Cerita Demi: Pria Setengah Senyum

461777879

Hari ini Demi berangkat ke kantor agak kesiangan. Gara-garanya ia harus ngurus perpanjangan KTP di Kelurahan yang ternyata tidak cukup waktu satu jam.

Segera bergegas ia menuju stasiun Commuter Line terdekat, Stasiun Tanjung Barat. Setelah melakukan tap di gate masuk, suara pengeras suara memberitakan kalau kereta jurusan Tanah Abang akan segera datang. Demi pun setengah berlari menuju peron ke arah Tanah Abang.

Ia mengambil posisi di tengah, bukan di depan atau belakang tempat gerbong khusus wanita. Ia pikir jam-jam segini kereta pasti tidak penuh. Kemungkinan untuk dapat duduk lebih besar di gerbong umum.

Ia segera masuk gerbong begitu kereta berhenti. Ya Tuhan, dugaan Demi salah. Kereta lumayan penuh. Ia melirik jam tangannya, pukul 9.30. Heran deh orang-orang ini pada ngurus perpanjangan KTP semua apa? Kok berangkatnya pada siangan, gerutu Demi dalam hati. Alhasil ia hanya bisa berdiri di tengah penumpang yang lumayan banyak.

Demi berniat memasang earphone ke telinganya, tapi ia urungkan karena ujung matanya menangkap pemandangan indah di ujung sana. Di dekat tempat duduk prioritas, lelaki itu bersandar di dekat tiang dekat pintu. Pria dengan setelan kantoran, kemeja lengan panjang warna biru muda dan celana khaki.

Posturnya tidak terlalu tinggi, sedang saja. Tubuhnya juga sedang saja, tidak terlalu gemuk atau kurus. Sisiran rambutnya model jadul kelimis yang memang lagi musim. Bahu kirinya menggendong backpack hitam dan tangan kanannya asyik memainkan gadget. Ah pemandangan jamak di dalam kereta sebetulnya. Tapi, yang bikin jadi istimewa bagi Demi adalah pria itu sesekali memandang ke arahnya.

Demi mencoba melihat sekeliling dan belakangnya, takutnya ia salah mengartikan arah pandangan pria itu. Demi menarik napas lega. Ia yakin pria itu melihat ke arahnya. Tepat ke wajahnya. Setengah tersenyum. Demi pun membalas setengah, eh seperempat senyum. Ia tidak mau terlihat gampangan, makanya ia rendahkan senyumannya.

Ketiga kalinya pandangan senyum mereka beradu. Menimbulkan desiran aneh di dada Demi. Ah, kenapa sih jarak dia dan pria itu agak jauh, pikir Demi. Emang kalau dekat, dia mau ngapain. Emang  berani nyapa duluan? Ah setidaknya dia akan nyapa atau ngajak ngobrol. Yakin?

Tiba-tiba pria itu membuat gerakan aneh dengan tangannya. Demi mencoba menebak artinya. Telunjuk kiri pria itu mengarah ke pipinya sambil membuat gerakan ringan. Apa sih? Dia mau cium pipi? Ngaco ah. Apa sih? Demi berpikir sesaat. Pria itu masih melakukan gerakan yang sama berulang-ulang.

Ah… Demi mulai menemukan titik terang arti kode tangan pria itu. Ah masa sih? Demi mengambil ponselnya dan menyalakan kamera depan menggantikan fungsi cermin. Oh my God yang mahalucu, ah gak suka deh, rengek Demi dalam hati. Ah ternyata gara-gara ini. Demi lalu mengambil kertas tissu, mengelap wajahnya yang cemong bekas tinta cap jari di kantor Kelurahan tadi.

Ah kantor Kelurahan sialan, hari gini masih pakai tinta cap jari. Harusnya pakai alat pemindai sidik jari layar sentuh sih, tapi katanya tadi alatnya lagi rusak jadi pakai cara lama.

Setelah yakin mukanya bersih, Demi kembali mencari pria-setengah-senyum-yang-berjasa tadi. Ia hanya bisa tersenyum kecut. Pemandangan itu telah berganti dengan bapak-bapak tua setengah ngantuk. Pria itu pasti sudah turun di Stasiun Tebet. <bersambung gak ya?>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s