Sindrom Jelang Akhir Tahun

regulatory-uncertainty

Ah!kamu parno* deh. Mendekati tahun baru banyak dari kita mengalami kepanikan yang gak jelas. Kita? Kamu (dan aku) aja ‘kali. Hehehe… Sebetulnya ada perasaan campur aduk tak karuan antara senang, sedih, cemas. Kadarnya bisa rendah, sedang hingga akut. Yang rendah mungkin bisa terabaikan. Nah, yang sedang bahkan akut itu yang perlu penanganan.

Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi pada kamu. Kalau toch terjadi aku yakin kamu bisa mengatasinya. Munculnya perasaan itu bisa dianggap wajar, tapi bisa juga dianggap lebay, berlebihan kalau sudah keterlaluan. Semua itu bergantung pada persepsi seseorang terhadap kejadian yang tentu saja dipengaruhi pengalaman di sekelilingnya dari waktu ke waktu. Jiah, bahasanya sudah seperti psikolog aja.

Justru kalau kita memiliki perasaan tertentu terhadap perubahan ini kita memilik titik awal untuk melakukan sesuatu. Sesuatu itu bisa perbaikan kalau kita mampu mengatasinya, tapi justru sebaliknya jika kita mengambil langkah yang salah. Jadi, bisa bersifat konstruktif atau destruktif. Contoh yang destruktif adalah dengan mencoba melupakan perasaan dengan obat-obatan atau minuman keras dalam pesta-pesta.

Orang yang tidak menganggap perubahan tahun sebagai hal yang istimewa atau hampir tidak pernah merayakannya, mungkin akan menghadapinya biasa-biasa saja. Hal ini bisa kita terima. Kalau kita perhatikan secara saksama pergantian hari dan tahun adalah peristiwa alami yang sering kita hadapi. Manusia sendirilah yang membuat hal itu seolah istimewa dengan penamaan dan peringatan.

Hari berganti hari sepanjang waktu ya begitu-begitu saja. Tidak ada bedanya. Yang membedakan adalah kejadian yang dialami setiap individu. Secara umum mau tahun baru, bulan baru, atau hari baru secara alami  bergulir, berjalan tanpa ada kuasa kita untuk menghentikannya.

Sudah kita sepakati bersama bahwa kita perlu selalu memperbaiki diri dari hari ke hari. Jika kita menyadari dan meresapi dan mengamalkan hal ini tiap hari, niscaya kita tidak butuh adanya moment-moment bentukan manusia semacam tahun baru.

Akan tetapi, secara umum manusia membutuhkan moment-moment seperti ulang tahun, tahun baru, hari anu, hari ini untuk menandai fase hidup kita. Misalnya Hari Ibu akan selalu mengingatkan agar kita menghormati ibu kita dan kaum wanita pada umumnya. Pada Hari Pahlawan kita mencoba meneladani sikap kepahlawanan pendahulu kita yang telah mengukir sejarah kebaikan bagi bangsa kita, dan seterusnya.

Tahun baru selain sebagai penanda pergantian hitungan hari dalam setahun yang telah disepakati, bagi sebagian besar orang adalah moment untuk memulai babak baru kehidupan selain moment ulang tahun kelahiran. OK-lah, kita bisa ambil sisi baiknya saja. Kita jadikan moment tahun baru sebagai moment perubahan besar untuk memperbaiki diri.

Tentang keriaan dan acara penyambutan berlebihan dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api itu sudah jadi komoditas komersial. Itu sudah jadi dagangan para produsen untuk mengambil moment penjualan besar-besaran. Kita boleh mengikutinya ataupun tidak, terserah.

Kembali ke campur aduk perasaan yang kusebut di awal, kesedihan mungkin muncul karena hari-hari yang kita lewati pada tahun sebelumnya banyak catatan duka. Sementara itu di sisi lain ada secercah harapan di tahun mendatang yang membuat kita senang. Sementara yang cemas mungkin ada rasa pesimis kondisi hidupnya akan tetap sama, misalnya tetap jomblo. Hehehe…

Yang jelas, seperti kesepakatan umum, mari kita jadikan setiap pergantian hari membuat kita lebih baik dalam segala hal. Semoga. Aamiin…

*paranoid, paranoia = penyakit jiwa yang membuat penderita berpikir aneh-aneh yang bersifat khayalan, seperti merasa dirinya orang besar atau terkenal; penyakit khayal (KBBI)

Sumber gambar: frankcianciulli

 

CL: Transportasi Umum Andalan Jakarta

10659255_10204423631143854_7420316814794731976_n

Ah!kamu kudet* deh. Itu saya katakan pada teman yang belum pernah naik kereta di Jakarta akhir-akhir ini, atau setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dalam bayangannya kereta di Jakarta masih seperti zaman saat masih bernama KRL (kereta rel listrik).

Kini KRL itu sudah punya nama baru yang lebih keren, yaitu Commuter Line atau sering dipendekkan jadi ComLine atau CL. Tidak hanya namanya yang berubah, layanan, sarana dan prasarana betul-betul sudah berbeda. Bentuk keretanya (gerbongnya) memang masih sama, seperti kereta AC pada masa lalu, tapi lebih bersih.

Perhatikan saja beberapa stasiun yang ada di sepanjang jalur Bogor – Jakarta atau Bekasi – Jakarta, fisiknya sudah banyak berubah dan lebih bersih. Kini tidak ada lagi pedagang asongan, pedagang kaki lima atau pengamen yang berkeliaran. Untuk masuk ke stasiun kini kita harus memiliki kartu dan melalukan “tap” (menyentuhkan kartu di sensor) di pintu otomatis, keluar pun juga harus melakukan hal yang sama. Keren kan? Sudah seperti di kota-kota besar negara maju.

474703_10200881988445000_2043781470_o

Kita bisa berlangganan kartu KMT (Kartu Multi Trip) atau beli THB (Tiket Harian Berjaminan) untuk sekali pakai. Akan tetapi, kalau kita memiliki kartu pembayaran yang dikeluarkan oleh bank seperti BCA Flazz, Mandiri e-Money, atau BRI Brizzi, kita bisa juga menggunakannya. Perhitungan ongkos untuk perjalanan dengan CL juga relatif murah, berdasarkan jarak yang kita tempuh, sebesar Rp2.000,00 untuk 1-25 km pertama, 1-10 km berikutnya sebesar Rp1.000,00.

Oh ya, sekarang cuma ada satu jenis kereta dan semuanya ber-AC, tidak seperti dulu yang membedakan kelas ekonomi (non AC), AC, dan Pakuan. Semua sama untuk jalur Bogor/Depok – Jakarta Kota/Tanah Abang, Bekasi – Jakarta Kota, Serpong – Tanah Abang dan yang lain. Gerbong paling depan dan belakang dikhususkan untuk wanita. Jadi, jangan sampai salah naik bagi kaum pria.

Di dalam gerbong kondisinya relatif bersih karena ber-AC, tidak boleh makan dan minum, apalagi merokok. Membawa barang pun ada ukuran maksimal yang diperbolehkan dibawa, tidak boleh membawa binatang juga. Pintu gerbong membuka dan menutup secera otomatis, tidak ada lagi orang yang mengganjal-ganjal pintu.

Di setiap dinding gerbong tertempel rute kereta, bahkan saat ini sudah mulai ada layar yang menampilkan rute perjalanan kereta. Dilengkapi dengan pemberitahuan ketika akan memasuki setiap stasiun. Tidak seperti kereta KRL zaman dulu yang menganggap semua penumpang sudah hafal nama stasiun dan rute kereta.

Di setiap stasiun juga selalu disampaikan posisi kereta terakhir yang akan melintasi stasiun tersebut, baik melalui pengeras suara maupun papan elektronik yang menayala.

10393903_10204423922031126_5344267607720985505_nLebih nyamankah sekarang? Menurut saya sih yes, gak tahu kalau menurut Mas Anang. Hehehe… Meskipun jadwalnya belum setepat yang dijanjikan, tetapi keretanya sudah relatif banyak. Memang sih pada jam-jam sibuk seperti berangkat dan pulang kantor kereta akan penuh sesak. Oleh karena itu, jika Anda bukan pengguna rutin CL hindari naik CL pada pukul 6-9 pagi atau 5-7 malam, kecuali memang terpaksa.

Selebihnya, kereta Commuter Line sekarang nyaman, aman dan cepat dibandingkan Anda berkendara dengan mobil di jalan raya Jakarta yang rawan macet di banyak titik yang kadang tak terduga. Cobalah sesekali menggunakannya. 🙂

Sumber foto: dok. pribadi

*kurang update

 

Aplikasi Pemesan Transportasi yang Berguna

File illustration picture showing the logo of car-sharing service app Uber on a smartphone next to the picture of an official German taxi sign
Pemesanan taksi melalui aplikasi. Sumber:businessoffapp

Ah!kamu jangan ketinggalan zaman. Dua atau tiga tahun lalu mungkin hal ini belum kita rasakan, yaitu maraknya pemesanan moda transportasi umum berbasis aplikasi di smartphone kita. Ah, kan sudah ada aplikasi serupa dari masing-masing perusahaan taksi. Ya, tapi maksud saya hal itu masih terbatas dan belum sebanyak sekarang penggunanya.

Pengguna moda transportasi umum di Jakarta dan beberapa kota besar kini merasakan perubahan pesat tersebut. Adanya aplikasi GrabTaxi yang memuat juga GrabBike, lalu ada Go-Jek, dan Uber sangat membantu kita memesan atau mencari transportasi umum baik berupa taksi dan ojek. Bahkan Go-Jek memiliki fasilitas tambahan lain seperti Go-Send, Go-Food, Go-Mart yang memungkinkan kita mengirim barang atau dokumen serta membelikan makanan atau barang lain ke toko, resto, atau minimarket.

Terlepas dari kontroversi sesuai atau tidaknya dengan perundang-undangan, aplikasi ini sungguh sangat berguna. Kita bisa memesan taksi dan ojek di mana saja, di pinggir jalan, di lapangan, di mall, tidak perlu berada di rumah atau kantor dan gedung yang selama ini kita lakukan saat memesan taksi secara konvensional. Cukup memanfaatkan GPS yang akan mengarahkan ojek atau taksi ke lokasi kita.

Untuk saat ini dengan adanya diskon atau tarif promosi, pengguna taksi atau ojek yang memesan melalui aplikasi-aplikasi tersebut sangat diuntungkan. Hal ini mungkin sebagai langkah awal untuk menggalang sebanyak-banyaknya pengguna aplikasi.

Selain memesan taksi dan ojek yang sudah familier dengan kehidupan kita, ada Uber dan GrabCar (salah satu bagian dari fitur GrabTaxi) yang membuat kita bisa memesan mobil pribadi beserta sopirnya. Dengan aplikasi ini kita seolah-olah memiliki sopir pribadi karena mobil yang kita gunakan berplat hitam. Nah, ini mungkin yang masih menjadi kontroversi terkait dengan perizinan.

Uber dan GrabCar hampir serupa, tetapi ada sedikit perbedaan dalam cara pembayaran. Uber mewajibkan kita mendaftarkan kartu kredit untuk menagih pembayaran, sedangkan GrabCar menggunakan cara pembayaran cash melalui si sopir. Tarif yang akan kita bayarkan tertera di aplikasi di smartphone kita, bukan pakai alat argometer layaknya taksi.

Menyangkut Uber dan GrabCar yang menjadi perhatian kita mungkin tingkat keamanan karena pada dasarnya kita menggunakan mobil pribadi bukan taksi dengan sopir pribadi juga. Tentu saja pihak Uber dan GrabCar — memang seharusnya —  telah menyeleksi mereka untuk kelayakan kenyamanan dan keamanan. Saya dengar sih mereka selalu melakukan pertemuan untuk pendidikan terhadap sopir, baik Uber, GrabCar, GrabTaxi dan Go-Jek. Adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi memang tidak bisa dihindari karena selalu saja ada yang memanfaatkan celah. Mudah-mudahan hal itu bisa segera dicegah dan diatasi.

Cara dapat free ride (gratis hingga Rp75 ribu) menggunakan Uber:

  1. Unduh aplikasinya di App Store atau Google Play
  2. Setelah selesai melakukan pendaftaran, masuklah ke bagian Promotions dan masukkan Kode Promo: didikdue
  3. Cek di bagian Payment, pastikan di bawah informasi Kartu Kredit ada tanda Free Ride.
  4. Untuk pemesanan berikutnya Anda akan gratis hingga Rp75 ribu.

 

Ups… Maaf, Salah

Ah!kamu salah kaprah. Seringkali kita dengar dalam percakapan sehari-hari beberapa kata yang diucapkan secara tidak benar. Umumnya sih kata-kata dalam bahasa asing, setidaknya Inggris. Sebetulnya kita yang diajak bicara sih ngerti tapi kadang agak lucu aja dengarnya kalau kita tahu. Ada beberapa kata yang sudah jadi kesalahan umum.
Apa saja sih? Mari kita simak contohnya.

Legging
Tahu kan apa yang dimaksud? Ya, itu adalah model celana ketat melekat kaki berbahan kaos atau spandex dan sejenisnya. Kata ini sering diucapkan lejing, padahal yang betul adalah leging.

lb-rgb-08
Legging dibaca leging, bukan lejing

Log in
Di internet kita sering menemukan istilah ini, terutama saat masuk ke email atau media sosial atau website yang membutuhkan keanggotaan. Kata ini sering diucapkan lojin, padahal yang betul adalah log in (persis seperti tulisannya).

Medsos atau sosmed?
Kedua kata tersebut merujuk pada kata-kata media sosial atau social media. Sebetulnya pengucapan kata ini tidak terlalu salah, tapi lebih pada ketidakkonsistenan berbahasa.

Medsos adalah kependekan dari media sosial dan kata inilah seharusnya yang lebih tepat saat berbahasa Indonesia. Sedangkan kata sosmed atau bila dipanjangkan jadi sosial media yang tentu saja tidak tepat. Dalam bahasa Inggris istilah ini adalah social media. Dari situlah kekeliruan bermula.