Atur Keuangan Sejak Dini

u-growth

Ah!kamu boros sekali sih. Kerja bertahun-tahun gak berwujud apa-apa. Sering kita mendengar keluhan diri atau omelan orang lain yang intinya kurang lebih seperti itu. Sering ngalami kayak gitu? Pastinya.

Kalau gitu marilah kemari kita belajar berhitung. Atau lebih tepatnya merapikan pemasukan dan pengeluaran kita.

Coba gaji kamu berapa? Ah, pertanyaan yang sensitif ini mah. Baiklah kalau begitu pakai pengandaian aja. Kita misalkan gaji saya Rp4 juta per bulan. Ah kecil amat? Hehehe… Ya deh, yang gajinya gedean nanti tinggal menghitung sisanya yang tentunya lebih besar pula.

Tiga pengeluaran utama yang dapat dihemat:

  1. Tempat Tinggal. Ini tentu saja buat kita yang masih kost alias belum punya rumah sendiri atau tidak tinggal sama orang tua. Kalau masih tinggal sama orang tua, ya nanti hasil akhirnya lebih besar karena tidak mengeluarkan biaya tinggal dan makan di rumah. Untuk tempat kost carilah yang tidak terlalu mahal, yang penting nyaman dan aman. Tidak perlu menyewa apartemen atau kost mewah ber-AC yang umumnya mahal, gak usah mementingkan gengsi karena tempat kost lebih banyak hanya untuk istirahat dan tidur malam hari. Rata-rata berangkat kerja pukul 6-7 pagi dan pulang pukul 8-9 malam sehingga tidak ada gunanya bayar mahal hanya untuk numpang tidur. Ambillah tempat kost seharga Rp500 ribu – 700 ribu. Mungkin agak jauh dari tempat kerja tapi aksesnya dengan kendaraan umum gampang. Kita ambil perkiraan pengeluaran = Rp600 ribu.
  2. Makan dan Jajan. Biaya ini tidak terasa juga akan menguras penghasilan kita. Akan tetapi, selalu bisa kita siasati. Kalau kamu bekerja di wilayah perkantoran Sudirman pasti akan mengeluarkan biaya sekali makan siang minimal Rp30-40 ribu. Cara menyiasatinya sebagai berikut: Sarapan di dekat tempat kost yang relatif murah seperti bubur ayam atau nasi uduk seharga Rp5-7 ribu. Untuk makan siang beli nasi bungkus di warteg dibawa ke kantor. Biar kelihatan lebih enak dipandang makanannya dibawa pakai lunch box saja. Nasi dengan sayur dan lauk di warteg dekat rumah berkisar Rp12-15 ribu, ambil rata-rata Rp13 ribu. Demikian juga untuk makan malam, berhematlah, taruhlah sekitar Rp15 ribu. Sesekali bolehlah makan di restoran yang lebih mahal, tapi gak perlu sering-sering. Dengan rata-rata biaya makan dan jajan per hari Rp40 ribu maka pengeluaran per bulan adalah Rp1.200.000. Biaya ini akan sedikit berkurang jika Anda bekerja di kantor yang memberi jatah catering makan siang.
  3. Transportasi. Terkait dengan transportasi, itulah gunanya cari tempat kost yang strategis dan mudah diakses meskipun agak jauh di pinggiran kota. Pilihlah tempat kost yang mudah dijangkau kendaraan umum seperti dekat dengan stasiun Commuter Line atau halte TransJakarta. Dengan perhitungan ongkos transportasi umum = ongkos CL pp (6 ribu) + TransJakarta (7 ribu) = Rp13 ribu berarti per bulan Rp390 ribu. Pilihan antara tempat tinggal dan transportasi bisa saling terkait. Artinya mungkin agak dekat kantor dengan biaya mahal tapi transport ke kantor tinggal jalan kaki. Hal itu bisa kamu sesuaikan sendiri. Dalam perhitungan kita berarti biaya tempat tinggal + transportasi tidak lebih dari Rp 1 juta. Kalau misalnya dalam perhitungan memungkinkan beli motor, walau seken, ya bisa saja dilakukan.

Dengan demikian, biaya pengeluaran utama per bulan kita adalah 600 ribu + 1,2 juta + 390 ribu = Rp2.190.000. Tentu saja, kita tidak hanya hidup dari tempat kost ke tempat kerja kan? Kita perlu refreshing, beli pakaian dan bersosialisasi. Alokasikan untuk biaya bersosialisasi ini sekitar 10% dari gaji kita atau Rp400 ribu. Gak cukup? Cukup-cukupkanlah. Saya yakin kita pasti bisa mengaturnya. Hiduplah sesuai dengan sikon, kini kita masih dalam tahap kerja keras dan perjuangan, anggap saja begitu. Hidup sederhana itu lebih baik daripada royal tanpa memperhatikan keuangan. Cieee…. Nanti saat kita sudah berkecukupan, bolehlah sesekali memanjakan diri. 🙂

Jadi, total jendral pengeluaran kita per bulan adalah Rp2.190.000 + Rp400.000 = Rp2.590.000 atau kita bulatkan Rp2,6 juta. Masih ada sisa Rp1.300.000. Uang tersebut masih bisa kita gunakan untuk membantu orang tua atau saudara yang mungkin membutuhkan, taruhlah kita sisihkan Rp300 ribu per bulan sehingga masih ada  Rp1 juta.

Uang sisa tersebut masih bisa kita sisihkan untuk biaya pengembangan diri sebagai bekal peningkatan keahlian dan kecakapan. Misalnya untuk beli buku atau mengikuti seminar/workshop. Buku dan seminar-seminar ini akan kita rasakan manfaatnya sebagai bekal pengetahuan yang bernilai investasi. Untuk beli buku, cukup beli di toko buku online karena ini akan lebih hemat biaya transport dan lain-lain. Misalnya, kita anggarkan biaya ini sekitar Rp200 ribu per bulan, maka kita masih punya Rp800 ribu untuk kita tabung atau investasikan dalam bentuk deposito, reksadana dan lain-lain.

Tabungan sebesar Rp800 ribu per bulan ini akan terkumpul minimal Rp9,6-10 juta setahun dan selama 10 tahun berarti sekitar Rp100 juta. Oh ya, bisa saja tiap tahun kita akan mendapatkan bonus dan THR yang nilainya masing-masing taruhlah satu kali gaji per bulan yang berarti berkisar Rp8 juta. Jika bonus ini hanya kita ambil 20% untuk reward diri atau memanjakan diri, perlu lho itu, berarti selama 10 tahun terkumpul Rp64 juta. Ditambah tabungan bulanan tadi, berarti kita memiliki minimal Rp164 juta. Lumayan kan? Kalau saat ini usia kita 20 tahun berarti itu terjadi saat kita berusia Rp30 tahun.

Perkiraan pendapatan tersebut belum memperhitungkan kenaikan gaji, nilai inflasi, dan suku bunga tabungan atau deposito. Yang perlu kita ingat, kita jangan seperti berjalan di treadmill, yang seolah maju tapi hanya berada di tempat. Artinya saat kita mendapat kenaikan gaji, pengeluaran kita juga bertambah besar yang biasanya disebabkan oleh rasa gengsi. Jika kenaikan gaji kita misalnya 20%, kita hanya memberi toleransi kenaikan pengeluaran 5-10% atau bahkan tetap, hanya ngikutin inflasi.

Sebetulnya tidak ada gunanya kan hidup berlebihan, kalau bisa kita hemat dan kita gunakan untuk yang lebih baik dan bermanfaat tentu saja lebih baik. Jika ada bujet yang bisa kita tekan lakukanlah. Tapi, prinsipnya kita berhemat, bukan pelit.

Mungkin uang Rp164 juta yang terkumpul itu kita rasa terlalu kecil. Oleh krena itu, kita perlu memikirkan tentang penghasilan tambahan dengan melakukan pekerjaan di waktu luang. Tentu saja ini jadi ide yang sangat menarik. Kita akan bahas tentang hal ini di tulisan selanjutnya.

Ternyata mudah kan mengatur keuangan? Yang paling penting dari semua itu adalah disiplin dan taat anggaran. Kita perlu membuat catatan pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Banyak aplikasi di smartphone yang bisa kita unduh dan gunakan.

OK, selamat mengatur keuangan sejak dini, semoga kita akan dapat mewujudkan keinginan kita.

Sumber gambar: waldenfinancialplanning

CL: Transportasi Umum Andalan Jakarta

10659255_10204423631143854_7420316814794731976_n

Ah!kamu kudet* deh. Itu saya katakan pada teman yang belum pernah naik kereta di Jakarta akhir-akhir ini, atau setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dalam bayangannya kereta di Jakarta masih seperti zaman saat masih bernama KRL (kereta rel listrik).

Kini KRL itu sudah punya nama baru yang lebih keren, yaitu Commuter Line atau sering dipendekkan jadi ComLine atau CL. Tidak hanya namanya yang berubah, layanan, sarana dan prasarana betul-betul sudah berbeda. Bentuk keretanya (gerbongnya) memang masih sama, seperti kereta AC pada masa lalu, tapi lebih bersih.

Perhatikan saja beberapa stasiun yang ada di sepanjang jalur Bogor – Jakarta atau Bekasi – Jakarta, fisiknya sudah banyak berubah dan lebih bersih. Kini tidak ada lagi pedagang asongan, pedagang kaki lima atau pengamen yang berkeliaran. Untuk masuk ke stasiun kini kita harus memiliki kartu dan melalukan “tap” (menyentuhkan kartu di sensor) di pintu otomatis, keluar pun juga harus melakukan hal yang sama. Keren kan? Sudah seperti di kota-kota besar negara maju.

474703_10200881988445000_2043781470_o

Kita bisa berlangganan kartu KMT (Kartu Multi Trip) atau beli THB (Tiket Harian Berjaminan) untuk sekali pakai. Akan tetapi, kalau kita memiliki kartu pembayaran yang dikeluarkan oleh bank seperti BCA Flazz, Mandiri e-Money, atau BRI Brizzi, kita bisa juga menggunakannya. Perhitungan ongkos untuk perjalanan dengan CL juga relatif murah, berdasarkan jarak yang kita tempuh, sebesar Rp2.000,00 untuk 1-25 km pertama, 1-10 km berikutnya sebesar Rp1.000,00.

Oh ya, sekarang cuma ada satu jenis kereta dan semuanya ber-AC, tidak seperti dulu yang membedakan kelas ekonomi (non AC), AC, dan Pakuan. Semua sama untuk jalur Bogor/Depok – Jakarta Kota/Tanah Abang, Bekasi – Jakarta Kota, Serpong – Tanah Abang dan yang lain. Gerbong paling depan dan belakang dikhususkan untuk wanita. Jadi, jangan sampai salah naik bagi kaum pria.

Di dalam gerbong kondisinya relatif bersih karena ber-AC, tidak boleh makan dan minum, apalagi merokok. Membawa barang pun ada ukuran maksimal yang diperbolehkan dibawa, tidak boleh membawa binatang juga. Pintu gerbong membuka dan menutup secera otomatis, tidak ada lagi orang yang mengganjal-ganjal pintu.

Di setiap dinding gerbong tertempel rute kereta, bahkan saat ini sudah mulai ada layar yang menampilkan rute perjalanan kereta. Dilengkapi dengan pemberitahuan ketika akan memasuki setiap stasiun. Tidak seperti kereta KRL zaman dulu yang menganggap semua penumpang sudah hafal nama stasiun dan rute kereta.

Di setiap stasiun juga selalu disampaikan posisi kereta terakhir yang akan melintasi stasiun tersebut, baik melalui pengeras suara maupun papan elektronik yang menayala.

10393903_10204423922031126_5344267607720985505_nLebih nyamankah sekarang? Menurut saya sih yes, gak tahu kalau menurut Mas Anang. Hehehe… Meskipun jadwalnya belum setepat yang dijanjikan, tetapi keretanya sudah relatif banyak. Memang sih pada jam-jam sibuk seperti berangkat dan pulang kantor kereta akan penuh sesak. Oleh karena itu, jika Anda bukan pengguna rutin CL hindari naik CL pada pukul 6-9 pagi atau 5-7 malam, kecuali memang terpaksa.

Selebihnya, kereta Commuter Line sekarang nyaman, aman dan cepat dibandingkan Anda berkendara dengan mobil di jalan raya Jakarta yang rawan macet di banyak titik yang kadang tak terduga. Cobalah sesekali menggunakannya. 🙂

Sumber foto: dok. pribadi

*kurang update