Viva Blogger, Kembali Menulis Yuk

Menulis Itu Murah

Setelah sekian lama vakum menulis di blog ini, tiba-tiba ingin rasanya kembali nge-blog. Awalnya saya kira blogging sudah tidak musim, kini telah beralih atau berubah menjadi nge-vlog karena banyak orang membuat video untuk menyampaikan gagasan, pendapat, atau sekadar obrolan sana-sini.

Video + Blog = Vlog

Rumus itu ternyata hanya istilah baru yang bukan perubahan ataupun evolusi dari blogging atau menulis. Seperti halnya ketika ada televisi, radio masih hidup. Jadi, menulis di blog tidak akan pernah punah atau mati, seperti halnya kegiatan menulis itu sendiri.

Meskipun vakum di blog, saya dan teman-teman juga mungkin terus menulis, baik untuk buku, di medsos, maupun buku harian (hello, masih ada yang menulis di buku harian yang benar-benar buku digembok?) Hehehe…

Beberapa waktu lalu saya mengikuti obrolan via Zoom dari Marchella FP, penulis NKCTHI (Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini) dalam rangka acara IIBF Talk. IIBF adalah Indonesia International Book Fair, kalau ada yang belum tahu. Dalam salah satu kesempatan dia berkata bahwa menulis adalah kegiatan seni paling murah dibandingkan seni yang lain, seperti menggambar atau main musik. Betul juga sih, hanya bermodal pensil atau pena kita bisa langsung menuangkan “karya seni” kita. Semudah dan semurah itu. Berbeda dengan menggambar yang butuh pensil warna dan buku gambar ataupun cat warna dan kanvas, lalu bermain musik yang butuh instrumen dan seterusnya. Kalau gagal dalam tulisan toh kita tidak rugi-rugi amat, begitu penjelasan Marchella.

Saya setuju dengan Marchella. Bagi sebagian orang kesenangan menulis tidak pernah bisa dihambat. Ketika melihat atau merasakan sesuatu tangan sudah gatal saja ingin menuangkannya dalam lembaran kosong, entah itu di kertas, layar komputer ataupun sekadar cuitan di Twitter dan feed di Facebook.

Instagram yang dulu lebih banyak untuk berbagi foto-foto pun kini disertai narasi panjang. Inilah buktinya masih banyak orang yang senang menulis, alih-alih telah beralih ke video.

Beberapa tahun silam saya telah tergabung dalam platform bersama atau istilahnya bentuk jurnalisme warga. Namun saya juga vakum menulis di sana beberapa tahun. Selama ini lebih asyik menulis di dinding Facebook. Ketika saya kembali ingin menulis di sana ternyata lingkungannya sudah banyak berubah, termasuk aturan-aturan yang diterapkan sehingga terasa tidak bebas. Lalu saya kembali teringat sebelum menulis dalam platform seperti itu, saya sudah memiliki wadah sendiri untuk menulis dan selama ini terbengkalai.

Blog pertama saya ada di blogspot, itu pun sudah lama tidak ditengok, lalu saya membuat lagi beberapa di platform yang berbeda untuk beberapa keperluan. Umumnya untuk membuat website secara murah atau gratis dengan konten macam-macam. Kesenangan blogging dan membuat website mempunyai masa dan kejayaannya sendiri.

Blog yang agak serius setelah blogspot adalah blog saya di wordpress ini. Meskipun nasibnya akhirnya juga sama. Terbengkalai. Sayang juga, sudah bayar berlangganan selama sekitar lima tahun dianggurkan saja. Tanami lagi ah dengan tulisan-tulisan.

Kini, entah karena masa karantina dan pandemi ini yang membuat banyak waktu, saya bertekad untuk menghidupkan lagi blogging atau menulis di blog pribadi ini. Minimal sehari satu tulisan. Ah kamu, dari dulu juga berniat seperti itu. Insya Allah, kali ini bisa istiqomah. Aamiin. Turut doakan ya teman-teman. Kita akan saling dukung untuk blogging ria. Semoga berfaedah ya. Aamiin.

Apalagi kemarin saya sempat membaca tulisan teman yang kangen ada event untuk Blogger. Kapan ya Hari Blogger Nasional? Barusan googling, ternyata 27 Oktober. Patut kita rayakan lagi nih. Ramaikan. Hehehe…

Hidup Blogger. Viva Blogger!

Hai Pengusaha Taksi, Beradaptasi dan Berinovasilah

apps-mobile-smartphone-ss-1920-800x450
Bisnis berbasis aplikasi sudah jadi keniscayaan. Sumber: searchengineland

Ah!kamu norak banget. Kejadian demonstrasi anarkistis sopir taksi hari ini di Jakarta sungguh memprihatinkan dan menunjukkan betapa cupet-nya pikiran orang-orang di balik demo tersebut. Perkembangan teknologi saat ini sungguh berlari kencang merambah ke banyak sektor, termasuk transportasi.

Sebetulnya sebelum terjadi kasus katakanlah sebagai taksi online vs konvensional ini, industri musik, buku dan advertising telah mengalami terlebih dahulu. Sebagai contoh, penjualan musik digital secara online melalui iTunes milik Apple telah melibas toko musik konvensional yang menjual kaset dan CD. Lalu hadirnya ebook yang juga dijual secara online, juga hadirnya toko online semacam Amazon telah merebut pangsa pasar toko buku konvensional.

Di sektor advertising atau periklanan, para agency juga menghadapi konsep iklan pay per click atau pay per view yang berbiaya jauh lebih murah. Pengiklan hanya akan membayar jika iklannya ditonton atau di-klik tautannya oleh pengguna internet. Berbeda dengan masa sebelumnya para agensi iklan menangguk keuntungan besar dengan pemasangan iklan di majalah, koran dan televisi, tidak peduli iklan itu terbaca, ditonton atau tidak.

Lalu apa yang dilakukan penggiat industri musik, buku dan periklanan? Apakah mereka melakukan demo? Turun ke jalan menuntut penutupan iTunes store, Amazon, atau Google dan Facebook yang berperan sebagai agen iklan konsep baru ini? Tidak tuh. Mungkin pada awalnya sebagian dari mereka mengeluhkan bentuk-bentuk dan model baru produk dan sistem penjualannya, tetapi langkah-langkah yang mereka ambil sungguh menjadi teladan yang baik bagi pengusaha taksi di negeri ini.

Penerbit musik dan buku beradaptasi dengan juga membuat musik digital dan ebook sebagai salah satu bentuk baru dari produk mereka. Toko buku dan toko musik juga mulai membuka toko online dan juga membuat aplikasi untuk smartphone agar menjangkau dan memenuhi kebutuhan konsumen baru mereka.

Agensi iklan juga mencari dan mengikuti bentuk iklan baru agar masih bisa survive di bisnis mereka. Regulasi terhadap produk dan cara penjualan baru ini di negara kita juga belum sepenuhnya memenuhi dan memuaskan keinginan pelaku bisnis di sektor musik, buku dan periklanan. Memang menjadi PR dan tantangan pemerintah dan pembuat regulasi untuk mengejar lari superkencang teknologi informasi agar bisa membuat peraturan yang benar-benar menjadi tata kelola yang baik bagi bisnis berbasis internet ini, tanpa merugikan cara-cara lama.

Perubahan adalah keniscayaan. Jargon ini sudah sering kita baca dan dengar dan kini saatnya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tuntutan stop atau tutup industri kreatif berbasis internet seperti Uber, Grab, GoJek hanya membuat kita terlihat naif dan cupet tadi. Cupet di sini bisa diartikan sebagai orang yang sudah putus asa dan tidak mau berinovasi serta mentok pada cara-cara lama. Dengan menutup aplikasi yang dirasakan manfaatnya bagi sebagian besar konsumen ini justru akan menyulitkan pembuat regulasi menyusun peraturan yang benar-benar akan memenuhi kebutuhan. Biarlah syarat minimal dari undang-undang atau regulasi yang ada dipenuhi oleh bentuk industri baru ini lalu sambil berjalan dilakukan evaluasi dan perbaikan.

Sekali lagi, tuntutan penutupan aplikasi berbasis internet ini menunjukkan sikap manja dan kekanak-kanakan pelaku bisnis taksi. Sambutlah dunia baru ini dengan menyerap, beradaptasi, dan berinovasi.

Akankah Kamu Jadi Penyebar Fitnah?

social-media
Sumber gambar: techtimes

Ah!kamu mudah sekali tergoda untuk sharing berita atau tulisan di akun medsos kamu. Kejadian seperti ini memang marak dalam beberapa tahun terakhir sejak makin banyaknya pengguna medsos.

Ketika kita baca tulisan tentang suatu peristiwa yang berkenan di hati atau sesuai pemikiran kita, kita langsung share tulisan itu di akun FB, Twitter, atau medsos lain. Padahal kebenaran tulisan tersebut masih diragukan atau bahkan mungkin sama sekali berbeda dengan fakta. Kalau tulisan itu hanya tentang peristiwa ringan, dampaknya mungkin tidak seberapa. Akan tetapi, kalau sudah menyangkut pribadi seseorang apalagi berbau kebencian, sadarkah apa yang yang telah kita lakukan? Fitnah! Ya, sama saja kita telah menyebarkan fitnah.

Banyak dari kita mungkin telah terbiasa menyebarkan fitnah semacam ini. Kita sudah dilatih oleh media konvensional seperti TV yang memiliki acara penyebar gosip berbalut nama infotainment. Di sana seringkali terjadi pemberitaan tentang pribadi pesohor atau selebriti yang belum tentu kebenarannya. Setelah melihat tayangan tersebut, serta-merta kita menyampaikan ke teman kita dan memperbincangkannya, kadang-kadang menambahi dengan opini kita sendiri yang kian berkembang dari fakta.

Menyebarkan berita atau tulisan yang belum tentu sesuai fakta ini makin berkembang dengan bertambahnya pengguna internet baru, atau orang yang baru melek medsos (media sosial). Umumnya mereka menganggap benar adanya segala sesuatu yang berseliweran di timeline FB, kicauan Twitter, posting-an Path atau Instagram. Apalagi sekarang makin banyak website atau blog yang seolah-olah media pemberitaan resmi. Padahal kini dengan mudahnya orang membuat website atau blog, hanya dalam beberapa menit bisa jadi dan menyebarkan tulisan yang seolah berita.

Orang-orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang awam yang mudah sekali percaya dengan iklan yang ditayangkan TV. Pernah kan menemui orang seperti ini? Misalnya setelah melihat iklan minuman dengan perasa jeruk yang di sana disebutkan segala kelebihan yang seolah-olah sama dengan jeruk asli atau bahkan lebih, ia akan ambil mentah-mentah informasi itu dan mengubah perilakunya mengonsumsi jeruk.

Umumnya orang semacam itu adalah orang awam yang kurang pengetahuan atau kurang pendidikan. Akan tetapi, sangat kita sayangkan kejadian penyebaran berita/tulisan fitnah di medsos itu tidak hanya dilakukan oleh orang awam atau tidak berpendidikan. Orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi hingga sarjana atau bahkan berprofesi pendidik semisal dosen pun ikut terbawa.

Justru orang berpendidikan tinggi tapi berperilaku awam seperti ini lebih berbahaya. Mereka dengan kemampuan berbahasa membalut dan menambah opininya sendiri sehingga seolah-olah tulisan yang dia share makin meyakinkan. Orang semacam ini sungguh sudah tertutup hatinya demi tujuan yang ia perjuangkan yang umumnya adalah popularitas (semu) dan bisa saja dia dibayar sebagai buzzer pihak tertentu.

Mungkin orang semacam itu berkedok menyampaikan kritik, tapi kita sudah bisa melihat mana kritik mana kebencian. Tulisan yang hanya memperlihatkan keburukan yang belum tentu benar, tanpa memberi solusi di bagian akhirnya sudah jelas itu hanya penyebar kebencian bahkan fitnah.

Akankah kamu ikut-ikutan jadi orang semacam itu? Sadarkah yang telah kamu lakukan? Mungkin kamu hanya akan mendapatkan imbalan popularitas dan sejumlah uang (sebagai buzzer), tapi kamu telah menjadi penyebar fitnah yang di agama apa pun dilarang dan bernilai dosa besar.

Yang kita tuliskan di timeline medsos dengan mudahnya menyebar, sekalipun kamu menyesalinya dan sudah menghapusnya, tulisan itu mungkin sudah telanjur menyebar dan dikutip (copas) banyak orang. Kalau sudah begitu, perbuatan dosa kita akan terbawa hingga kita mati.

Coba renungkan lagi…

Medsosku Bukan Seluruh Hidupku

social media
Source: jsums.edu

Ah!kamu suka gitu deh. Hampir semua teman kita saat ini memiliki akun di media sosial (medsos) seperti FB, Twitter, Instagram, dan Path. Mereka asyik-asyik hampir setiap hari posting status, catatan, kicauan, foto, lagu dan tautan-tautan dari sumber lain. Dulu, pada awalnya saya sering menilai seseorang dari dinding Facebook-nya, kicauan di Twitter-nya, foto di Instagram-nya, atau meme yang ia pajang di Path-nya. Apalagi, bila teman itu adalah teman sebatas medsos, tanpa pernah kopi darat alias ketemu langsung in person.

Beberapa teman sebatas medsos seperti ini akhirnya ada kesempatan untuk bertemu langsung. Saat ketemu tersebutlah penilaianku terhadap orang itu jadi berubah. Dia tidak sejutek kicauannya, dia tidak secongkak statusnya, dan dia juga tidak seglamor foto-fotonya. Nah kan…

Mungkin ada satu dua karakter yang tercirikan dari status dan sharing-nya, tapi tidak semua. Dan penilaiaan atas seseorang berdasarkan medsos memang tidak fair.

Inti utamanya, sebetulnya sih jangan pernah menilai seseorang dari apa pun, bahkan hanya dari medsos mereka. Tugas kita bukan menilai-nilai, kita bukan guru atau juri buat seseorang. Hidup mereka adalah hidup mereka sendiri, hidup saya adalah hidup saya juga sendiri.

Asalkan status atau apa pun yang mereka pasang dan pajang di medsos tidak mengganggu kita, ngapain juga meributkan. Atau seandainya hal itu mengusik pandangan kita terhadap suatu topik atau masalah, kita bisa berkomentar. Saling berkomentar atau berdiskusi secara baik dan sehat tentu akan menarik serta menuju pemahaman baru demi kebaikan bersama.  Akan tetapi, bila akhirnya kita saling bersikukuh terhadap pandangan masing-masing dan berkembang jadi debat kusir berkepanjangan, ya sudahlah akhiri saja. Tidak ada gunanya saling berbantah.

Apabila hal itu terjadi terus-menerus ya abaikan saja, atau gunakan senjata pamungkas di medsos, yaitu unfollow atau bahkan unfriend. Gampang ‘kan? Unfriend di sini kan sebatas di media sosial, di dunia maya. Bukan berarti kita memutuskan tali silaturahmi sebenarnya. Tapi, seandainya putus pun dengan teman sebatas medsos seperti itu toh juga gak ada salahnya, daripada dia akan mengotori hari-hari kita dan membuat kita akan menyakiti hati orang lain.

Ah!kamu… (bener juga) 😀