Mari Berlari (dari Kenyataan?)

Setelah finish dari Kediri Half Marathon

Sambungan dari tulisan sebelumnya.

Bermula dari BNI ITB Ultra Marathon saya akhirnya menjalani hobi baru: berlari. Bersama teman-teman alumni seangkatan kami berlatih rutin di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta setiap Kamis malam. Lari Kamisan kami menyebutnya. Kebetulan kami memiliki tempat yang dipakai sebagai base camp, yaitu kedai kopi milik teman kami, Kopi Soma di Aquatic Stadium.

Saya pun keterusan ikut beberapa run race seperti Jakarta Marathon, Superball, Pertamina Eco Run dan beberapa lomba lari virtual. Tentang lomba lari virtual ini saya akan bercerita dalam tulisan tersendiri, insya Allah. Tidak terasa, tidak kurang dari 20 medali lari telah saya kumpulkan dalam waktu sekitar enam bulan, baik dari lari nyata maupun maya, tetapi bukan lari dari kenyataan seperti yang sering disentilkan teman-teman ketika diajak lari. Hehehe…

Pencapaian tertinggi dalam lomba lari saya dalam hal jarak adalah Kediri Half Marathon pada 15 Maret 2020 lalu. Race ini kebetulan jadi race terakhir sebelum kehebohan pandemi Covid-19 mulai merebak di negeri ini. Sebetulnya telah diumumkan kasus pertama oleh Pak Presiden Jokowi pada 3 Maret, tetapi saat itu belum ada seruan PSBB di beberapa kota.

Lomba-lomba lari lain sebelum dan setelah tanggal 15 Maret atau bahkan yang bersamaan dengan Kediri HM ditunda atau dibatalkan. Alhamdulillah saya masih bisa merasakan berlari setengah marathon tersebut. Kediri HM ini adalah lari terjauh pertama saya dan acara pertama juga bagi Kabupaten Kediri. Ini jadi momen bersejarah buat saya karena Kediri adalah kampung istri saya.

Akhirnya saya dapat menyelesaikan lari dalam jarak sekitar 21 km dengan catatan waktu masih di bawah COT (Cut of Time). Padahal dalam latihan saya belum pernah sekali pun menempuh jarak tersebut. Sempat ragu juga saya akan mampu menyelesaikannya. Awalnya saya akan memperkirakan separuh jarak atau lebih, sekitar 12-13 km berlari dan sisanya berlari kecil atau jalan kalau memang benar-benar sudah tidak kuat.

Sampai kilometer 15 ternyata saya masih mampu bertahan hingga akhirnya kaki saya seperti mau kram jelang KM 16. Begitu saya mau berlari lagi, kaki ini seperti terasa berat dan kaku. Saya lihat beberapa pelari lain ada yang mengerang kesakitan di pinggir jalan karena kram. Saya tidak ingin mengalami seperti beberapa pelari yang saya lihat tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan saja dengan menahan kaki yang agak berat. Alhamdulillah, meskipun dengan terseok-seok saya sampai garis FINISH juga.

Setelah mencoba melakukan peregangan ringan pada paha dan betis kanan saya yang terasa kencang, perlahan rasa kaku dan berat tersebut menghilang. Ini sungguh jadi pengalaman yang tidak ternilai harganya. Hingga akhirnya hampir semua lomba lari ditunda atau bisa dikatakan dibatalkan dalam tiga bulan terakhir.

Saya hanya bisa berdoa semoga pandemi ini segera berlalu dan kita dapat melakukan aktivitas seperti biasa kembali. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s