Yoga: Olah Tubuh, Pikiran dan Jiwa

yoga-class
Yoga melatih raga, pernapasan dan jiwa. Sumber gambar: wnyc.org

Ah!kamu olah raga dong. Dalam beberapa tahun terakhir saya rutin latihan yoga di sebuah pusat kebugaran atau fitness centre (gym) dan sesekali bergabung latihan dalam komunitas. Awalnya saya hanya mencoba-coba ikut beberapa kelas yang diselenggarakan oleh gym tersebut. Di antara beberapa kelas yang pernah saya ikuti adalah Body Combat, Body Pump, Body Jam, Body Balance, Pilates, dan beberapa yang lain.

Setelah mengikuti beberapa kelas tersebut saya menemukan beberapa kelas yang saya rasakan cocok dengan kondisi tubuh dan usia saya, salah satunya kelas yoga. Persepsi saya terhadap yoga pertama kali mungkin sama dengan sebagian besar orang yang belum pernah mengenal atau mengikuti latihan yoga. Yoga lebih banyak latihan pernapasan atau lebih jauh lagi melakukan meditasi dengan gerakan-gerakan statis. Bahkan ada teman gym saya yang beranggapan kalau latihan yoga bakal ketiduran, gak ada tantangan. Yakin?  ūüôā

Ternyata eh ternyata, perkiraan saya dan teman saya (tentu saja) itu salah, meskipun tidak sepenuhnya salah. Memang pernapasan dan meditasi menjadi salah satu bagian dari latihan yoga. Akan tetapi, yoga yang saya ikuti di gym ini lebih banyak berupa latihan yang menyelaraskan antara gerak raga, pernapasan, dan pikiran, atau kalau mau dilanjutkan bisa ke jiwa. Dengan melakukan serangkaian gerakan yang telah didesain oleh sang instruktur kita melakukan pose-pose yang lumayan menguras tenaga.

Sudah pasti latihan yoga ini akan membuat keringat bercucuran dan kalori dalam tubuh terbakar. Aliran darah jadi lancar dan napas pun teratur. Efek pertama dan paling gampang saya rasakan setelah berlatih yoga beberapa kali adalah berkurangnya frekuensi pergi ke tukang pijat. Hehehe… Gerakan peragangan otot yang dilakukan dalam pose-pose atau asana yoga ini sungguh bisa menjadi terapi bagi tubuh kita.

Postur tubuh pun mulai terasa kembali mendekati yang semestinya. Sayangnya saya mengenal latihan yoga di usia yang sudah tidak muda lagi. Postur tubuh sudah mulai tidak benar. Akan tetapi, tidak pernah ada kata terlambat kan. Meskipun postur tubuh selama ini salah karena kebiasaan, setidaknya masih dapat kita sadari untuk kembali ke postur yang lebih baik.

Pikiran dan jiwa pun kembali menjadi tenang setelah berlatih yoga. Di awal dan akhir latihan sang instruktur biasanya mengajak kita untuk menyadari kontrol terhadap pernapasan dan tubuh kita, melepaskan semua ketegangan pikiran dan jiwa setelah menjalani aktivitas seharian. Hal ini bisa kita lanjutkan sendiri, baik saat berlatih atau sedang menghadapi kehidupan. Emosi pun jadi terkendali.

Mungkin banyak orang menganggap latihan yoga ini adalah bagian dari ritual keagamaan tertentu atau bahkan ada yang mengharamkannya. Memang mungkin pada awalnya yoga ini dipraktikkan oleh pemuka agama atau kelompok religius tertentu, tetapi dalam perkembangannya yoga menjadi olah tubuh dan jiwa yang bermanfaat bagi kesehatan. Bukankah olah raga lain ada juga yang awalnya dilakukan oleh kelompok religius tertentu.

Jenis yoga tertentu mungkin saja masih menempelkan ritual atau mantra agama. Akan tetapi, saya memilih yoga yang hanya merupakan olah tubuh yang menyelaraskan raga, pikiran, dan jiwa demi kesehatan menyeluruh. Dan misalnya ketika ber-“meditasi” pun kita masih bisa tetap menyebut dan mengagungkan asma Allah sesuai keyakinan kita. Dengan demikian, kita dapat selalu bersyukur atas nikmat kesehatan yang telah dianugerahkan pada kita.

Lain kali kita sambung lagi ya dengan belajar sedikit sejarah dan pose-pose yoga yang ciamik. ūüôā

Hai Pengusaha Taksi, Beradaptasi dan Berinovasilah

apps-mobile-smartphone-ss-1920-800x450
Bisnis berbasis aplikasi sudah jadi keniscayaan. Sumber: searchengineland

Ah!kamu norak banget. Kejadian demonstrasi anarkistis sopir taksi hari ini di Jakarta sungguh memprihatinkan dan menunjukkan betapa cupet-nya pikiran orang-orang di balik demo tersebut. Perkembangan teknologi saat ini sungguh berlari kencang merambah ke banyak sektor, termasuk transportasi.

Sebetulnya sebelum terjadi kasus katakanlah sebagai taksi online vs konvensional ini, industri musik, buku dan advertising telah mengalami terlebih dahulu. Sebagai contoh, penjualan musik digital secara online melalui iTunes milik Apple telah melibas toko musik konvensional yang menjual kaset dan CD. Lalu hadirnya ebook yang juga dijual secara online, juga hadirnya toko online semacam Amazon telah merebut pangsa pasar toko buku konvensional.

Di sektor advertising atau periklanan, para agency juga menghadapi konsep iklan pay per click atau pay per view yang berbiaya jauh lebih murah. Pengiklan hanya akan membayar jika iklannya ditonton atau di-klik tautannya oleh pengguna internet. Berbeda dengan masa sebelumnya para agensi iklan menangguk keuntungan besar dengan pemasangan iklan di majalah, koran dan televisi, tidak peduli iklan itu terbaca, ditonton atau tidak.

Lalu apa yang dilakukan penggiat industri musik, buku dan periklanan? Apakah mereka melakukan demo? Turun ke jalan menuntut penutupan iTunes store, Amazon, atau Google dan Facebook yang berperan sebagai agen iklan konsep baru ini? Tidak tuh. Mungkin pada awalnya sebagian dari mereka mengeluhkan bentuk-bentuk dan model baru produk dan sistem penjualannya, tetapi langkah-langkah yang mereka ambil sungguh menjadi teladan yang baik bagi pengusaha taksi di negeri ini.

Penerbit musik dan buku beradaptasi dengan juga membuat musik digital dan ebook sebagai salah satu bentuk baru dari produk mereka. Toko buku dan toko musik juga mulai membuka toko online dan juga membuat aplikasi untuk smartphone agar menjangkau dan memenuhi kebutuhan konsumen baru mereka.

Agensi iklan juga mencari dan mengikuti bentuk iklan baru agar masih bisa survive di bisnis mereka. Regulasi terhadap produk dan cara penjualan baru ini di negara kita juga belum sepenuhnya memenuhi dan memuaskan keinginan pelaku bisnis di sektor musik, buku dan periklanan. Memang menjadi PR dan tantangan pemerintah dan pembuat regulasi untuk mengejar lari superkencang teknologi informasi agar bisa membuat peraturan yang benar-benar menjadi tata kelola yang baik bagi bisnis berbasis internet ini, tanpa merugikan cara-cara lama.

Perubahan adalah keniscayaan. Jargon ini sudah sering kita baca dan dengar dan kini saatnya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tuntutan stop atau tutup industri kreatif berbasis internet seperti Uber, Grab, GoJek hanya membuat kita terlihat naif dan cupet tadi. Cupet di sini bisa diartikan sebagai orang yang sudah putus asa dan tidak mau berinovasi serta mentok pada cara-cara lama. Dengan menutup aplikasi yang dirasakan manfaatnya bagi sebagian besar konsumen ini justru akan menyulitkan pembuat regulasi menyusun peraturan yang benar-benar akan memenuhi kebutuhan. Biarlah syarat minimal dari undang-undang atau regulasi yang ada dipenuhi oleh bentuk industri baru ini lalu sambil berjalan dilakukan evaluasi dan perbaikan.

Sekali lagi, tuntutan penutupan aplikasi berbasis internet ini menunjukkan sikap manja dan kekanak-kanakan pelaku bisnis taksi. Sambutlah dunia baru ini dengan menyerap, beradaptasi, dan berinovasi.

Dapatkan Perjalanan Gratis dengan Uber

uber02
Sumber: autoevolution

Ah!kamu jangan ketinggalan zaman dong. Transportasi umum apa di Jakarta dan beberapa kota besar yang paling ciamik saat ini? Jawaban saya tentu saja Uber. Uber ini adalah pemesanan moda transportasi mobil (bukan taksi) melalui aplikasi dari ponsel cerdas kita, baik yang berbasis iOS (iPhone) maupun Android.

Pengalaman saya menggunakan Uber selama beberapa bulan terakhir sejauh ini asyik dan bisa saya daftar keasyikan tersebut sebagai berikut:

  1. Tinggal sentuh-sentuh di layar smartphone setelah install gratis dari App Store ataupun Google Play.
  2. Cepat sekali dapat mobil yang kita pesan begitu kita lihat ada armada di sekitar. Ketersediaan mobil di sekitar bisa kita lihat di layar aplikasi Uber.
  3. Yang lebih penting lagi, ongkosnya lebih murah daripada taksi konvensional. Kalau tidak salah komponen biayanya sebagai berikut: biaya rental Rp3.000, Rp2.000 per kilometer atau Rp300 per menit dan tarif minimum Rp3.000.
  4. Pengemudi mobilnya rata-rata ramah dan berpendidikan karena mereka umumnya adalah pemilik mobil yang “nyambi” jadi pengemudi Uber. Seringkali menemui orang kantoran juga yang sekalian pulang narik tumpangan. Meskipun ada juga mobil milik rental yang kini dipakai untuk narik Uber juga, tetapi rata-rata mereka sudah di-brief ramah dengan penumpang.
  5. Pembayaran praktis ditagih ke kartu kredit, meskipun sekarang ada pilihan pembayaran tunai (cash). Ongkos akan tertera di layar ponsel kita di aplikasi Uber begitu mengakhiri perjalanan.

Setidaknya ada lima hal yang membuat Uber bisa jadi pilihan penting dalam menggunakan transportasi umum. Cukup kan 5 alasan tersebut? ūüôā Sebagai gambaran betapa murahnya ongkos Uber ini saya pernah naik dari Stasiun Tanjung Barat menuju Cilandak Town Square (Citos) untuk jemput anak lalu lanjut pulang ke daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Berapa ongkosnya? Hanya sekitar Rp28.000, saudara-saudara.

Belum pernah coba? Unduh saja aplikasinya ke iPhone atau ponsel Android Anda, lalu daftarkan diri Anda dengan kartu kredit atau sekarang bisa juga tanpa kartu kredit. Lalu di bagian Promotions masukkan kode promo: DIDIKDUE untuk mendapatkan perjalanan gratis atau potongan sebesar Rp75.000.

Selamat mencoba.

Eric Schmidt Ketahuan Pakai iPhone

Eric-Schmidt-iPhone
Eric Schmidt Ketahuan Pakai iPhone.

Ah!kamu jangan gitu dong. Sudah sering kejadian selebriti atau pesohor yang dikontrak jadi “buzzer” produk Android atau platform lain, tetapi nge-twit atau update status di media sosial malah dari iPhone. Sebut saja yang fenomenal adalah Ellen DeGeneres waktu jadi host Oscar dan dikontrak Samsung untuk pakai seri Galaxy terbaru di panggung, tetapi ketika di backstage dia malah pakai iPhone untuk foto-foto selfie dan diunggah ke akun medsosnya.

Alicia Keys yang sempat diangkat jadi Direktur Kreatif oleh BlackBerry ketahuan sehari-hari pakai iPhone untuk update status, bahkan ketika melakukan twit yang isinya memuji keunggulan BlackBerry itu sendiri. Masih banyak lagi deretan pesohor yang melakukan hal yang sama. Mereka mengambil keuntungan dibayar produk tertentu, katakanlah Samsung yang memang rajin meminta endorse selebriti, tetapi sang selebriti tetap menggunakan gadget kesayangan mereka, yakni iPhone.

Baru-baru ini seperti diberitakan oleh OSEN, chairman Google yang notabene pembuat platform Android tertangkap kamera menggunakan iPhone 6 atau 6s saat sedang memotret. Petinggi Google ini tertangkap kamera jelas-jelas sedang menggunakan iPhone saat berada di Korea Selatan menghadiri sebuah event yang diadakan Google. Tidak hanya itu, di kesempatan lain ia juga terlihat mengirim pesan menggunakan iPhone, bukannya memakai ponsel berbasis Android.

Kalau selebriti lain mungkin bisa dimaklumi, tetapi ini adalah petinggi di perusahaan yang jadi pesaing Apple. Oh ya, perlu diketahui Eric Schmidt pernah duduk di dewan direksi Apple sebelum menjabat CEO di Google, sehingga ia pasti sudah kenal dengan kualitas produk Apple. Selain Eric, Vice President Windows Phone-nya Microsoft Joe Belfiore beberapa waktu sebelumnya juga ketahuan selalu melakukan twit menggunakan iPhone. Meskipun saat dikonfirmasi ia beralasan  ingin merasakan apa yang ditawarkan pesaing, tetapi ia telah melakukan hal itu untuk jangka yang panjang.

Ah!kamu… apa artinya itu? Silakan simpulkan sendiri. ūüėÄ