Penampakan di Kebon Kosong

Beberapa waktu lalu di salah satu WA Group yang saya ikuti, teman-teman bercerita tentang kisah menyeramkan terkait dengan makhluk gaib yang pernah mereka alami. Saya lalu teringat kejadian beberapa tahun silam. Saat peristiwa ini terjadi di sekitar rumah saya belum sepadat seperti sekarang. Masih banyak kebon dan tanah kosong.

Ini tentu saja bukan abang ojek yang lagi ketakutan. (Sumber: medium.com)

Seperti biasa malam itu saya pulang kerja naik ojek dari stasiun KRL menuju rumah. Kebetulan malam itu turun hujan lumayan lebat. Untung tukang ojek langganan saya pakai jas hujan model ponco sehingga saya bisa berlindung di bagian belakang jas hujannya. Meskipun masih kebasahan juga bagian kaki, lumayanlah kepala dan badan agak kering.

Menuju ke rumah saya ada dua pilihan. Satu, melewati gerbang atau gapura yang berarti lewat jalan besar yang agak lebih jauh. Satunya lagi, lewat jalan pintas berupa gang kecil. Tukang ojek ini biasanya memang mengambil jalan pintas yang hanya dapat dilalui motor atau pejalan kaki. Oleh karena sudah langganan saya tidak perlu memberitahu arah ke tukang ojek ini, lagipula saya tidak bisa melihat dengan jelas jalanan karena tertutup jas hujan.

Dari stasiun ke rumah saya biasanya butuh waktu sekitar 10 menit dengan naik sepeda motor. Setelah perjalanan sekitar 10 menitan dibonceng abang ojek, tiba-tiba sepeda motor berhenti. Saya mengira sudah sampai rumah. Saat itu hujan sudah tidak terlalu deras, hanya gerimis kecil. Saya singkap jas hujan yang melindungiku.

“Mas, motornya mogok. Gak bisa jalan,” kata abang ojek. Dan ketika saya lihat sekeliling, kami berada di tengah kebon kosong yang penuh semak-semak. Saya berusaha menenangkan diri. Saya tahu posisi kebon ini sebetulnya tidak jauh dari rumah, tetapi abangnya mengapa mengambil jalan ke sini padahal saya yakin dia sudah hafal rumah saya. Untuk masuk ke kebon ini kan melewati semak-semak. Sedangkan gang kecil yang biasa kami lewati plesteran.

Abang ojek terlihat agak sedikit panik. Sambil mencoba men-start motornya berulang kali, tetapi tidak berhasil. Awalnya saya ingin marah menyalahkan abang ojek mengapa salah arah, tetapi demi melihat raut mukanya yang panik, timbul rasa kasihan. Lalu saya menawarkan ambil lampu senter dan payung ketika abang ojek ini mulai mengoprek mesin sepeda motornya. Kebon itu memang gelap, hanya terlihat lampu-lampu dari rumah di kejauhan.

Saya bergegas pulang ke rumah untuk mengambil lampu senter dan payung. Jarak rumah dari kebon ini sebetulnya tidak terlalu jauh. Beberapa menit kemudian saya kembali ke tempat abang ojek, tetapi sudah tidak ada. Saya tidak berpikir macam-macam, saya hanya menyangka mungkin mesin sepeda motornya sudah kembali normal. Saya pun balik pulang.

Keesokan malamnya saya bertemu lagi dengan abang ojek tersebut di pangkalan ojek. Seperti biasa saya mau naik sepeda motor abang ojek tersebut. Anehnya, dia menolak dan menawarkan ke temannya yang lain untuk membawa saya. Kebetulan saya juga kenal dengan abang ojek yang ini.

Dalam perjalanan menuju rumah abang ojek yang membawa saya ini bercerita kalau temannya yang membawa saya kemarin masih ketakutan atau trauma. Waktu membawa saya kemarin malam itu temannya juga heran kenapa bisa membawa saya masuk ke kebon itu. Seperti ada yang mengarahkan ke sana, katanya. Lalu saat dia menunggu saya mengambilkan lampu senter, dia melihat sesosok menakutkan di balik pohon di kebon itu. Seketika dia kabur menuntun sepeda motor yang masih belum bisa dijalankan setengah berlari. Baru sekitar beberapa puluh meter menjauh, mesin sepeda motornya bisa dijalankan.

Eng ing eng…

Penyerbukan Bunga Blewah

Di rumah, kami sedang senang berkebun, terutama istri saya. Ia memanfaatkan lahan yang sempit di depan rumah untuk bertanam secara hidroponik dan di pot-pot. Ada banyak jenis tanaman, umumnya sayuran seperti okra, kale, selada, kangkung dan terong. Kami sudah menikmati hasil tanaman ini untuk makanan sehari-hari, alhamdulillah.

Selain tanaman sayuran, istri saya juga menanam buah-buahan, salah satunya adalah blewah. Dalam beberapa minggu benih blewah ini cepat tumbuh merambat di teras yang kami buatkan rambatan sederhana dengan tali. Tanaman blewah ini mulai berbunga dan harus dilakukan penyerbukan agar cepat berbuah.

Bunga blewah betina.

Di satu pohon blewah terdapat dua jenis bunga, yaitu bunga betina dan bunga jantan. Bunga betina tandanya ada gembung di bagian belakangnya, sementara bunga jantan tidak memiliki gembung tersebut. Jumlah bunga jantan umumnya lebih banyak dibandingkan bunga betina.

Bunga jantan.

Proses penyerbukan secara manual atau buatan dilakukan dengan cara menaburkan serbuk bunga jantan ke bunga betina. Hal ini sebetulnya bisa dilakukan oleh serangga secara alami, tetapi agar lebih cepat dilakukan secara buatan oleh kita.

Penyerbukan buatan.

Proses ini akan terlihat hasilnya sekitar seminggu dengan ditandai bunga betina akan berubah membesar dan gugur kelopak-kelopaknya, perlahan jadi buah. Kita tunggu ya semoga proses ini berhasil.

Tentang alami dan buatan, kalau kita yang melakukan penyerbukan sepertinya juga alami ‘kan? Tapi, mungkin kita memang secara sadar melakukan atau membantu penyerbukan ini. Sedangkan serangga mungkin secara tidak sengaja, sambil ia mengisap sari madu di antara bunga-bunga itu, serbuk sari bunga jantan terbawa ke bunga betina.

Sok tahu lo! Hehehe… Bisa jadi serangga memang sengaja membantu, ‘kan mereka memang mak comblang perkawinan bunga-bunga.

Ah, kamu… (eh muncul lagi jargon ini).

Masa Kecil yang Indah

Jelas ini bukan foto masa kecil saya. Hanya sebagai ilustrasi. (Sumber: activeforlife.com)

Terkenang masa-masa kecilku

Apa yang ku minta selalu saja ada

Senangnya aku selalu dimanja

Dari Mama dari Papa cium pipiku dulu

Itu cuplikan lirik lagu Elfa’s Singers – Masa Kecilku yang ngetop tahun 80-an yang kemudian dinyanyikan ulang oleh Payung Teduh zaman sekarang. Lagu yang indah, paduan suara yang juga merdu. Menggambarkan kenangan masa kecil yang indah dan menyenangkan.

Masa kecil saya di sebuah kota pesisir pantai Utara Jawa Timur memang tidak semenyenangkan kisah dalam lirik lagu tersebut. Di situ kan pengen apa saja selalu dipenuhi, seperti minta sepeda dan boneka. Sementara pada masa kecil saya, saya masih ingat minta dibelikan sepeda mini saja tidak pernah dituruti. Saat itu memang sedih, tetapi waktu beranjak mulai remaja saya menyadari bahwa orang tua saya bukan keluarga mampu. Akan tetapi, kami selalu mempunyai cara sendiri untuk senang dan bahagia.

Saya tidak pernag memiliki sepeda sendiri. Saya belajar mengemudi sepeda menggunakan sepeda besar atau sepeda dewasa milik bapak saya yang kini sering disebut sepeda onta. Masih ingat belajar sepeda dengan pantat belum sampai ke sadel atau dudukan sepeda. Jadinya seru banget. Awalnya bisa naik sepeda dengan cara tidak duduk di sadel dengan pantat miring ke kiri atau ke kanan. Lalu seiring bertambah besar lama-lama sudah bisa duduk di sadel, tetapi kaki masih berusaha menggapai-gapai pedal. Lama-lama akhirnya bisa bersepeda dengan posisi duduk sempurna.

Keinginan punya sepeda ini sampai saya bela-belain ikut kuis di majalah anak-anak Ananda atau Tom Tom yang sering memberi hadiah sepeda untuk pemenang utama salah satu kuis yang ada di majalah tersebut. Saya masih ingat bentuk sepeda mini tersebut dengan kedua ujung stangnya ada rumbai-rumbai. Ugh… membayangkan memiliki sepeda tersebut rasanya sudah senang sekali.

Beberapa kali ikut kuis di majalah anak-anak tersebut tidak juga membuahkan hasil memenangi sepeda hingga akhirnya tinggal jadi impian dan harapan yang tidak pernah terwujud. Sudah cukup senang naik sepeda onta atau jengki (yang agak kecilan) milik kakak saya atau pinjam punya tetangga.

Lalu boneka? Tentu saja, saya tidak meminta boneka ke orang tua. Hahaha… Tetapi, saya masih ingat dulu sering membuat orang-orangan atau wayang dari daun singkong. Kalau tidak salah menggunakan beberapa tangkai daun singkong, yang dibentuk kepala, dua tangan dan tubuh. Boneka daun singkong itu bisa digerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mirip wayang golek.

Bermain orang-orangan atau wayang daun singkong itu saja sudah cukup membahagiakan kami anak-anak kampung. Kami mengarang cerita dan memainkan orang-orangan tersebut dengan penuh rasa suka cita.

Kami juga bermain mobil-mobilan. Anak-anak zaman dulu bisa dibilang kreatif. Kami biasanya membuat mobil-mobilan sendiri dari kertas karton bekas bungkus rokok atau kotak-kotak bekas. Kami menggunting dan mengelem kertas-kertas itu menyerupai body mobil. Roda-rodanya terbuat dari kayu yang dibentuk lingkaran dan dilapisi karet. Saya masih ingat ada tetangga saya yang saat itu sudah lebih besar. Dia pintar sekali membuat mobil-mobilan dari kertas yang mirip aslinya. Dia bentuk seperti truk atau bus, lengkap di dalamnya ada sopir dan penumpang.

Kami menarik mobil-mobilan kertas itu dengan tali berkeliling kampung. Permainan itu sudah sungguh menyenangkan kami. Rasanya seperti melakukan road trip. Hahaha…

Selain bermain menggunakan mainan buatan sendiri, ada banyak permainan yang kami lakukan di halaman seperti gobag sodor, betengan, patil lele atau benthik, sunda manda, dan masih banyak lagi. Kapan-kapan nanti kita bercerita tentang permainan-permainan ini.

Masa kecil memang selalu indah untuk dikenang meskipun dengan segala keterbatasan.

Bagaimana dengan kenangan masa kecil, teman-teman?

Ritual Bulan Juni

Lapak majalah seperti ini suka bikin ngiler. (Sumber: britannica.com)

Juni bagi saya selalu jadi bulan yang istimewa. Alasannya biasa, pada bulan inilah tanggal lahir saya berada. Dan kebetulan pula, ada beberapa tanggal penting pada bulan ini, hari lahirnya Pancasila, hari lahirnya Bapak Pendiri Bangsa kita sekaligus salah satu Proklamator Kemerdekaan NKRI, Soekarno, Hari Ulang Tahun DKI Jakarta, dan kini ditambah dengan hari lahir Bapak Presiden yang sekarang, Pak Jokowi.

Pada bulan ini juga ada peringatan International Day of Yoga yang jatuh pada 21 Juni. Sama dengan tanggal lahir saya dan Pak Jokowi, Pak Ignasius Jonan juga kalau mau ditambahkan. Hehehe…

Dulu saat awal-awal kerja, secara pribadi selalu merayakan atau setidaknya menandai hari ulang tahun saya dengan kebiasaan yang mungkin tidak biasa bagi teman-teman. Tepat pada hari ulang tahun saya, saya membeli hampir semua majalah dan koran yang terbit saat itu. Kalau koran saya beli yang terbit tepat pada tanggal 21 Juni. Sedangkan majalah yang terbit bulan Juni atau minggu hari kelahiran. Oh ya, tentu saja majalah yang saya sukai ya.

Majalah yang saya sukai atau saya baca ya Tempo, Matra, Hai, dan kadang beli beberapa majalah komputer, Intisari, dan Swa. Saya sendiri tidak tahu alasan pastinya saya melakukan hal itu. Yang jelas saya memang lebih suka baca majalah dan koran, ketimbang baca buku. Sejak SD saya sudah suka membeli majalah anak-anak, tidak berlangganan karena orang tua saya bukan orang yang mampu berlangganan. Berlangganan apa pun, tidak hanya majalah.

Biasanya saya menabung dari uang jajan atau uang pemberian Pak Dhe, Bu Dhe. Majalah yang saya beli dan baca seingat saya ada Majalah Kuncung, Kuncup, Ananda, Tom Tom, Kawanku, dan Bobo. Saya tidak ajeg membelinya. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan baru beli. Tergantung kapan uang tabungan sedang banyak. Kalau tidak beli, saya nebeng baca di rumah teman yang berlangganan atau pinjam di perpustakaan.

Kebiasaan suka baca majalah terbawa sampai SMP, SMA dan kuliah. Ketika SMP sampai SMA saya baca Hai, Mode, Anita Cemerlang, kadang-kadang mengintip majalah Gadis juga. 🙂 Zaman SMP-SMA ini saya juga membeli kalau lagi punya uang saja, tidak pernah berlangganan. Salah satu toko majalah dan buku favorit di Kota Tubanmajalah, namanya Toko Nam. Meskipun toko atau lebih tepatnya kios ini kecil, tetapi memiliki koleksi majalah yang sangat lengkap menurut ukuran saya kala itu.

Lalu zaman kuliah saya mulai baca Tempo, Editor, Tabloid Monitor, Matra, Swa(Sembada), InfoKomputer dan beberapa majalah lain. Nah, pada saat kuliah di Bandung saya menemukan “surga” untuk mencari majalah dengan harga murah. Saya sering nongkrong di Cikapundung untuk memilih-milih majalah bekas yang masih dalam kondisi baik. Umumnya terbitan telah seminggu atau dua minggu atau satu periode terbitan.

Uang kiriman dan tabungan dari beasiswa saya sisihkan untuk membeli majalah bekas ini. Saya bisa berlama-lama memilah-memilih di lapak-lapak di sepanjang Jembatan di atas Kali Cikapundung, Bandung ini.

Saat sudah mulai bekerja saya mulai dapat membeli atau berlangganan majalah yang saya sukai, baik majalah dari dalam negeri maupun luar negeri. Majalah luar yang pernah saya langgan adalah Time, Newsweek, dan The Economist. Hingga akhirnya era majalah cetak ini mulai berkurang karena terganti versi digital. Saya pun menghentikan langgganan beberapa majalah. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir saya mulai langganan mahalah lagi sesuai minat yang mulai muncul, yaitu majalah Yoga Journal. Sesekali beli Fast Company dan Wired.

Sebetulnya keasyikan baca majalah cetak belum dapat tergantikan dengan versi digital, sama halnya dengan buku. Dalam hal ini saya masih masuk dalam golongan kolonial, bukan milenial. Hehehe…

Rutin, Syukuri, Bahagia

Setiap kehidupan patut disyukuri. (Dok. Pribadi)

Bangun tidur. Seperti biasa.

Beraktivitas. Seperti biasa.

Kembali tidur. Seperti biasa.

Berulang.

Puluhan tahun.

Kalau hidup dipercepat mungkin akan seperti itu.

Mungkin secara garis besar kita mengalaminya.

Berulang-ulang.

Rutin.

Lalu tambahkan rasa syukur dan terima kasih di sela-sela aktivitas.

Lebih dalam.

Tidak hanya kata-kata.

Resapi.

Maknai.

Bahagia.

Mari Berlari (tidak dari Kenyataan)

Salah satu Run Race di Monas Jakarta

Oh ya, saya belum cerita tentang hobi baru saya di sini, yang mulai tahun lalu aku lakukan. Apakah itu? Lari. Meskipun saat ini terhenti sejak kebijakan karantina dan PSBB di Jakarta terkait Covid-19, saya sungguh menyenangi hobi menyehatkan ini.

Bermula ketika ITB mengadakan Ultra Marathon, lomba lari sejauh 170-200km dari Jakarta ke Bandung sejak 2017. Kala pertama dan kedua diadakan saya hanya bagian support teman-teman seangkatan yang ikut lari. Waktu penyelenggaraan ketiga tahun 2019, seorang teman mengajak untuk ikutan lari. Tentu saja bukan lari single sejauh 200km, hanya dalam kelompok Relay 18 orang yang berarti masing-masing lari sekitar 10-13km.

Wow! Lari 10km? Satu atau dua kilometer saja tidak terbayangkan sebelumnya. Teman saya ini meyakinkan kalau saya pasti bisa, sementara saya masih ragu-ragu, apalagi pada usia sudah tidak muda lagi ini. Bayangannya sudah “engap” saja napas. Dengan bekal latihan pernapasan yoga selama ini, kata teman saya, saya pasti bisa berlari dengan baik.

Akhirnya saya bilang saya mau terima tantangannya, tetapi minta ditempatkan di etape yang datar. Untuk persiapan menuju event besar tersebut, tiga bulan sebelumnya saya latihan jogging di sekitar rumah. Benar, baru lari 500 meter saja sudah terengah-engah. Beberapa teman yang sudah lari sebelumnya meyakinkan lama-lama nanti akan terbiasa dan menemukan pola napas dan cara berlari yang sesuai dengan profil tubuh.

Lalu saya membekali dengan menyimak cara berlari yang benar di YouTube, saya terapkan dan memang beberapa kali latihan kemudian sudah kuat berlari sampai 1-2km tanpa henti. Jarak 5 km adalah target berikutnya dan dalam beberapa minggu akhirnya saya mampu berlari sejauh 5km dengan pace yang sedang saja.

Untuk menguji mental dalam lomba, saya memutuskan ikutan event lari sebelum menuju “The Big Day”. Acara run race pertama yang saya ikuti adalah Charity Run di Kebun Binatang Ragunan yang diadakan oleh Habitat Foundation. Saya mengambil jarak 5 km. Beberapa hari jelang acara lari tersebut sudah deg-degan saja. Bahkan malam sebelum race saya hampir tidak bisa tidur. Memang terdengar LEBAY… Hahaha harap maklum, ini yang pertama kali seumur-umur.

Hari perlombaan pun tiba. Pagi-pagi saya sudah menuju Ragunan menggunakan GoJek. Jadwal mulainya memang jam 6 pagi dan peserta sudah harus berkumpul di tempat sekitar jam 5 pagi. Ketika bendera Start dikibaskan dan semua peserta berlari, rasanya lega. Akhirnya ikutan bersama ribuan pelari menyusuri kandang-kandang binatang. Oleh karena memang tidak ada target, saya berlari sekuatnya saja. Kalau lagi kuat ya agak kencang, kalau sedang merasa tidak nyaman ya diperlambat. Dalam berlari saya pantang berjalan kaki karena pengalaman saya setelah berjalan kaki untuk memulainya akan terasa lebih berat. Jadi, saya jogging meskipun dengan kecepatan yang paling rendah sambil mengatur napas.

Akhirnya, finish juga di race pertama saya ini. Hadiah medali finisher cukup membahagiakan bagi pelari pemula ini. Dari race pertama ini mulai muncul semangat mengikuti race yang lain. Baru menyadari ternyata lomba-lomba lari jenis 10K-an ini banyak banget di Jakarta. Akhirnya saya ikut beberapa lomba lari yang 5K-an saja sebelum akhirnya tiba BNI ITB UltraMarathon (UM).

Rasa deg-degan ternyata masih ada jelang UM ini. Maklum ini akan jadi lari lebih dari 10K pertama saya, sebelumnya saya hanya ikut tiga kali lari 5K. Dan ini akan berlari estafet dengan teman-teman yang lain dalam satu grup. Saya kebagian lari sekitar 12km di dalam Perumahan Kota Baru Parahyangan, tiga etape sebelum finish di Kampus ITB.

Alhamdulillah, saya dan teman-teman dapat menyelesaikan lomba lari ini dengan selamat, tercapai target waktu yang diinginkan.

(Bersambung)

Viva Blogger, Kembali Menulis Yuk

Menulis Itu Murah

Setelah sekian lama vakum menulis di blog ini, tiba-tiba ingin rasanya kembali nge-blog. Awalnya saya kira blogging sudah tidak musim, kini telah beralih atau berubah menjadi nge-vlog karena banyak orang membuat video untuk menyampaikan gagasan, pendapat, atau sekadar obrolan sana-sini.

Video + Blog = Vlog

Rumus itu ternyata hanya istilah baru yang bukan perubahan ataupun evolusi dari blogging atau menulis. Seperti halnya ketika ada televisi, radio masih hidup. Jadi, menulis di blog tidak akan pernah punah atau mati, seperti halnya kegiatan menulis itu sendiri.

Meskipun vakum di blog, saya dan teman-teman juga mungkin terus menulis, baik untuk buku, di medsos, maupun buku harian (hello, masih ada yang menulis di buku harian yang benar-benar buku digembok?) Hehehe…

Beberapa waktu lalu saya mengikuti obrolan via Zoom dari Marchella FP, penulis NKCTHI (Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini) dalam rangka acara IIBF Talk. IIBF adalah Indonesia International Book Fair, kalau ada yang belum tahu. Dalam salah satu kesempatan dia berkata bahwa menulis adalah kegiatan seni paling murah dibandingkan seni yang lain, seperti menggambar atau main musik. Betul juga sih, hanya bermodal pensil atau pena kita bisa langsung menuangkan “karya seni” kita. Semudah dan semurah itu. Berbeda dengan menggambar yang butuh pensil warna dan buku gambar ataupun cat warna dan kanvas, lalu bermain musik yang butuh instrumen dan seterusnya. Kalau gagal dalam tulisan toh kita tidak rugi-rugi amat, begitu penjelasan Marchella.

Saya setuju dengan Marchella. Bagi sebagian orang kesenangan menulis tidak pernah bisa dihambat. Ketika melihat atau merasakan sesuatu tangan sudah gatal saja ingin menuangkannya dalam lembaran kosong, entah itu di kertas, layar komputer ataupun sekadar cuitan di Twitter dan feed di Facebook.

Instagram yang dulu lebih banyak untuk berbagi foto-foto pun kini disertai narasi panjang. Inilah buktinya masih banyak orang yang senang menulis, alih-alih telah beralih ke video.

Beberapa tahun silam saya telah tergabung dalam platform bersama atau istilahnya bentuk jurnalisme warga. Namun saya juga vakum menulis di sana beberapa tahun. Selama ini lebih asyik menulis di dinding Facebook. Ketika saya kembali ingin menulis di sana ternyata lingkungannya sudah banyak berubah, termasuk aturan-aturan yang diterapkan sehingga terasa tidak bebas. Lalu saya kembali teringat sebelum menulis dalam platform seperti itu, saya sudah memiliki wadah sendiri untuk menulis dan selama ini terbengkalai.

Blog pertama saya ada di blogspot, itu pun sudah lama tidak ditengok, lalu saya membuat lagi beberapa di platform yang berbeda untuk beberapa keperluan. Umumnya untuk membuat website secara murah atau gratis dengan konten macam-macam. Kesenangan blogging dan membuat website mempunyai masa dan kejayaannya sendiri.

Blog yang agak serius setelah blogspot adalah blog saya di wordpress ini. Meskipun nasibnya akhirnya juga sama. Terbengkalai. Sayang juga, sudah bayar berlangganan selama sekitar lima tahun dianggurkan saja. Tanami lagi ah dengan tulisan-tulisan.

Kini, entah karena masa karantina dan pandemi ini yang membuat banyak waktu, saya bertekad untuk menghidupkan lagi blogging atau menulis di blog pribadi ini. Minimal sehari satu tulisan. Ah kamu, dari dulu juga berniat seperti itu. Insya Allah, kali ini bisa istiqomah. Aamiin. Turut doakan ya teman-teman. Kita akan saling dukung untuk blogging ria. Semoga berfaedah ya. Aamiin.

Apalagi kemarin saya sempat membaca tulisan teman yang kangen ada event untuk Blogger. Kapan ya Hari Blogger Nasional? Barusan googling, ternyata 27 Oktober. Patut kita rayakan lagi nih. Ramaikan. Hehehe…

Hidup Blogger. Viva Blogger!

New Normal, Kebiasaan Baru dalam Tata Hidup?

Welcome to New Normal (Ilustrasi: free pics)

Sudah sekitar tiga bulan kita melakukan karantina mandiri terkait dengan pandemi Covid-19. Istilah WFH (work from home), hashtag dirumahaja, stayhome, belajardirumahaja mulai terbiasa di telinga kita. Protokol pencegahan wabah seperti sering cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, mengenakan masker ketika di tempat umum, menjaga jarak minimal dua meter dengan orang lain dan seterusnya juga telah kita terapkan.

Ketika awal Maret 2020 Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia lalu selanjutnya mulai bertambah dengan cepat, kecemasan, ketakutan dan berbagai perasaan semakin berkembang. Lalu diiringi dengan informasi hoax yang makin membuat situasi tidak menentu. Ada sebagian kelompok meminta segera dilakukan lockdown. Ini juga menambah kosakata baru dalam perbincangan kita. Lalu ada rapid test, swab dan beberapa istilah lain terkait dengan pandemi ini.

Beberapa wilayah menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang bisa saja diartikan sebagai lockdown namun tidak seketat dari arti sebenarnya. Hanya kantor, institusi, dan toko tertentu yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat yang boleh buka dan beroperasi. Para pekerja juga demikian. Praktis hampir semua bekerja di rumah.

Beberapa acara dan kegiatan yang rencananya diselenggarakan di tempat umum dan mendatangkan masyarakat pun ditunda atau dibatalkan. Pameran, seminar, konser, dan lomba di berbagai bidang mau tidak mau dipikirkan ulang jadwal dan cara penyelenggaraannya. Akhirnya, kita menemukan bentuk baru yang sebetulnya tidak baru juga, yaitu secara online atau daring (dalam jaringan). Muncullah webinar, bincang live dan seterusnya.

Aplikasi video conference mendadak laris manis diunduh banyak orang. Zoom seketika mencuat sebagai aplikasi baru yang dipakai sebagai sarana seminar, workshop, dan meeting, meskipun sebelumnya telah ada Skype, Facetime dan beberapa fitur lain dari aplikasi perpesanan. Seiring itu muncul rumor ketidakamanan Zoom untuk video sharing yang sejatinya seperti sebatas rumor atau upaya untuk saling menjatuhkan dari pihak lain. Oleh karena sebetulnya ketika kita menggunakan internet dalam aktivitas kita, kita sudah memaparkan diri ke dunia maya dengan segala kemungkinan.

Instagram Live, Facebook Live juga jadi lebih ramai dari sebelumnya. Banyak acara bincang-bincang dilakukan, baik oleh para pesohor maupun khalayak umum. Berbagai tema dan bentuk diangkat dalam perbincangan tersebut. Latihan-latihan yang sebelumnya dilakukan secara bertemu langsung juga banyak dilakukan secara Live ini. Misalnya latihan yoga bersama, latihan menggambar, latihan masak dan lain-lain. Ada sebagian yang gratis, yang berbayar atau sistem donasi pun banyak.

Setelah melalui itu semua dalam beberapa bulan terakhir, lalu muncul istilah New Normal atau kenormalan baru. Apa pun istilahnya atau namanya, mau tidak mau setelah semua ini terlewati dengan kondisi di depan yang tidak pernah kita tahu akan ada hal-hal baru yang kita lakukan. Akan tetapi, bukankah setiap hari kita mengalami hal baru begitu bangun tidur dan menjalani kehidupan. Bedanya, mungkin kali ini kita semua menghadapi sesuatu yang relatif besar secara bersama-sama.

Menurut saya New Normal atau apalah namanya hanya sebagai penanda yang bisa dikatakan bisa dipakai atau pun ditiadakan. Tidak terlalu penting ada atau tidak nama dari moment hidup yang mungkin akan terasa besar bagi kita semua karena masyarakat secara global mengalaminya. Intinya, istilahnya tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah perubahan sikap kita dalam beberapa hal.

Kenormalan baru, tatanan baru, kebiasaan baru memang akan selalu terjadi selama hidup masih bergulir. Manusia dikarunia kemampuan beradaptasi, mempertahankan diri, dan berimprovisasi serta berkreasi. Dengan bekal itu pulalah secara individu maupun bersama-sama kita akan berusaha menjadi manusia lebih baik dari waktu ke waktu.

Ada upaya, lalu ikhlas, dan bersyukur. Tiga kata tersebut yang akan menuntun kita menuju BAHAGIA.

Mari Berolah Raga

Light-Jogging-May-Be-Most-Optimal-for-Longevity
Jogging bisa jadi pilihan berolahrga. Sumber:scitechdaily

 

Ah!kamu hidup sehat dong. Selain kebutuhan makanan bergizi, untuk menjaga kesehatan jasmani manusia perlu melatih tubuh dengan banyak bergerak. Tentu saja bukan asal gerak, tetapi harus terarah, konsisten dan rutin. Kegiatan inilah yang sering kita sebut olah raga (OR).

Bentuk olah raga tentu saja banyak sekali, mulai dari jalan kaki, lari atau jogging, senam hingga olah raga yang bersifat permainan seperti badminton, futsal, dan basket. Semua kegiatan itu jika kita lakukan secara cukup dan teratur insya Allah tubuh kita akan terasa lebih fit dan segar sepanjang hari.

Salah satu tantangan dalam melakukan olah raga tentu saja adalah melawan kemalasan diri. Seringkali saat ingin memulai olah raga, ada banyak alasan untuk menghambatnya. Hambatan ini bisa datang dari dalam diri atau dari luar. Yang dari dalam misalnya pikiran merasa lelah setelah bekerja dan keinginan beristirahat sedikit lebih lama. Faktor dari luar contohnya kondisi cuaca dan jarak tempat berolah raga. Cuaca apa pun bisa jadi alasan penghambat. Saat turun hujan tentu saja alasan yang paling kuat untuk menghalangi ber-OR, saat panas terik pun bisa jadi alasan yang seolah kuat. Repot kan?

Untuk menghindari hambatan-hambatan tersebut pilihlah jenis olah raga yang Anda sukai dan relatif mudah menjalankannya. Misalnya Anda suka badminton, ya carilah atau bergabunglah dengan klub badminton yang ada di sekitar Anda. Coba cari grup-grup di Facebook yang memiliki kegemaran OR yang sama. Setelah itu pikirkan untuk mencari tempat latihan yang relatif mudah dijangkau, misalnya dekat rumah atau dekat kantor.

Olah raga sendiri seperti jalan pagi atau jogging juga bisa kita lakukan. Olah raga ini sangat murah dan mudah sebetulnya. Lakukan secara rutin, misalnya tiga kali seminggu selama kurang lebih 15-30 menit di sekitar rumah mungkin sudah cukup memadai.

Bergabung menjadi anggota klub kebugaran atau fitness center atau kini sering disebut gym juga gagasan yang baik. Tentu saja, hal ini membutuhkan tambahan biaya yang harus kita keluarkan sebagai pengeluaran rutin bulanan. Pilihlah klub yang mudah dijangkau, baik secara lokasi maupun biaya keanggotaan. Dengan menjadi anggota gym seperti ini kadang bisa “memaksa” kita untuk latihan.

Sayang kan kalau sudah bayar mahal tetapi tidak dimanfaatkan? Begitu seringkali muncul dalam pikiran kita sehingga memaksa kita. Di klub-klub seperti ini biasanya tersedia berbagai alat yang bisa kita gunakan dari mulai treadmill hingga alat-alat latihan untuk tangan, dada, dan perut. Klub juga menyediakan Personal Trainer (PT) yang akan membantu dan memandu kita melakukan latihan. Pilihlah PT yang memang memiliki kapasitas untuk mendampingi Anda.

Tentu saja, kita juga tetap harus melakukan latihan secara cukup dan terukur, jangan berlebihan. Di klub juga biasanya terdapat kelas-kelas berlatih bersama instruktur seperti Body Combat, Body Pump, Yoga dan Pilates. Cobalah sesekali mencoba kelas-kelas ini nanti Anda akan merasakan kelas mana yang cocok untuk Anda ikuti secara terjadwal.

Olah raga memang menjadi kebutuhan bagi kesehatan tubuh kita untuk menjaga stamina dan proporsi tubuh yang ideal. Kuncinya, lakukan secara terukur sesuai kemampuan tubuh dan rutin. Apa pun olah raga yang Anda lakukan yang penting tidak berlebihan. Mari mulai saat ini juga niatkan untuk berolah raga dan rasakan manfaatnya.

Karakter Berdasarkan Golongan Darah

shutterstock197334059-crop-600x338
Kepribadian seseorang sangat unik. Sumber: shutterstock

Ah!kamu kok kayak gitu sih. Setiap manusia memiliki sifat dan kepribadian yang unik, tidak akan persis sama antara satu dengan yang lain. Mungkin ada satu dua sifat seseorang sama dengan sifat orang lain, tetapi ada sifat lain yang berbeda. Hal itulah yang membuat interaksi seseorang dengan orang lain atau lingkungannya tidak sama.

Di tengah perbedaan-perbedaan tersebut, banyak ahli yang mencoba membuat kelompok besar sikap atau karakter manusia, salah satunya berdasarkan golongan darah. Setiap manusia memiliki golongan darah yang dikelompokkan menjadi empat, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O.

Di Jepang sudah lebih dari 60 tahun lalu para pakar mengaitkan golongan darah dengan kepribadian seseorang. Bahkan di Jepang lebih umum orang menanyakan golongan darah daripada lambang-lambang astrologi terkait dengan kepribadian. Golongan darah ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam merekrut karyawan, mencari pasangan, dan digunakan untuk tujuan kampanye produk tertentu.

Di Kanada seorang ahli naturopati James D’Adamo dan putranya Peter D’Adamo melakukan riset terhadap kaitan golongan darah dengan kepribadian. Berikut hasilnya:

Golongan Darah A – cenderung kooperatif, sensitif, pandai, dan penyayang. Selalu berusaha menyenangkan orang lain, seringkali menahan emosinya hingga saatnya meledak. Banyak juga yang memiliki sikap panik, tidak sabar. Sebetulnya mereka mampu jadi pemimpin, tetapi sering tidak mengambil kesempatan tersebut karena mereka tidak suka dengan kondisi penuh stress. Mereka lebih cocok bekerja di riset, sains, dan industri manufaktur.

Golongan Darah B – cenderung hidup seimbang, pemikir seperti golongan darah A tetapi ambisius seperti golongan darah O. Mudah berempati dan memahami sudut pandang orang lain, tetapi sering tidak ingin mendapat tantangan atau berkonfrontasi. Dengan sikapnya yang mirip bunglon, mereka mudah berteman.

Golongan Darah AB – cenderung memiliki penampilan sangat menyenangkan dan populer. Tidak suka mempermasalahkan hal remeh temeh, mereka cenderung spiritual. Hanya sekitar 2-5% orang di dunia memiliki golongan darah AB. Tidak pernah ada hal membosankan dalam kehidupannya, sehingga beruntunglah jika Anda memiliki teman bergolongan darah ini. Akan tetapi, seperti halnya golongan darah A, orang-orang O cenderung tidak pandai menghadapi stress.

Golongan Darah O – cenderung penyendiri dan jadi pemimpin. Mereka mampu menghadapi stress lebih baik dibandingkan golongan darah lain. Mereka juga sangat intuitif, fokus, dan mandiri.

Mungkin saja hasil riset tersebut tidak sepenuhnya benar terhadap beberapa orang karena ada banyak faktor lain yang memengaruhi kepribadian. Akan tetapi, hal itu menarik sebagai pertimbangan untuk memperbaiki diri atau mengembangkan sikap dan kepribadian positif bagi orang dengan golongan darah tertentu. Memang tidak setiap orang bisa sama, tetapi yang terpenting adalah selalu berusaha menjadi lebih baik.