya suka aplikasi seperti ini karena juga menyediakan film-film langka dari berbagai negara yang kadang tidak ada di penyedia film resmi. Bahkan film-film jadul pun seringkali tersedia.

Selamat menonton.

SuperDidi: Menghibur dan Bermakna

SuperDidi-Featured-630x350
SuperDidi: Ketika Didi harus menggantikan peran Muti

Ah!kamu sudah siap jadi ayah super, belum? Mengasuh dan mendidik anak-anak adalah tanggung jawab kedua orang tua, baik ayah maupun ibu. Bukan semata kewajiban ibu, tetapi ayah juga memiliki peran yang sama. Film keluarga terbaru bertajuk SuperDidi ini ingin menyampaikan pesan mulia tersebut melalui potret keluarga modern dengan dua anak yang masih kecil.

Kisah SuperDidi ini bermula dari pasangan keluarga muda masa kini, Arka (Vino G. Bastian) dan Wina (Karina Nadila) dengan kedua putrinya, Anjani (Anjanique Reney) dan Velia (Aviela Reyna) yang masih balita. Layaknya keluarga modern mereka menjalani aktivitas harian khas ibukota dengan kesibukan masing-masing di tengah mengasuh dan mendidik anak.

Permasalahan muncul ketika Arka yang arsitek diserahi amanah memegang proyek pembangunan bernilai trilyunan pada saat sang istri Wina harus pergi ke Hongkong. Kepergian Wina ini karena ia harus membantu menyelesaikan konflik keluarga sahabatnya, Meisya. Alasan kepergian Wina sebetulnya tidak terlalu kuat apabila tidak mengingat Meisya adalah sahabat dekat keluarga mereka yang juga telah mencomblangi perjodohan Arka dan Wina.

Pendeknya situasi telah membuat Wina harus membantu menyelesaikan konflik Meisya dan suaminya Kei yang ceritanya sudah di ujung tanduk menuju perceraian. Tentu saja, tugas pengasuhan kedua anak mereka yang selama ini ditangani Wina dialihkan ke Arka yang belum pernah banyak terlibat secara langsung. Daftar tugas antar jemput Anjani dan Velia ke sekolah, les balet, les musik dan seterusnya ternyata dirasakan oleh Arka melebihi beban kerjanya sendiri sebagai arsitek.

Situasi frustrasi dan kocak Arka menghadapi kedua putrinya sehari-hari inilah mewarnai hampir sepanjang film. Hadirnya ibu-ibu centil, rese dan bawel di sekolah Anjani dan Velia turut memperkeruh suasana. Kecanggungan Arka menghadapi dunia perempuan kecil seperti mengepang rambut, nonton film kegemaran Frozen, taksir-taksiran ala anak TK menjadi tontonan komedi yang membuat ketawa. Ternyata Arka tidak sendiri menghadapi situasi seperti ini. Ia menemukan komunitas ayah-ayah yang menghadapi kondisi yang sama dengannya. Mereka menamakan diri Pembajak (Perhimpunan Bapak Jaga Anak).

Sementara itu tugas kantor Arka sebagai kepala proyek mau tidak mau terbengkalai karena mengurus keperluan kedua anaknya saja kocak-kacir. Mampukah Arka yang dipanggi anak-anaknya Didi ini menggantikan peran Muti, sang ibu dalam dua minggu kepergiannya? Dalam situasi pontang-panting inilah Arka menemukan pelajaran tak ternilai harganya. Nilai proyek trilyunan tidak ada artinya jika anak-anak kita berantakan.

Film produksi Muti Didi Film yang disutradarai Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayl Yurahma serta diproduseri Reymund Levy ini secara menarik mengajak kita kembali ke nilai-nilai keluarga secara hakiki. Penghargaan tugas masing-masing antara ayah dan ibu dalam sebuah rumah tangga sangatlah diperlukan. Penyelesaian konflik rumah tangga sebaiknya juga diselesaikan di antara mereka sendiri, bukan dari pihak luar yang kadang tidak memahami sepenuhnya masalah mereka.

Di tengah banjirnya film bergenre komedi dewasa, horor dan penuh kekerasan film yang juga dibintangi oleh Mathias Muchus, Ira Maya Sopha dan deretan artis kondang lain ini aman ditonton keluarga. Menghibur sekaligus menyampaikan pesan yang dalam.

Talak 3: Film Sitkom yang Lengkap

Foto-Set-Film-Talak-Tiga
Tiga tokoh sentral ini berperan asyik di film Talak 3. (Sumber: seleb.co.id)

Ah!kamu nonton deh film ini. Sejak awal Februari 2016 film Talak 3 dapat kita nikmati di bioskop. Film yang disutradarai oleh Ismail Basbeth dan Hanung Bramantyo ini dijamin akan membuat kamu ngakak sekaligus terharu biru. Ini adalah ramuan film sit-com atau komedi situasi yang lengkap.

Lengkap gimana? Komedinya gak lebay dan gak garing. Pemerannya juga bermain wajar dan asyik. Nama Vino G. Bastian dan Reza Rahadian layak jadi jaminan kualitas akting. Ditambah Laudya Cintha Bella yang mampu mengimbangi permainan kedua aktor ini. Jalinan dan alur cerita juga mengalir lancar dan masih masuk akal, masih wajar meskipun terkadang tidak terduga.

Film dibuka dengan adegan Bagas (Vino G. Bastian) yang ngebut naik ojek berniat rujuk kembali dengan istrinya, Risa (Laudya Cintha Bella) yang telah ia talak tiga. Adegan pembuka yang kocak ini berlanjut ke adegan kocak lainnya di sepanjang film. Kondisi talak tiga pasutri ini diikuti dengan kebangkrutan mereka secara finansial. Hal itu memaksa mereka untuk mengambil proyek bernilai besar yang mengharuskan mereka rujuk kembali.

Dalam Islam pasutri yang berada dalam kondisi talak 3 jika ingin nikah kembali, sang istri harus dinikahi dulu oleh lelaki lain lalu diceraikan lagi. Syarat yang menurut mereka agak aneh ini memaksa mereka mencari cara dalam waktu secepatnya mengejar target proyek yang akan dikerjakan. Mereka terpaksa memakai cara-cara “belakang” yang dibantu oleh pejabat KUA, Jonur dan Hasmi. Upaya nakal kedua pejabat itu terhambat oleh pegawai baru, Basuki, yang jujur dan anti korupsi.

Setelah upaya-upaya curang ini selalu mengalami kegagalan, tiba-tiba mereka menemukan sosok yang cocok dijadikan suami kontrak bagi Risa, yakni sahabat pasutri ini sendiri, Bimo (Reza Rahadian). Akan berjalan lancarkah rencana mereka untuk rujuk kembali? Sandungan dan masalah ternyata masih belum berhenti menghalangi mereka, justru makin meruncing. Di sinilah kekocakan bercampur aduk dengan keharuan mewarnai separuh akhir film.

Selain adegan kocak, seperti ciri khasnya Hanung juga menampilkan angle gambar-gambar indah di film yang berlokasi di Yogyakarta ini. Lagu-lagu yang menjadi soundtrack film yang skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan Bagus Bramanti ini terasa pas membawa suasana. Kehadiran komedian Cak Lontong, Marwoto, Dodit Mulyanto, dan Hasmi Gundala cukup menyegarkan. Hadirnya seniman Hasmi yang terkenal dengan komiknya Gundala Putra Petir jadi gimmick tersendiri. Kalau kamu jeli, setiap scene yang menampilkan Hasmi selalu ada gambar tokoh superhero lokal karyanya tersebut.

Di tengah banyaknya film Indonesia bertema horor dan komedi slapstik, film Talak 3 ini menjadi tontonan yang segar dan tidak norak. *Wajib Tonton*

 

Aach… Aku (Tidak) Jatuh Cinta

Aach...Aku-Jatuh-Cinta
Rumi (Chico Jericho) dan Yulia (Pevita Pearce) – Sumber: uniqpos

Ah!kamu begitu deh. Ketika akan menonton film terbaru besutan Garin Nugroho yang bertajuk Aach… Aku Jatuh Cinta setidaknya saya memiliki dua harapan: gambar-gambar yang indah dan kisah cinta yang puitis. Terpenuhikah harapan saya itu? Hmmm… mari kita simak apa yang saya rasakan berikut ini.

Gambar-gambar indah dalam film ini mungkin masih dapat kita nikmati. Akan tetapi, di tengah dunia perfilman Indonesia yang dapat dikatakan sudah sedemikian maju, gambar-gambar seperti itu sudah jadi jamak. Sineas-sineas muda kita saat ini sudah banyak yang terampil menampilkan gambar-gambar indah nan puitis. Dulu mungkin dapat dikatakan Garin adalah ahlinya.

Lalu bagaimana dengan kisah cinta yang puitis dan menyentuh? Oleh karena judul film ini mengandung kata cinta dan menyiratkan kisah yang romantis, tidak salah kita berharap akan mendapatkan hiburan kisah seperti itu. Sepanjang film ini, saya tidak menemukan hal itu. Yang ada adalah kisah cinta biasa yang sudah sering kita tonton. Pertentangan cinta akibat perbedaan tingkat sosial atau keluarga baik-baik vs berantakan yang sudah klasik dikemas biasa saja. Simbol-simbol yang ditampilkan juga kurang kuat.

Ada kesan di awal film ini berusaha menampilkan kenakalan komedi, lumayan berhasil. Misalnya adegan Rumi kecil yang digambarkan jail. Bahkan salah satu kejailannya sempat membuat saya dan sebagian penonton mungkin tidak kuasa untuk melihatnya, ada “benda belakang” yang ditampilkan sangat frontal dan menjijikkan. Akan tetapi, upaya-upaya ke arah itu selanjutnya sepertinya serba canggung.

Termasuk pula upaya-upaya adegan romantis. Pembacaan puisi oleh Pevita Pearce sebagai Yulia di sepanjang film mengambang kurang makna. Suara khas anak muda ibukota Pevita tidak kuasa menyentuh rasa. Ibaratnya, tidak ada yang meresonansi ke sanubari. 🙂

Para pemain juga tidak berakting meyakinkan penonton, kadang berlebihan. Banyak yang berteriak-teriak yang sepertinya tidak perlu dan mengingatkan adegan sinetron di TV. Bangunan cerita dan penokohan juga kurang kuat. Ayah Rumi yang digambarkan menyukai puisi-puisi Rumi, tapi jauh dari gambaran itu, malah suka memukul anak dan istri. Banyak adegan sepertinya sia-sia, tidak banyak memperkuat alur cerita berikutnya. Mungkin hanya Chico Jericho yang terlihat bermain menonjol dibandingkan yang lain, meskipun kadang terdengar konyol dan menggelikan karena dialog yang seadanya.

Sebetulnya film ini berpotensi jadi menarik karena berlatar belakang waktu antara 1970-an hingga 1990-an dengan gambaran gaya hidup yang menyertainya. Hadirnya brand-brand yang menonjol, model pakaian, dan gaya hidup sepanjang era itu ditampilkan lumayan runut, tapi sepertinya sekadar ada sebagai pemandangan mata, kurang tergali dan tidak jadi unsur yang penting.

Properti dan detail dalam adegan pun tidak ditangani dengan baik. Misalnya, digambarkan ibu Yulia sedang memunguti buah jambu biji jatuhan, tetapi sepertinya buah-buah itu jatuh dari pohon mangga atau kamboja karena tidak terlihat ada pohon jambu biji di situ. Atau ada teman wanita Rumi datang ke rumah bawa buah duku seperti diceritakan oleh Rumi, tetapi yang dibawa buah lengkeng, tidak terlihat ada duku. Aach… *lucu, lucu

Sebagai tontonan mungkin film itu hanya asyik untuk melihat Pevita Pearce yang cantik dan Chico Jericho yang tampan dan kocak. Tidak lebih. Dan Aach… Aku (Tidak) Jatuh Cinta dengan film Garin yang satu ini.