Syukur dan Ikhlas: Perlu Latihan

Ah!kamu jangan bilang susah kalau belum coba. Syukur dan ikhlas memang kadang terasa lebih mudah diucapkan daripada dijalankan. Benarkah begitu? Bisa jadi benar, tapi mungkin bagi sebagian orang menganggapnya tidak.

Seperti halnya perilaku lain, bersyukur dan ikhlas perlu diniatkan untuk menjalankannya dan tentu saja dilatih. Kedua hal tersebut sebetulnya bermuara ke kesabaran dan berpikir positif.

Dalam belajar bersyukur kita bisa mengingat ajaran lama yang sering kita dengar yakni janganlah selalu melihat ke atas. Ajaran ini mengajak kita untuk tidak melihat kondisi orang yang LEBIH dibandingkan kita. Lebih di sini bisa berupa kekayaan, kepandaian, atau penampilan.

Banyak di luar sana orang yang lebih kaya, lebih pintar, atau lebih cantik dan tampan. Akan tetapi, sebetulnya semua itu akan bersifat relatif jika dikaitkan dengan kondisi lain yang mereka miliki. Bisa jadi seseorang memang kaya tapi pelit, dia memang pandai tapi sombong, atau tetangga itu cantik sekali tapi pemarah. Nah, kita sebaiknya bersyukur dengan apa yang kita miliki, karena mungkin kita tidak pelit, tidak sombong dan tidak pemarah. Mudah-mudahan ya… 🙂 Setelah itu kita melihat orang yang kita anggap KURANG dibandingkan kita.

Kita bersyukur karena memiliki rumah, misalnya. Di luar sana masih banyak orang yang harus ngontrak atau sewa. Kalau kita dalam posisi penyewa rumah, masih bisa bersyukur karena masih banyak orang yang tinggal di emperan toko atau pinggir kali karena tidak mampu bayar sewa rumah, dan seterusnya. Tentu saja, sikap rasa syukur ini tidak lantas membuat kita sombong.

Melihat ke atas atau ke orang-orang yang lebih tadi boleh saja kita lakukan sebagai penyemangat atau cita-cita. Misalnya, saya ingin punya rumah besar seperti Si Boss A, atau saya ingin pintar seperti Si B, atau saya ingin berpenampilan tampan seperti Si C. Tentu saja, hal itu harus diikuti dengan usaha mencapai ke sana, yakni dengan bekerja, belajar, dan bersikap.

Kita menyadari bahwa harta, kepandaian, dan kecantikan sebenarnya bukanlah milik kita, hanya anugerah atau titipan dari Yang Mahakuasa. Kapan saja hal itu bisa hilang dan diambil kembali. Sudah banyak contoh di sekitar tentang kejadian seperti itu. Orang yang mungkin tahun lalu masih kaya raya memiliki rumah mewah, beberapa mobil tiba-tiba usahanya bangkrut. Orang yang pandai tiba-tiba kehilangan keahliannya karena sakit. Orang yang tampan tiba-tiba mengalami kecelakaan yang meninggalkan bekas luka atau cacat di wajahnya. Mudah-mudahan semua itu tidak terjadi pada kita.

Sikap ikhlas harus ditumbuhkan juga dengan latihan terus-menerus. Ikhlas tidak hanya berhenti sampai di ujung lidah, tetapi juga di hati dan diikuti dengan perbuatan. Kadang kita berkata ikhlas terhadap kejadian yang menimpa kita, biasanya kehilangan atau kekalahan, tetapi kita selalu membicarakannya dengan rasa penuh penyesalan. Itu bukanlah ikhlas yang sesungguhnya.

Sikap ikhlas ini sebetulnya akan membuat hidup kita lebih tenang, tidak panikan dan tidak mudah marah yang berarti akan lebih SABAR dan bersikap POSITIF.

OK, mulai saat ini mari kita berlatih dan menerapkan sikap selalu bersyukur dan ikhlas. Mulailah dengan kejadian yang kita hadapi saat ini juga.

Cerita Demi: Pria Setengah Senyum

461777879

Hari ini Demi berangkat ke kantor agak kesiangan. Gara-garanya ia harus ngurus perpanjangan KTP di Kelurahan yang ternyata tidak cukup waktu satu jam.

Segera bergegas ia menuju stasiun Commuter Line terdekat, Stasiun Tanjung Barat. Setelah melakukan tap di gate masuk, suara pengeras suara memberitakan kalau kereta jurusan Tanah Abang akan segera datang. Demi pun setengah berlari menuju peron ke arah Tanah Abang.

Ia mengambil posisi di tengah, bukan di depan atau belakang tempat gerbong khusus wanita. Ia pikir jam-jam segini kereta pasti tidak penuh. Kemungkinan untuk dapat duduk lebih besar di gerbong umum.

Ia segera masuk gerbong begitu kereta berhenti. Ya Tuhan, dugaan Demi salah. Kereta lumayan penuh. Ia melirik jam tangannya, pukul 9.30. Heran deh orang-orang ini pada ngurus perpanjangan KTP semua apa? Kok berangkatnya pada siangan, gerutu Demi dalam hati. Alhasil ia hanya bisa berdiri di tengah penumpang yang lumayan banyak.

Demi berniat memasang earphone ke telinganya, tapi ia urungkan karena ujung matanya menangkap pemandangan indah di ujung sana. Di dekat tempat duduk prioritas, lelaki itu bersandar di dekat tiang dekat pintu. Pria dengan setelan kantoran, kemeja lengan panjang warna biru muda dan celana khaki.

Posturnya tidak terlalu tinggi, sedang saja. Tubuhnya juga sedang saja, tidak terlalu gemuk atau kurus. Sisiran rambutnya model jadul kelimis yang memang lagi musim. Bahu kirinya menggendong backpack hitam dan tangan kanannya asyik memainkan gadget. Ah pemandangan jamak di dalam kereta sebetulnya. Tapi, yang bikin jadi istimewa bagi Demi adalah pria itu sesekali memandang ke arahnya.

Demi mencoba melihat sekeliling dan belakangnya, takutnya ia salah mengartikan arah pandangan pria itu. Demi menarik napas lega. Ia yakin pria itu melihat ke arahnya. Tepat ke wajahnya. Setengah tersenyum. Demi pun membalas setengah, eh seperempat senyum. Ia tidak mau terlihat gampangan, makanya ia rendahkan senyumannya.

Ketiga kalinya pandangan senyum mereka beradu. Menimbulkan desiran aneh di dada Demi. Ah, kenapa sih jarak dia dan pria itu agak jauh, pikir Demi. Emang kalau dekat, dia mau ngapain. Emang  berani nyapa duluan? Ah setidaknya dia akan nyapa atau ngajak ngobrol. Yakin?

Tiba-tiba pria itu membuat gerakan aneh dengan tangannya. Demi mencoba menebak artinya. Telunjuk kiri pria itu mengarah ke pipinya sambil membuat gerakan ringan. Apa sih? Dia mau cium pipi? Ngaco ah. Apa sih? Demi berpikir sesaat. Pria itu masih melakukan gerakan yang sama berulang-ulang.

Ah… Demi mulai menemukan titik terang arti kode tangan pria itu. Ah masa sih? Demi mengambil ponselnya dan menyalakan kamera depan menggantikan fungsi cermin. Oh my God yang mahalucu, ah gak suka deh, rengek Demi dalam hati. Ah ternyata gara-gara ini. Demi lalu mengambil kertas tissu, mengelap wajahnya yang cemong bekas tinta cap jari di kantor Kelurahan tadi.

Ah kantor Kelurahan sialan, hari gini masih pakai tinta cap jari. Harusnya pakai alat pemindai sidik jari layar sentuh sih, tapi katanya tadi alatnya lagi rusak jadi pakai cara lama.

Setelah yakin mukanya bersih, Demi kembali mencari pria-setengah-senyum-yang-berjasa tadi. Ia hanya bisa tersenyum kecut. Pemandangan itu telah berganti dengan bapak-bapak tua setengah ngantuk. Pria itu pasti sudah turun di Stasiun Tebet. <bersambung gak ya?>

Ayahku Terkenal Sedunia

interview
Terkenal bak selebriti 🙂 Sumber: asset-cache

Ah!kamu lucu deh. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun silam ketika anak saya masih kecil, mungkin waktu masih SD kelas 2 atau 3. Saya berbelanja di sebuah Department Store bersama anak istri dan kebetulan saya yang membayar di kasir dan anak saya menginthili, hehehe… berada di belakang saya.

Setelah menyerahkan belanjaan ke kasir, si Mbak Kasir memindai pricetag satu-satu dari barang-barang yang kami beli. Setelah selesai semua saya menyodorkan kartu kredit ke Mbak Kasir, dia pun lalu memindai kartu saya di mesin kasirnya dan menyerahkan bon pembayaran yang harus saya tanda tangani. Hal yang biasa saja kan?

Setelah beres semua Si Mbak Kasir menyerahkan kantong berisi barang-barang yang kami beli beserta kartu kredit saya.

“Terima kasih, Pak (nama saya),” ujar Mbak Kasir ramah.

Tiba-tiba anak saya nyeletuk, “Ayah, Mbak Kasir kenal sama Ayah?”

Mendengar pertanyaan tersebut saya tersentak kaget lalu berpaling ke Si Mbak Kasir, barangkali saya juga mengenalnya. Tidak, saya tidak kenal dia. Saya hanya mengenalnya sebagai kasir toko swalayan ini dan mengenal wajahnya pun tidak.

“Kok, kamu tahu?” tanya saya balik ke anak saya.

“Tadi dia nyebut nama Ayah,” jawab anak saya. Oh! ha haha… Baru saya sadar, pasti Si Mbak Kasir membaca nama di kartu kredit saya.

Spontan saya bilang ke anak saya, “Oh iya, dia kenal.”

“Kemarin waktu di restoran, Mbak Kasir juga kenal Ayah,” kata anak saya lagi. “Berarti Ayah terkenal ya?”

Hahahaha… Ah!kamu Ayah memang terkenal di seluruh dunia.

 

 

Akankah Kamu Jadi Penyebar Fitnah?

social-media
Sumber gambar: techtimes

Ah!kamu mudah sekali tergoda untuk sharing berita atau tulisan di akun medsos kamu. Kejadian seperti ini memang marak dalam beberapa tahun terakhir sejak makin banyaknya pengguna medsos.

Ketika kita baca tulisan tentang suatu peristiwa yang berkenan di hati atau sesuai pemikiran kita, kita langsung share tulisan itu di akun FB, Twitter, atau medsos lain. Padahal kebenaran tulisan tersebut masih diragukan atau bahkan mungkin sama sekali berbeda dengan fakta. Kalau tulisan itu hanya tentang peristiwa ringan, dampaknya mungkin tidak seberapa. Akan tetapi, kalau sudah menyangkut pribadi seseorang apalagi berbau kebencian, sadarkah apa yang yang telah kita lakukan? Fitnah! Ya, sama saja kita telah menyebarkan fitnah.

Banyak dari kita mungkin telah terbiasa menyebarkan fitnah semacam ini. Kita sudah dilatih oleh media konvensional seperti TV yang memiliki acara penyebar gosip berbalut nama infotainment. Di sana seringkali terjadi pemberitaan tentang pribadi pesohor atau selebriti yang belum tentu kebenarannya. Setelah melihat tayangan tersebut, serta-merta kita menyampaikan ke teman kita dan memperbincangkannya, kadang-kadang menambahi dengan opini kita sendiri yang kian berkembang dari fakta.

Menyebarkan berita atau tulisan yang belum tentu sesuai fakta ini makin berkembang dengan bertambahnya pengguna internet baru, atau orang yang baru melek medsos (media sosial). Umumnya mereka menganggap benar adanya segala sesuatu yang berseliweran di timeline FB, kicauan Twitter, posting-an Path atau Instagram. Apalagi sekarang makin banyak website atau blog yang seolah-olah media pemberitaan resmi. Padahal kini dengan mudahnya orang membuat website atau blog, hanya dalam beberapa menit bisa jadi dan menyebarkan tulisan yang seolah berita.

Orang-orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang awam yang mudah sekali percaya dengan iklan yang ditayangkan TV. Pernah kan menemui orang seperti ini? Misalnya setelah melihat iklan minuman dengan perasa jeruk yang di sana disebutkan segala kelebihan yang seolah-olah sama dengan jeruk asli atau bahkan lebih, ia akan ambil mentah-mentah informasi itu dan mengubah perilakunya mengonsumsi jeruk.

Umumnya orang semacam itu adalah orang awam yang kurang pengetahuan atau kurang pendidikan. Akan tetapi, sangat kita sayangkan kejadian penyebaran berita/tulisan fitnah di medsos itu tidak hanya dilakukan oleh orang awam atau tidak berpendidikan. Orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi hingga sarjana atau bahkan berprofesi pendidik semisal dosen pun ikut terbawa.

Justru orang berpendidikan tinggi tapi berperilaku awam seperti ini lebih berbahaya. Mereka dengan kemampuan berbahasa membalut dan menambah opininya sendiri sehingga seolah-olah tulisan yang dia share makin meyakinkan. Orang semacam ini sungguh sudah tertutup hatinya demi tujuan yang ia perjuangkan yang umumnya adalah popularitas (semu) dan bisa saja dia dibayar sebagai buzzer pihak tertentu.

Mungkin orang semacam itu berkedok menyampaikan kritik, tapi kita sudah bisa melihat mana kritik mana kebencian. Tulisan yang hanya memperlihatkan keburukan yang belum tentu benar, tanpa memberi solusi di bagian akhirnya sudah jelas itu hanya penyebar kebencian bahkan fitnah.

Akankah kamu ikut-ikutan jadi orang semacam itu? Sadarkah yang telah kamu lakukan? Mungkin kamu hanya akan mendapatkan imbalan popularitas dan sejumlah uang (sebagai buzzer), tapi kamu telah menjadi penyebar fitnah yang di agama apa pun dilarang dan bernilai dosa besar.

Yang kita tuliskan di timeline medsos dengan mudahnya menyebar, sekalipun kamu menyesalinya dan sudah menghapusnya, tulisan itu mungkin sudah telanjur menyebar dan dikutip (copas) banyak orang. Kalau sudah begitu, perbuatan dosa kita akan terbawa hingga kita mati.

Coba renungkan lagi…

Tahun Baru Semangat Baru

4-steps-networking-level
Sumber: careerealism

Ah!kamu merasa tidak? Sudah dua hari kita memasuki tahun baru 2016. Kita melakukan langkah-langkah awal menapak yang semestinya menuju cita-cita yang ingin kita raih sepanjang tahun ini.

Yang tahun ini ingin memulai bisnis atau usaha baru, mari siapkan dengan sebaik-sebaiknya agar berjalan sesuai harapan. Bisnis atau usaha sendiri adalah hal yang bagus dan mulia.

Yang ingin berpindah tempat kerja atau berganti karier, mari mencari dan mempertimbangkan baik dan buruknya dibandingkan tempat kerja yang sekarang. Ingat kerja bukan semata tentang besarnya gaji, tapi ada kenyamanan bekerja, sesuai gairah (passion), pewujudan aktualisasi diri dan peningkatan jenjang karier.

Yang tahun ini bertekad menyelesaikan kuliah dan skripsi, mari benar-benar menyiapkan bekal untuk kelulusan dan skripsi atau tugas akhir agar memperoleh nilai yang memuaskan. Ingat, kelulusan bukanlah tahapan akhir, justru itu adalah langkah awal memasuki dunia kerja.

Mungkin ada daftar panjang cita-cita dan harapan yang ingin kita raih tahun ini, tapi sebaiknya kita melakukan prioritas agar kita tidak terlalu melebar ke mana-mana yang membuat kita tidak fokus. Tugas kita memang hanya bekerja, berusaha, dan berdoa. Selebihnya adalah urusan Tuhan yang mahakuasa untuk mewujudkannya.

Semoga kita, aku dan kamu, dapat menyadari setiap langkah dan aktivitas yang kita jalani bermanfaat dan berkah. Sikap ikhlas dan selalu bersyukur selalu kita hadirkan setiap saat.