Penampakan di Kebon Kosong

Beberapa waktu lalu di salah satu WA Group yang saya ikuti, teman-teman bercerita tentang kisah menyeramkan terkait dengan makhluk gaib yang pernah mereka alami. Saya lalu teringat kejadian beberapa tahun silam. Saat peristiwa ini terjadi di sekitar rumah saya belum sepadat seperti sekarang. Masih banyak kebon dan tanah kosong.

Ini tentu saja bukan abang ojek yang lagi ketakutan. (Sumber: medium.com)

Seperti biasa malam itu saya pulang kerja naik ojek dari stasiun KRL menuju rumah. Kebetulan malam itu turun hujan lumayan lebat. Untung tukang ojek langganan saya pakai jas hujan model ponco sehingga saya bisa berlindung di bagian belakang jas hujannya. Meskipun masih kebasahan juga bagian kaki, lumayanlah kepala dan badan agak kering.

Menuju ke rumah saya ada dua pilihan. Satu, melewati gerbang atau gapura yang berarti lewat jalan besar yang agak lebih jauh. Satunya lagi, lewat jalan pintas berupa gang kecil. Tukang ojek ini biasanya memang mengambil jalan pintas yang hanya dapat dilalui motor atau pejalan kaki. Oleh karena sudah langganan saya tidak perlu memberitahu arah ke tukang ojek ini, lagipula saya tidak bisa melihat dengan jelas jalanan karena tertutup jas hujan.

Dari stasiun ke rumah saya biasanya butuh waktu sekitar 10 menit dengan naik sepeda motor. Setelah perjalanan sekitar 10 menitan dibonceng abang ojek, tiba-tiba sepeda motor berhenti. Saya mengira sudah sampai rumah. Saat itu hujan sudah tidak terlalu deras, hanya gerimis kecil. Saya singkap jas hujan yang melindungiku.

“Mas, motornya mogok. Gak bisa jalan,” kata abang ojek. Dan ketika saya lihat sekeliling, kami berada di tengah kebon kosong yang penuh semak-semak. Saya berusaha menenangkan diri. Saya tahu posisi kebon ini sebetulnya tidak jauh dari rumah, tetapi abangnya mengapa mengambil jalan ke sini padahal saya yakin dia sudah hafal rumah saya. Untuk masuk ke kebon ini kan melewati semak-semak. Sedangkan gang kecil yang biasa kami lewati plesteran.

Abang ojek terlihat agak sedikit panik. Sambil mencoba men-start motornya berulang kali, tetapi tidak berhasil. Awalnya saya ingin marah menyalahkan abang ojek mengapa salah arah, tetapi demi melihat raut mukanya yang panik, timbul rasa kasihan. Lalu saya menawarkan ambil lampu senter dan payung ketika abang ojek ini mulai mengoprek mesin sepeda motornya. Kebon itu memang gelap, hanya terlihat lampu-lampu dari rumah di kejauhan.

Saya bergegas pulang ke rumah untuk mengambil lampu senter dan payung. Jarak rumah dari kebon ini sebetulnya tidak terlalu jauh. Beberapa menit kemudian saya kembali ke tempat abang ojek, tetapi sudah tidak ada. Saya tidak berpikir macam-macam, saya hanya menyangka mungkin mesin sepeda motornya sudah kembali normal. Saya pun balik pulang.

Keesokan malamnya saya bertemu lagi dengan abang ojek tersebut di pangkalan ojek. Seperti biasa saya mau naik sepeda motor abang ojek tersebut. Anehnya, dia menolak dan menawarkan ke temannya yang lain untuk membawa saya. Kebetulan saya juga kenal dengan abang ojek yang ini.

Dalam perjalanan menuju rumah abang ojek yang membawa saya ini bercerita kalau temannya yang membawa saya kemarin masih ketakutan atau trauma. Waktu membawa saya kemarin malam itu temannya juga heran kenapa bisa membawa saya masuk ke kebon itu. Seperti ada yang mengarahkan ke sana, katanya. Lalu saat dia menunggu saya mengambilkan lampu senter, dia melihat sesosok menakutkan di balik pohon di kebon itu. Seketika dia kabur menuntun sepeda motor yang masih belum bisa dijalankan setengah berlari. Baru sekitar beberapa puluh meter menjauh, mesin sepeda motornya bisa dijalankan.

Eng ing eng…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s