Tas Matras by Nick

Anda yang aktif beryoga, tas matras yoga ini sangat fashionable dan aman melindungi matras kesayangan Anda.

Keterangan:

  • Bahan tenun tradisional.
  • Ukuran: all size (standar matras yoga).
  • Dapat ditenteng maupun diselempang sesuai gaya Anda.
  • Melindungi matras kesayangan Anda dengan aman dan rapi.

Harga: Rp750.000,- (Belum termasuk ongkir)

CARA PEMESANAN

  • Follow website ini (ahkamu.com)
  • Isi Form Pemesanan yang ada di halaman ini.
  • Tunggu konfirmasi via WA (pastikan WA Anda aktif).
  • Lakukan pembayaran sesuai jumlah dalam konfirmasi via WA. Kirim bukti pembayaran ke nomor WA konfirmasi.
  • Setelah pembayaran diterima, Order Anda akan dikirim.

FORM PEMESANAN

Selamat Berbelanja. Terima Kasih.

Turban Batik

Turban Batik yang cocok dikenakan kapan saja dan di mana saja. Cocok dipadupadankan dengan pakaian Anda dalam segala situasi.

Keterangan:

  • Bahan katun.
  • Ukuran: all size.
  • Bagian dalam furing polos yang bisa dikenakan bolak-balik.
  • Ada karet di bagian belakang sehingga akan pas di kepala Anda.

Harga: @Rp85.000,- (Belum termasuk ongkir)

CARA PEMESANAN

  • Follow website ini (ahkamu.com)
  • Isi Form Pemesanan yang ada di halaman ini.
  • Tunggu konfirmasi via WA (pastikan WA Anda aktif).
  • Lakukan pembayaran sesuai jumlah dalam konfirmasi via WA. Kirim bukti pembayaran ke nomor WA konfirmasi.
  • Setelah pembayaran diterima, Order Anda akan dikirim.

FORM PEMESANAN

Selamat Berbelanja. Terima Kasih.

Masker Batik by Indri

Masker Batik dijahit dengan penuh rasa cinta oleh Indri.

Keterangan:

  • Dua lapis kain, batik (luar), katun polos (dalam).
  • Tidak bisa pilih corak batik, tergantung stock yang ada saja.
  • Tali dua jenis: headband (cocok untuk yang berhijab), earloop (nyantol ke telinga).
  • Tali didesain mudah diganti-ganti
  • Bukan masker medis, untuk pemakaian sehari-hari.
  • Sebaiknya dicuci dengan sabun dan diseterika setelah pemakaian untuk dipakai ulang.

Pemesanan hanya melalui pre-order (PO) dengan waktu pengerjaan sekitar seminggu. PO akan dibuka berdasarkan jadwal yang bisa dicek di Instagram berikut.

Harga: @Rp25.000 untuk pemesanan minimal 3 pcs, @Rp20.000 untuk pemesanan 5 pcs ke atas. Belum termasuk ongkir.

Maksimal PO per orang 10 pcs.

CARA PEMESANAN

  • Follow website ini (ahkamu.com)
  • Isi Form Pemesanan yang ada di halaman ini.
  • Tunggu konfirmasi via WA (pastikan WA Anda aktif).
  • Lakukan pembayaran sesuai jumlah dalam konfirmasi via WA. Kirim bukti pembayaran ke WA konfirmasi.
  • Proses pengerjaan PO sekitar seminggu.
  • Order Anda akan dikirim.

FORM PEMESANAN (Digunakan hanya saat PO dibuka, cek jadwal buka PO) . Jadwal PO Berikutnya: 22 Juni 2020 pkl. 14.00

Jaga kesehatan, terapkan Protokol Pencegahan Pandemi Covid-19 salah satunya dengan mengenakan masker saat aktivitas di luar rumah. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Pensiun Mau Ngapain?

Persiapan pensiun sebaiknya secara finansial dan mental. (Source: Romania Insider)

Beberapa hari lalu seorang teman tiba-tiba mengirim pesan ke saya via WhatsApp (WA). Teman ini sudah lama tidak kontak. Begini kira-kira bunyi pesan WA-nya:

Om, apa kabar? Ngupi yuk nanti Agustus atau September? Sebelum saya pensiun.

Saya lalu menjawab pesan tersebut dengan biasa saja awalnya. Lalu timbul tiga reaksi sebagai berikut.

Pertama, tentu senang dapat pesan dari teman lama. Kedua, mengapa harus ngopi pada Agustus atau September? Oh, tentu saja teman tersebut berharap situasi pandemi ini sudah berlalu pada bula-bulan itu. Aamiin, itu doa kita semua. Yang ketiga, tentang pensiun.

Dua reaksi yang pertama dapat diselesaikan dengan mudah. Reaksi ketiga tentu saja yang membuat saya berpikir. Sebetulnya saya sudah sering memikirkan tentang pensiun. Sebatas memikirkan. Hahaha… Teman saya ini memang jarak usianya mungkin dua atau tiga tahun (jauh?) di atas saya. Hahaha… untuk menyamarkan usia sendiri. Dan bulan November tahun ini katanya sudah akan pensiun. Ya Tuhan, ternyata sudah semakin dekat ya masa pensiun ini.

Reaksi atau pertanyaan wajar setelah sekadar memikirkan masa pensiun adalah sudahkah kita menyiapkan masa pensiun? Atau mau ngapain saat pensiun? Tidak hanya soal dana pensiun, tetapi aktivitas yang akan kita lakukan pada masa tersebut.

Dana Pensiun. Bersyukurlah bagi mereka yang sudah menyiapkan atau disiapkan dana pensiunnya jauh-jauh hari. Seperti kita ketahui kalau pegawai negeri atau ASN dan aparat pemerintah mungkin sudah otomatis akan menerima uang pensiun ketika masanya tiba. Banyak perusahaan swasta juga sudah mempersiapkan skema pensiun untuk karyawannya. Akan tetapi, alangkah baiknya kita juga melakukan persiapan secara pribadi, in case dana pensiun yang kita terima dari kantor tidak memadai.

Cara paling gampang dan umum untuk menyiapkan dana pensiun adalah dengan menabung. Ada banyak bank dan institusi keuangan lain seperti asuransi mendesain produk untuk dana pensiun ini. Tinggal kita pilih sesuai kemampuan untuk menabung secara rutin, bisa bulanan, tengah tahunan atau tahunan. Kalau menabung dengan sistem asuransi, harap diperhatikan juga komponen asuransi yang kita ambil. Biasanya ada proteksi terhadap jiwa dan kesehatan.

Kelebihan menabung dana pensiun di asuransi adalah adanya proteksi, meskipun beberapa tabungan di bank kini juga banyak menempelkan fitur asuransi ini. Adanya asuransi memungkinkan kita atau ahli waris akan menerima dana pensiun sebelum jatuh masa pembayaran premi apabila terjadi kecelakaan atau meninggal.

Adanya asuransi tersebut otomatis menyisihkan dana yang kita tabung untuk meng-cover asuransi, jadinya sisa untuk tabungan sedikit berkurang. Kita bisa mempertimbangkan lagi perlu tidaknya ada asuransi.

Menabung dana pensiun akan lebih optimal hasilnya jika dilakukan jauh-jauh hari sebelum jatuh masa pensiun. Lalu bagaimana apabila baru memulai menabung pada saat mendekati masa pensiun? Memang tidak ada kata terlambat. Sebaiknya mulai memilih jenis tabungan yang ada atau mencoba berinvestasi dalam bentuk reksadana atau saham.

Kini, semakin mudah untuk membuka investasi di reksadana atau saham. Mungkin kita mulai dulu dengan reksadana karena investasi saham ada faktor risiko yang agak besar. Investasi reksadana kini semudah sentuh-sentuh di ponsel. Marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, dan manajer-manajer investasi memiliki aplikasi yang adapat digunakan seperti Bareksa dan IPOT IndoPremier. Imbalan yang kita dapat dari investasi reksadana umumnya lebih tinggi dibandingkan deposito apalagi tabungan biasa.

Tabungan bentuk lain bisa saja dalam bentuk emas. Pembelian emas untuk investasi ini kini juga semakin mudah. Di Tokopedia dan Bukalapak juga tersedia untuk membeli atau menabung emas bahkan dalam jumlah kecil. Hanya saja perlu diingat, tabungan emas lebih cocok untuk jangka panjang jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

Kegiatan Pensiun. Setelah ada dana pensiun, mungkin bagi sebagian orang tidak bisa berpangku tangan, apalagi kalau selama ini terbiasa aktif beraktivitas. Bayangan saya, karena saya belum mengalami pensiun, adalah melakukan apa yang kita sukai terlebih dahulu. Kalau kita mau melanjutkan aktivitas yang masih menghasilkan secara finansial, sebaiknya pilih yang kita juga senang melakukannya atau menjadi hobi kita. Misalnya, kita hobi berkebun ya bisa dengan membuka lahan untuk berkebun atau bercocok tanam. Kalau tidak memiliki lahan yang cukup mungkin bisa dengan hidroponik atau memanfaatkan lahan yang ada di rumah.

Kegiatan atau aktivitas kita pada masa pensiun semestinya sudah tidak mengejar profit finansial. Kalau toh ada profit atau keuntungan yang sebagai tambahan saja. Misalnya, hasil dari kebun kita untuk konsumsi pribadi atau kalau lebih bisa dibagi-bagikan ke tetangga atau sanak saudara. Akan tetapi, kalau memang masih membutuhkan tambahan dana, ya bisa saja melakukan penjualan, tidak ada masalah kalau masih punya waktu untuk melakukannya. Kita bisa juga melibatkan anak-anak muda sekitar untuk membantu, siapa tahu akan jadi lapangan kerja bagi mereka.

Hobi-hobi lain seperti menulis, menggambar, bermain musik bisa juga dilakukan. Sebetulnya saat ini terbuka luas untuk mengembangkan berbagai hobi jadi sesuatu yang menghasilkan keuntungan finansial. Menulis di berbagai platform seperti blog seperti ini bisa saja berkembang jadi buku atau konten berbayar yang lumayan untuk tambahan dana pensiun.

Saya pernah berbincang dengan seorang mentor di perusahaan konsultasi pendidikan. Mereka juga membuka konsultasi untuk karyawan jelang pensiun. Mereka melakukan tes psikologi lagi untuk mengarahkan para calon pensiunan ini menjalani masa pensiunnya agar lebih bermanfaat, baik secara batin maupun finansial.

OK, selamat mempersiapkan masa pensiun, baik secara mental maupun finansial.

Sudahkah Saatnya Membuka Mall dan Pasar?

Beberapa hari ini orang mungkin sedang banyak membicarakan tentang new normal atau apa saja namanya. Titik kejenuhan setelah work from home atau PSBB ini mungkin sudah mencapai puncaknya. Sebagian orang ingin mendapat kabar perubahan atau kebijakan yang membuat bisa beraktivitas di luar rumah kembali.

Selama tiga bulan terakhir memang kondisi berbagai sektor kehidupan melambat atau bahkan berhenti, termasuk ekonomi. Beberapa komponen atau unit usaha mungkin menunjukkan kenaikan, seperti jasa kurir dan toko online di marketplace. Akan tetapi, volume profit dari unit-unit bisnis tersebut belum mampu mendongkrak bisnis atau ekonomi secara keseluruhan. Ecieee… sudah kayak pakar ekonomi saja ngomongnya. Hahaha…

Pemerintah baru-baru ini mulai mempertimbangkan untuk membuka kembali shopping mall atau pasar yang diharapkan akan menggeliatkan kembali perekonomian. Tentu saja, keputusan ini sebaiknya sudah melalui pertimbangan yang matang.

Beberapa pertimbangan mungkin termasuk pertumbuhan kasus covid-19 tidak signifikan lagi atau mulai dapat dikontrol antara jumlah kasus sembuh dengan kematian atau kasus baru. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah karakter warga dalam menghadapi pandemi ini. Perlu diingat bahwa pembukaan beberapa mall dan pasar ini bukanlah karena kondisi pandemi sudah berlalu atau membaik, tetapi lebih karena alasan ekonomi. Oleh karena itu, warga sebaiknya tetap harus berpikir ulang untuk pergi berbelanja. Penerapan protokol standar dalam mencegah pandemi harus tetap dijalankan dengan ketat dan sungguh.

Pemantauan penulis ke sebuah shopping mall di Depok kemarin menunjukkan bahwa pengelola mall sudah mulai menyediakan sebagian keperluan untuk “new normal” ini seperti prosedur check in di pintu masuk. Ada alat pengukur suhu dan hand sanitizer dan jarak untuk masuk juga diatur. Pengunjung juga wajib mengenakan masker. Penjagaan oleh security atau satpam yang lebih banyak untuk memantau pengunjung. Para petugas ini mengenakan masker dan face shield. Di beberapa tempat disediakan hand sanitizer, termasuk di toilet. Di urinoir pria juga dibuat jarak antar urinoir.

Beberapa toko mungkin diterapkan ganjil genap nomor toko yang buka, hal ini diharapkan agar jarak antartoko tidak menimbulkan kerumunan. Pembatasan jumlah pengunjung mungkin perlu juga dilakukan agar tidak menimbulkan over kapasitas di dalam mall yang menerapkan distancing yang telah ditetapkan seperti jarak minimal 2 meter, misalnya.

Segala upaya penerapan protokol yang dilakukan pihak mall sudah cukup bagus, tetapi harus diiringi juga oleh kesadaran pengunjung untuk menerapkan hal yang sama. Pengaturan pengunjung shopping mall mungkin relatif lebih mudah. Tidak demikian dengan pasar. Karakter pasar di negara kita yang cenderung kumuh atau crowded dan pengunjung dan penjual yang cenderung lalai akan jadi PR berat bagi pengelola dan pemerintah.

Sebetulnya upaya-upaya pemulihan ekonomi tersebut bisa saja dilakukan atau hanya sebagai uji coba. Perlu ada kajian seberapa besar dampaknya terhadap pertumbuhan kembali perekonomian, sekaligus pertimbangan keselamatan atau dampak penyebaran wabah agar tidak semakin meningkat. Sementara bagi kita sebagai warga sebaiknya tetap waspada. Kalau tidak terlalu penting atau genting keperluannya untuk pergi ke mall atau pasar sebaiknya tidak perlu dilakukan.

Kenikmatan jalan-jalan di mall seperti dulu juga belum dapat kita nikmati karena bioskop masih tutup, tidak semua resto memperbolehkan makan di tempat, hanya take away. Lagipula apa enaknya, jalan-jalan dengan teman dan kerabat misalnya harus berjarak minimal dua meter. Hahaha… Sabar ya, kita tunggu sampai situasi sudah normal kembali.

Tetap jaga kesehatan ya guys.

Virtual Run during Pandemic

Source: runnersworld.com

I wrote this post just after doing my second day run after a long break because of Covid-19 pandemic and some kind of lockdown policy by government since mid-March. Here in Indonesia we call this policy, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) or Large-Scaled Social Distancing. Actually we still can run during the lockdown time by implementing some protocols, but I decided to take a break.

I started to run again also because I have registered to a virtual run called Star Wars South East Asia Virtual Run. It is a multiple virtual run of 40 KM from 15 June to 30 September 2020. So the participants can run anywhere, anytime, and any distance then submit to the app. They use the LIV3LY app downloaded from the App store or Playstore. When we run we have to turn on the app so they will automatically record every run until we reach the total of 40 KM.

Just like in every virtual run, after we finish the run we will get the finisher medal or trophy. I was interested to join this run just because the finisher trophy. It is lovely crafted in Star Wars stormtrooper or Darth Vader figure. Actually I am not such a big fan of Star Wars, but who can resist to collect the trophy which celebrating 40 years of the movie.

Strava and LIV3LY app on my iPhone recorded about 4 KM run, just like what I am planning to. If I run about 4 KM each time so I just need 10 times of running. Not that hard for three months period (until 30 September).

There are a lot of virtual run like this Star Wars conducted by different organisers, especially during the pandemic, even much more. I already participated in many virtual run events since last year, my first run. I like to collect the medals and trophies.

Actually the virtual run misses some kind of the hype of the crowded when compared to the real run race. However, the virtual one is benefited during the lockdown time. Some races go to the virtual version to maintain the brand of the event in runners mind so when the situation is back to normal, the event still get the attention by runners. It happened to the new run race which is not so popular yet like Boston Marathon, Berlin Marathon or Tokyo Marathon.

Run happy and healthy, guys.

Akhirnya Berlari Lagi

Maaf fotonya agak goyang karena sambil berlari.

Tiga purnama terlewati tanpa berlari. Terakhir lari adalah saat mengikuti Kediri Half Marathon pada 15 Maret 2020, lalu sempat latihan seminggu kemudian di GBK. Setelah itu vakum, gak pakai kliner. Hahaha…

Sebetulnya sudah ingin memulai lari lagi awal bulan Juni ini, tetapi kebelumsiapan ditambah kemalasan menjadikan rencana tersebut tertunda terus. Hingga akhirnya hari ini baru terlaksana.

Alasan memulai lari lagi, selain ingin menjalani olah raga rutin, juga karena saya telah mendaftar virtual run Star Wars yang akan dimulai 15 Juni. Saya harus berlari sejauh 40km kumulatif hingga 30 September 2020. Event ini seharusnya dimulai 5 Mei 2020 lalu. Akan tetapi, mengingat adanya kebijakan PSBB di beberapa tempat penyelenggara akhirnya mengundur sampai 15 Juni dengan rentang waktu yang lebih panjang.

Lari hari ini anggap saja sebagai persiapan. Awalnya saya hanya akan jalan kaki sebagai langkah awal untuk memulai, tetapi karena merasa fit jalan kaki berubah jadi jogging hingga akhir. Lumayan saya dapat berlari lebih dari 30 menit dengan jarak 4km lebih atau pace-nya jadi sekitar 8.4.

Yang penting dalam berlari atau latihan begini kita melakukan peregangan pada awal dan akhir latihan. Lalu dapat membaca kekuatan tubuh sendiri, terutama heart rate dan napas. Meskipun ada jam tangan sport yang mampu mengukur detak jantung, kemampuan membaca tubuh sendiri akan lebih baik atau lebih akurat. Yang penting tidak ngoyo. Ukuran paling sederhana saat berlari yang sering saya terapkan adalah masih bisa ngomong atau kalau larinya sendiri masih bisa bersenandung. Hehehe…

Kita kan berlari bukan untuk prestasi. Saat ikut race pun bukan untuk mengejar podium, lebih untuk menjaga semangat agar tetap senang berlari. Berlari bersama-sama dalam satu race apalagi bersama teman-teman kita akan merasakan energi yang tinggi. Berlari kalau bagi saya seperti melakukan yoga, yaitu membaca tubuh sendiri. Jangan sampai kita memaksakan yang akhirnya menyiksa atau menyakiti diri yang bisa berakibat fatal.

Yuk kita mulai lagi hidup sehat dengan berolah raga secara rutin.

Penghematan Saat Pandemi

Sumber: Kompas Lifestyle

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia ini memang bisa dianggap bencana, tetapi bisa juga dijadikan momen introspeksi diri. Ketika kita work from home atau lebih banyak beraktivitas di rumah, kita jadi punya banyak waktu untuk meninjau kembali beberapa hal yang rutin kita lakukan selama ini. Salah satu hal tersebut adalah pengeluaran. Yuk kita hitung-hitung pengeluaran yang bisa kita hemat.

Biaya Transportasi. Ketika work from home sudah pasti pengeluaran untuk transport akan berkurang. Selama ini kita yang menggunakan transportasi umum dengan cepat dapat menghitung ongkos yang kita keluarkan. Misalnya, dalam perjalanan dari rumah ke kantor kita menggunakan moda transportasi angkot, KRL dan bus TransJakarta dengan tarif dan jarak tertentu, taruhlah tarif angkot (PP) Rp8.000, KRL (PP) Rp7.000, dan bus TransJakarta (PP) Rp8.000. Totalnya jadi Rp23.000. Dalam seminggu lima hari kita ke kantor sehingga sama dengan 5 x Rp23.000 = Rp115.000.

Makan Siang. Biaya lain yang rutin kita keluarkan adalah untuk makan siang. Taruhlah rata-rata biaya makan siang kita adalah Rp20.000 berarti selama seminggu 5 x Rp20.000 = Rp100.000.

Uang Jajan. Mungkin di sela-sela bekerja atau dalam perjalanan kita sering membeli cemilan atau jajanan seperti gorengan, kacang, atau bakso. Mungkin tidak setiap hari, taruhlah dua kali saja dalam seminggu dengan besaran Rp15.000 maka 5 x 2 x Rp15.000 = Rp150.000.

Dari kedua komponen biaya itu saja minimal dalam seminggu kita telah mengeluarkan Rp115.000 + Rp100.000 + Rp150.000 = Rp365.000 atau kita bulatkan jadi Rp400.000. Sehingga selama sebulan kita telah mengeluarkan rata-rata sekitar 4 xRp400.000 = Rp1.600.000. Wow, jumlah yang lumayan banyak ‘kan?

Aksesoris. Pengeluaran transportasi nyata-nyata bisa kita rasakan berkurang dalam masa WFH. Ketika kita harus keluar rumah untuk bekerja, kita juga memikirkan untuk mengenakan pakaian yang rapi dan bersih, sepatu yang terlihat bagus dan mengkilat, wewangian tubuh atau parfum. Jika biasanya dua atau tiga bulan sekali kita membeli baju baru atau parfum, taruhlah untuk pakaian senilai Rp300.000 dan parfum Rp250.000 sehingga total dalam tiga bulan yang kita keluarkan sebesar Rp550.000 sampai Rp600.000. Kalau kita buat rata-rata per bulan nilainya jadi sekitar Rp200.000.

Dari semua pengeluaran tersebut yang bisa kita kurangi atau hemat selama WFH berarti besarnya sekitar Rp1.800.000 per bulan. Belum lagi kalau kita perhitungkan biaya hiburan pada akhir pekan, seperti nonton bioskop, jalan-jalan di mall, dan makan di restoran bersama teman-teman atau keluarga.

Akan tetapi, jangan-jangan pada saat work from home kita justru tergoda untuk order makanan online secara berlebihan atau beli beberapa benda lain di marketplace yang sebetulnya kebutuhan sekunder atau tersier? Bisa saja hal ini terjadi karena banyak waktu untuk buka-buka toko online saat WFH. Jatuhnya pengeluaran kita akan sami mawon atau malah tekor. Hahaha… Yuk, dari sini kita mulai menata ulang keuangan kita sehingga kita lebih bisa menyisihkan penghasilan untuk keperluan yang lebih penting, seperti menabung untuk membeli rumah atau pendidikan anak-anak kita.

Masa Kecil yang Indah

Jelas ini bukan foto masa kecil saya. Hanya sebagai ilustrasi. (Sumber: activeforlife.com)

Terkenang masa-masa kecilku

Apa yang ku minta selalu saja ada

Senangnya aku selalu dimanja

Dari Mama dari Papa cium pipiku dulu

Itu cuplikan lirik lagu Elfa’s Singers – Masa Kecilku yang ngetop tahun 80-an yang kemudian dinyanyikan ulang oleh Payung Teduh zaman sekarang. Lagu yang indah, paduan suara yang juga merdu. Menggambarkan kenangan masa kecil yang indah dan menyenangkan.

Masa kecil saya di sebuah kota pesisir pantai Utara Jawa Timur memang tidak semenyenangkan kisah dalam lirik lagu tersebut. Di situ kan pengen apa saja selalu dipenuhi, seperti minta sepeda dan boneka. Sementara pada masa kecil saya, saya masih ingat minta dibelikan sepeda mini saja tidak pernah dituruti. Saat itu memang sedih, tetapi waktu beranjak mulai remaja saya menyadari bahwa orang tua saya bukan keluarga mampu. Akan tetapi, kami selalu mempunyai cara sendiri untuk senang dan bahagia.

Saya tidak pernag memiliki sepeda sendiri. Saya belajar mengemudi sepeda menggunakan sepeda besar atau sepeda dewasa milik bapak saya yang kini sering disebut sepeda onta. Masih ingat belajar sepeda dengan pantat belum sampai ke sadel atau dudukan sepeda. Jadinya seru banget. Awalnya bisa naik sepeda dengan cara tidak duduk di sadel dengan pantat miring ke kiri atau ke kanan. Lalu seiring bertambah besar lama-lama sudah bisa duduk di sadel, tetapi kaki masih berusaha menggapai-gapai pedal. Lama-lama akhirnya bisa bersepeda dengan posisi duduk sempurna.

Keinginan punya sepeda ini sampai saya bela-belain ikut kuis di majalah anak-anak Ananda atau Tom Tom yang sering memberi hadiah sepeda untuk pemenang utama salah satu kuis yang ada di majalah tersebut. Saya masih ingat bentuk sepeda mini tersebut dengan kedua ujung stangnya ada rumbai-rumbai. Ugh… membayangkan memiliki sepeda tersebut rasanya sudah senang sekali.

Beberapa kali ikut kuis di majalah anak-anak tersebut tidak juga membuahkan hasil memenangi sepeda hingga akhirnya tinggal jadi impian dan harapan yang tidak pernah terwujud. Sudah cukup senang naik sepeda onta atau jengki (yang agak kecilan) milik kakak saya atau pinjam punya tetangga.

Lalu boneka? Tentu saja, saya tidak meminta boneka ke orang tua. Hahaha… Tetapi, saya masih ingat dulu sering membuat orang-orangan atau wayang dari daun singkong. Kalau tidak salah menggunakan beberapa tangkai daun singkong, yang dibentuk kepala, dua tangan dan tubuh. Boneka daun singkong itu bisa digerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mirip wayang golek.

Bermain orang-orangan atau wayang daun singkong itu saja sudah cukup membahagiakan kami anak-anak kampung. Kami mengarang cerita dan memainkan orang-orangan tersebut dengan penuh rasa suka cita.

Kami juga bermain mobil-mobilan. Anak-anak zaman dulu bisa dibilang kreatif. Kami biasanya membuat mobil-mobilan sendiri dari kertas karton bekas bungkus rokok atau kotak-kotak bekas. Kami menggunting dan mengelem kertas-kertas itu menyerupai body mobil. Roda-rodanya terbuat dari kayu yang dibentuk lingkaran dan dilapisi karet. Saya masih ingat ada tetangga saya yang saat itu sudah lebih besar. Dia pintar sekali membuat mobil-mobilan dari kertas yang mirip aslinya. Dia bentuk seperti truk atau bus, lengkap di dalamnya ada sopir dan penumpang.

Kami menarik mobil-mobilan kertas itu dengan tali berkeliling kampung. Permainan itu sudah sungguh menyenangkan kami. Rasanya seperti melakukan road trip. Hahaha…

Selain bermain menggunakan mainan buatan sendiri, ada banyak permainan yang kami lakukan di halaman seperti gobag sodor, betengan, patil lele atau benthik, sunda manda, dan masih banyak lagi. Kapan-kapan nanti kita bercerita tentang permainan-permainan ini.

Masa kecil memang selalu indah untuk dikenang meskipun dengan segala keterbatasan.

Bagaimana dengan kenangan masa kecil, teman-teman?

Ritual Bulan Juni

Lapak majalah seperti ini suka bikin ngiler. (Sumber: britannica.com)

Juni bagi saya selalu jadi bulan yang istimewa. Alasannya biasa, pada bulan inilah tanggal lahir saya berada. Dan kebetulan pula, ada beberapa tanggal penting pada bulan ini, hari lahirnya Pancasila, hari lahirnya Bapak Pendiri Bangsa kita sekaligus salah satu Proklamator Kemerdekaan NKRI, Soekarno, Hari Ulang Tahun DKI Jakarta, dan kini ditambah dengan hari lahir Bapak Presiden yang sekarang, Pak Jokowi.

Pada bulan ini juga ada peringatan International Day of Yoga yang jatuh pada 21 Juni. Sama dengan tanggal lahir saya dan Pak Jokowi, Pak Ignasius Jonan juga kalau mau ditambahkan. Hehehe…

Dulu saat awal-awal kerja, secara pribadi selalu merayakan atau setidaknya menandai hari ulang tahun saya dengan kebiasaan yang mungkin tidak biasa bagi teman-teman. Tepat pada hari ulang tahun saya, saya membeli hampir semua majalah dan koran yang terbit saat itu. Kalau koran saya beli yang terbit tepat pada tanggal 21 Juni. Sedangkan majalah yang terbit bulan Juni atau minggu hari kelahiran. Oh ya, tentu saja majalah yang saya sukai ya.

Majalah yang saya sukai atau saya baca ya Tempo, Matra, Hai, dan kadang beli beberapa majalah komputer, Intisari, dan Swa. Saya sendiri tidak tahu alasan pastinya saya melakukan hal itu. Yang jelas saya memang lebih suka baca majalah dan koran, ketimbang baca buku. Sejak SD saya sudah suka membeli majalah anak-anak, tidak berlangganan karena orang tua saya bukan orang yang mampu berlangganan. Berlangganan apa pun, tidak hanya majalah.

Biasanya saya menabung dari uang jajan atau uang pemberian Pak Dhe, Bu Dhe. Majalah yang saya beli dan baca seingat saya ada Majalah Kuncung, Kuncup, Ananda, Tom Tom, Kawanku, dan Bobo. Saya tidak ajeg membelinya. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan baru beli. Tergantung kapan uang tabungan sedang banyak. Kalau tidak beli, saya nebeng baca di rumah teman yang berlangganan atau pinjam di perpustakaan.

Kebiasaan suka baca majalah terbawa sampai SMP, SMA dan kuliah. Ketika SMP sampai SMA saya baca Hai, Mode, Anita Cemerlang, kadang-kadang mengintip majalah Gadis juga. 🙂 Zaman SMP-SMA ini saya juga membeli kalau lagi punya uang saja, tidak pernah berlangganan. Salah satu toko majalah dan buku favorit di Kota Tubanmajalah, namanya Toko Nam. Meskipun toko atau lebih tepatnya kios ini kecil, tetapi memiliki koleksi majalah yang sangat lengkap menurut ukuran saya kala itu.

Lalu zaman kuliah saya mulai baca Tempo, Editor, Tabloid Monitor, Matra, Swa(Sembada), InfoKomputer dan beberapa majalah lain. Nah, pada saat kuliah di Bandung saya menemukan “surga” untuk mencari majalah dengan harga murah. Saya sering nongkrong di Cikapundung untuk memilih-milih majalah bekas yang masih dalam kondisi baik. Umumnya terbitan telah seminggu atau dua minggu atau satu periode terbitan.

Uang kiriman dan tabungan dari beasiswa saya sisihkan untuk membeli majalah bekas ini. Saya bisa berlama-lama memilah-memilih di lapak-lapak di sepanjang Jembatan di atas Kali Cikapundung, Bandung ini.

Saat sudah mulai bekerja saya mulai dapat membeli atau berlangganan majalah yang saya sukai, baik majalah dari dalam negeri maupun luar negeri. Majalah luar yang pernah saya langgan adalah Time, Newsweek, dan The Economist. Hingga akhirnya era majalah cetak ini mulai berkurang karena terganti versi digital. Saya pun menghentikan langgganan beberapa majalah. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir saya mulai langganan mahalah lagi sesuai minat yang mulai muncul, yaitu majalah Yoga Journal. Sesekali beli Fast Company dan Wired.

Sebetulnya keasyikan baca majalah cetak belum dapat tergantikan dengan versi digital, sama halnya dengan buku. Dalam hal ini saya masih masuk dalam golongan kolonial, bukan milenial. Hehehe…