Berkah Covid-19 Melalui Masker Batik

Saya ingin bercerita sedikit di balik Masker Batik yang saat ini sedang buka order di sini. Semua berawal dari pandemi Covid-19 yang di negeri kita mulai merebak awal Maret tahun ini. Pandemi atau wabah ini bisa dikatakan musibah, kita semua tidak ingin mengalami, tetapi di balik musibah selalu ada hikmah dan berkah.

Sejak akhir Maret atau awal April, kehidupan dan cara menjalani hari-hari kita seakan berubah. Kita tidak bisa bebas keluar rumah, selalu dibayangi rasa waspada tertular virus Covid-19. Pergi ke luar rumah kalau tidak penting amat tidak akan dilakukan. Kalau terpaksa harus keluar rumah kita harus menjalani serangkaian protokol seperti mengenakan masker, membawa cairan desinfektan, dan menjaga jarak dengan orang lain minimal dua meter.

Beberapa teman yang bekerja di sektor publik atau menjadi relawan penanggulangan Covid-19 tentu saja tidak seperti kebanyakan orang. Mereka mau tidak mau harus pergi ke tempat kerja atau base camp mereka. Mereka harus berhadapan langsung dengan banyak orang, termasuk orang yang sudah tertular Covid-19. Kita tidak pernah tahu karena ada beberapa yang positif Covid-19 tetapi tidak menampakkan gejala. Oleh karena itu, mereka membutuhkan masker sebagai salah satu alat protokol agar tidak tertular. Saat itu masker jadi barang yang sulit didapatkan, kalau pun ada harganya relatif mahal.

Seorang teman yang berprofesi sebagai dokter meminta bantuan untuk menyediakan masker yang dapat dipakai oleh orang-orang yang harus bekerja menghadapi publik seperti ini. Katanya, masker kain sudah cukup, tidak perlu masker medis seperti yang digunakan dokter atau paramedis di rumah sakit. Saat itu sebagai awal ia minta disediakan sekitar 300 lembar masker. Bahan berupa kain perca diberikan dan kebetulan di rumah juga tersimpan kain perca sisa pekerjaan kerajinan tangan sebelumnya. Istri yang memang hobi menjahit menyanggupi permintaan tolong tersebut dengan pengerjaan bertahap untuk selanjutnya dikirim ke beberapa tempat. Dengan niat menolong kami bahu-membahu (saya melakukan apa yang bisa saya lakukan seperti menggunting pinggiran masker dan tali) selama beberapa hari kami mengerjakan pesanan tersebut hingga selesai.

Setelah misi amal tersebut selesai, ternyata beberapa teman yang mengetahui pembuatan masker tersebut “nitip” dibuatkan beberapa masker juga dengan jumlah dari sepuluh hingga dua puluh lembar untuk keluarga atau lingkungan mereka. Kami hanya meminta ongkos kirim karena memang pada awalnya kami berniat membantu. Akan tetapi, beberapa teman yang nitip tersebut malah menyarankan untuk ditarik biaya. Akhirnya kami hanya meminta biaya secara sukarela saja. Lalu istri saya mulai memiliki gagasan untuk memanfaatkan kain perca batik yang ada di rumah untuk kebutuhan masker kami sendiri. Sebelumnya masker-masker yang kami buat hanya menggunakan kain katun biasa, bukan batik.

Masker-masker batik yang terlihat unik dan cantik tersebut kami pajang di instagram. Dari situlah mulai bermunculan tanggapan teman di media sosial yang menyatakan ingin membeli masker-masker tersebut. Setelah memperhitungkan beberapa hal, termasuk persediaan bahan dan kesanggupan mengerjakannya, beberapa PO (pre-order) kami terima. Terus terang kami kewalahan menerima tanggapan yang tidak pernah terduga dari teman-teman tersebut. Pada awal PO saja sekitar 100 lembar masker sudah dipesan.

Penyelesaian order pertama tersebut membutuhkan waktu hingga dua minggu yang sebelumnya kami jadwalkan seminggu. Selesai PO batch pertama, kami buka PO batch kedua dan langsung disambar sekitar 100-an lembar orderan lagi hingga kami harus menutup PO. Oleh karena sang penjahit mengerjakannya dengan “hati” sehingga tidak bisa diburu-buru. Ia selalu memperhatikan kalau-kalau ada jahitan yang kurang rapi, mempertimbangkan motif yang sesuai, potongan motif dan seterusnya sehingga membutuhkan waktu lebih lama.

Batch ketiga dan seterusnya terpaksa dihentikan dibuka secara umum karena pemesan sebelumnya banyak yang repeat order. Mau tidak mau kami menerima permintaan mereka. Akhirnya dengan kemampuan penyelesaian masker yang hanya 60-70 lembar per minggu kami memenuhi pesanan para pengorder. Padahal sebelumnya kami akan mempersiapkan stock agar pemesan tidak harus menunggu lama, tetapi semua itu tidak bisa terlaksana.

Mohon maaf kalau akhirnya kami harus menutup pembukaan PO berikutnya. Kami masih mengerjakan beberapa pesanan yang telah kami sanggupi dengan kecepatan pengerjaan yang ada.

Kami hanya bisa bersyukur dan mengucap alhamdullilah karena kami memiliki sebuah kesibukan lain selama karantina mandiri.

New Normal, Kebiasaan Baru dalam Tata Hidup?

Welcome to New Normal (Ilustrasi: free pics)

Sudah sekitar tiga bulan kita melakukan karantina mandiri terkait dengan pandemi Covid-19. Istilah WFH (work from home), hashtag dirumahaja, stayhome, belajardirumahaja mulai terbiasa di telinga kita. Protokol pencegahan wabah seperti sering cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, mengenakan masker ketika di tempat umum, menjaga jarak minimal dua meter dengan orang lain dan seterusnya juga telah kita terapkan.

Ketika awal Maret 2020 Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia lalu selanjutnya mulai bertambah dengan cepat, kecemasan, ketakutan dan berbagai perasaan semakin berkembang. Lalu diiringi dengan informasi hoax yang makin membuat situasi tidak menentu. Ada sebagian kelompok meminta segera dilakukan lockdown. Ini juga menambah kosakata baru dalam perbincangan kita. Lalu ada rapid test, swab dan beberapa istilah lain terkait dengan pandemi ini.

Beberapa wilayah menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang bisa saja diartikan sebagai lockdown namun tidak seketat dari arti sebenarnya. Hanya kantor, institusi, dan toko tertentu yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat yang boleh buka dan beroperasi. Para pekerja juga demikian. Praktis hampir semua bekerja di rumah.

Beberapa acara dan kegiatan yang rencananya diselenggarakan di tempat umum dan mendatangkan masyarakat pun ditunda atau dibatalkan. Pameran, seminar, konser, dan lomba di berbagai bidang mau tidak mau dipikirkan ulang jadwal dan cara penyelenggaraannya. Akhirnya, kita menemukan bentuk baru yang sebetulnya tidak baru juga, yaitu secara online atau daring (dalam jaringan). Muncullah webinar, bincang live dan seterusnya.

Aplikasi video conference mendadak laris manis diunduh banyak orang. Zoom seketika mencuat sebagai aplikasi baru yang dipakai sebagai sarana seminar, workshop, dan meeting, meskipun sebelumnya telah ada Skype, Facetime dan beberapa fitur lain dari aplikasi perpesanan. Seiring itu muncul rumor ketidakamanan Zoom untuk video sharing yang sejatinya seperti sebatas rumor atau upaya untuk saling menjatuhkan dari pihak lain. Oleh karena sebetulnya ketika kita menggunakan internet dalam aktivitas kita, kita sudah memaparkan diri ke dunia maya dengan segala kemungkinan.

Instagram Live, Facebook Live juga jadi lebih ramai dari sebelumnya. Banyak acara bincang-bincang dilakukan, baik oleh para pesohor maupun khalayak umum. Berbagai tema dan bentuk diangkat dalam perbincangan tersebut. Latihan-latihan yang sebelumnya dilakukan secara bertemu langsung juga banyak dilakukan secara Live ini. Misalnya latihan yoga bersama, latihan menggambar, latihan masak dan lain-lain. Ada sebagian yang gratis, yang berbayar atau sistem donasi pun banyak.

Setelah melalui itu semua dalam beberapa bulan terakhir, lalu muncul istilah New Normal atau kenormalan baru. Apa pun istilahnya atau namanya, mau tidak mau setelah semua ini terlewati dengan kondisi di depan yang tidak pernah kita tahu akan ada hal-hal baru yang kita lakukan. Akan tetapi, bukankah setiap hari kita mengalami hal baru begitu bangun tidur dan menjalani kehidupan. Bedanya, mungkin kali ini kita semua menghadapi sesuatu yang relatif besar secara bersama-sama.

Menurut saya New Normal atau apalah namanya hanya sebagai penanda yang bisa dikatakan bisa dipakai atau pun ditiadakan. Tidak terlalu penting ada atau tidak nama dari moment hidup yang mungkin akan terasa besar bagi kita semua karena masyarakat secara global mengalaminya. Intinya, istilahnya tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah perubahan sikap kita dalam beberapa hal.

Kenormalan baru, tatanan baru, kebiasaan baru memang akan selalu terjadi selama hidup masih bergulir. Manusia dikarunia kemampuan beradaptasi, mempertahankan diri, dan berimprovisasi serta berkreasi. Dengan bekal itu pulalah secara individu maupun bersama-sama kita akan berusaha menjadi manusia lebih baik dari waktu ke waktu.

Ada upaya, lalu ikhlas, dan bersyukur. Tiga kata tersebut yang akan menuntun kita menuju BAHAGIA.