Aach… Aku (Tidak) Jatuh Cinta

Aach...Aku-Jatuh-Cinta
Rumi (Chico Jericho) dan Yulia (Pevita Pearce) – Sumber: uniqpos

Ah!kamu begitu deh. Ketika akan menonton film terbaru besutan Garin Nugroho yang bertajuk Aach… Aku Jatuh Cinta setidaknya saya memiliki dua harapan: gambar-gambar yang indah dan kisah cinta yang puitis. Terpenuhikah harapan saya itu? Hmmm… mari kita simak apa yang saya rasakan berikut ini.

Gambar-gambar indah dalam film ini mungkin masih dapat kita nikmati. Akan tetapi, di tengah dunia perfilman Indonesia yang dapat dikatakan sudah sedemikian maju, gambar-gambar seperti itu sudah jadi jamak. Sineas-sineas muda kita saat ini sudah banyak yang terampil menampilkan gambar-gambar indah nan puitis. Dulu mungkin dapat dikatakan Garin adalah ahlinya.

Lalu bagaimana dengan kisah cinta yang puitis dan menyentuh? Oleh karena judul film ini mengandung kata cinta dan menyiratkan kisah yang romantis, tidak salah kita berharap akan mendapatkan hiburan kisah seperti itu. Sepanjang film ini, saya tidak menemukan hal itu. Yang ada adalah kisah cinta biasa yang sudah sering kita tonton. Pertentangan cinta akibat perbedaan tingkat sosial atau keluarga baik-baik vs berantakan yang sudah klasik dikemas biasa saja. Simbol-simbol yang ditampilkan juga kurang kuat.

Ada kesan di awal film ini berusaha menampilkan kenakalan komedi, lumayan berhasil. Misalnya adegan Rumi kecil yang digambarkan jail. Bahkan salah satu kejailannya sempat membuat saya dan sebagian penonton mungkin tidak kuasa untuk melihatnya, ada “benda belakang” yang ditampilkan sangat frontal dan menjijikkan. Akan tetapi, upaya-upaya ke arah itu selanjutnya sepertinya serba canggung.

Termasuk pula upaya-upaya adegan romantis. Pembacaan puisi oleh Pevita Pearce sebagai Yulia di sepanjang film mengambang kurang makna. Suara khas anak muda ibukota Pevita tidak kuasa menyentuh rasa. Ibaratnya, tidak ada yang meresonansi ke sanubari. 🙂

Para pemain juga tidak berakting meyakinkan penonton, kadang berlebihan. Banyak yang berteriak-teriak yang sepertinya tidak perlu dan mengingatkan adegan sinetron di TV. Bangunan cerita dan penokohan juga kurang kuat. Ayah Rumi yang digambarkan menyukai puisi-puisi Rumi, tapi jauh dari gambaran itu, malah suka memukul anak dan istri. Banyak adegan sepertinya sia-sia, tidak banyak memperkuat alur cerita berikutnya. Mungkin hanya Chico Jericho yang terlihat bermain menonjol dibandingkan yang lain, meskipun kadang terdengar konyol dan menggelikan karena dialog yang seadanya.

Sebetulnya film ini berpotensi jadi menarik karena berlatar belakang waktu antara 1970-an hingga 1990-an dengan gambaran gaya hidup yang menyertainya. Hadirnya brand-brand yang menonjol, model pakaian, dan gaya hidup sepanjang era itu ditampilkan lumayan runut, tapi sepertinya sekadar ada sebagai pemandangan mata, kurang tergali dan tidak jadi unsur yang penting.

Properti dan detail dalam adegan pun tidak ditangani dengan baik. Misalnya, digambarkan ibu Yulia sedang memunguti buah jambu biji jatuhan, tetapi sepertinya buah-buah itu jatuh dari pohon mangga atau kamboja karena tidak terlihat ada pohon jambu biji di situ. Atau ada teman wanita Rumi datang ke rumah bawa buah duku seperti diceritakan oleh Rumi, tetapi yang dibawa buah lengkeng, tidak terlihat ada duku. Aach… *lucu, lucu

Sebagai tontonan mungkin film itu hanya asyik untuk melihat Pevita Pearce yang cantik dan Chico Jericho yang tampan dan kocak. Tidak lebih. Dan Aach… Aku (Tidak) Jatuh Cinta dengan film Garin yang satu ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s