Kecurangan Harus Diungkap (oleh Bapak Berpeci?)

Man-yelling-through-megaphone
Sumber: inkhouse

Ah!kamu bisa aja. Beberapa hari lalu saya merasa dicurangi oleh operator ponsel bernama Tri (Indonesia) sehingga membuat saya memutuskan untuk berhenti berlangganan layanan pascabayar mereka. Kecurangan itu entah disengaja atau tidak, yang jelas sistem yang digunakan membuat saya tidak bisa melakukan panggilan selama beberapa hari meskipun saya sudah membayar lunas tagihan. Nilai uangnya memang tidak besar, tetapi ketidakaktifan ponsel selama sekitar seminggu betul-betul memengaruhi aktivitas kerja dan sosial saya.

Kejadian semacam ini sudah pernah saya alami sekitar tiga kali dengan berbagai macam penyebab yang sebetulnya dilakukan oleh pihak mereka sendiri, entah itu kasir atau operator.

Prosedur penutupan kartu di 3 ini mewajibkan saya datang ke gerai mereka yang disebut 3 Store. Hal ini sebetulnya malas saya lakukan, saya betul-betul sudah tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi. Saya sempat menulis email, Direct Message (DM) di Twiter dan via telepon tentang keputusan saya untuk menutup kartu dengan catatan saya tidak mau datang ke 3 Store. Balasan email, DM, dan mereka menelepon menyarankan agar saya datang ke 3 Store. Jika saya tidak melakukannya, proses penagihan akan berlangsung terus-menerus setiap bulannya, dan akan bertumpuk tagihan demi tagihan.

Sebetulnya saya bisa cuek dan mengabaikan saja bila hal itu terjadi. Akan tetapi, saya tidak ingin terlibat kasus berkepanjangan dengan mereka. Sudah ingin sesegera mungkin menutup hubungan, pendek kata. OK, saya akhirnya memutuskan untuk datang, hal ini juga menunjukkan bahwa saya taat prosedur, tidak akan mengikuti sikap curang seperti yang mereka lakukan.

Sore itu saya datang ke 3 Store Kelapa Gading, Jakarta Utara dengan niatan tidak akan banyak berkata-kata, hanya satu tujuan: TUTUP KARTU. Tidak akan memarahi mereka atau menyampaikan rasa kesal saya karena hal itu makin akan membuat emosi dan menebarkan energi negatif. Sudahlah biar mereka sendiri yang bersikap negatif alias curang, disadari atau tidak.

Saat duduk di ruang tunggu saya berusaha untuk memasang wajah datar. Tanpa ekspresi, tidak menunjukkan senyum seperti layaknya sering saya lakukan, tidak juga menunjukkan rasa kesal. Akan tetapi, sayup-sayup saya mendengar perbincangan berbantah-bantah di salah satu meja CS, antara pelanggan dan petugas CS. Saya tidak berusaha menguping atau mencari tahu apa yang sedang mereka bantahkan, tetapi saya sudah bisa menduga.

Lalu tiba giliran saya dipanggil ke salah satu meja CS yang kebetulan duduk di samping bapak-bapak pelanggan yang sempat saya dengar berbantah dengan petugas CS. Sesaat saya lirik wajah bapak itu memerah menahan emosi.

Petugas yang melayani saya menanyakan keperluan saya, saya jawab singkat: Saya mau menutup kartu. Petugas itu segera menyodorkan formulir penutupan kartu. Saya mengisinya tanpa banyak berkata dan bertanya. Petugas CS memberitahu bahwa saya harus melunasi tagihan yang tersisa dan biaya-biaya yang jumlahnya sekitar Rp80 ribu rupiah. Saya sudah menduga hal ini akan terjadi, biaya abonemen satu bulan ke depan pasti sudah dimasukkan kendati saya belum memakainya secara penuh. Ah sudahlah…

Saya bilang saya akan menggunakan deposit Rp100 ribu (untung saya masih ingat ada deposit ini karena petugas tidak menyinggung sama sekali tentang deposit ini) untuk membayar biaya tersebut. Saya tidak mengungkit atau menelisik rincian biaya itu, takut makin menambah emosi. Sempat Si Mbak itu nanya alasan saya menutup kartu. Saya jawab singkat: Layanan TIDAK BAGUS. Si Mbak CS hanya terlihat tersenyum masam. Sementara itu di sebelah saya Si Bapak yang berpeci masih berbantah dengan petugas CS.

Timbul pikiran iseng di kepala saya. Saya ingin menengok ke sebelah dan berkata: Sudah Pak, tutup saja. Akan tetapi, hal itu tidak saya lakukan. Berkali-kali pikiran itu muncul. Bahkan ketika Si Mbak yang melayani saya sibuk mencari uang recehan karena kembalian yang saya terima Rp18.303 setelah deposit saya dipotong biaya penutupan. Saya memiliki banyak waktu untuk mengompori Si Bapak Berpeci yang memang sudah meradang.

Sesaat kemudian tidak dinyana Si Bapak itu menoleh ke saya dan bertanya tentang keperluan saya datang ke CS. Saya jawab: saya mengalami hal serupa dengan Bapak dan sudah tiga kali mengalaminya. Reaksi Si Bapak Berpeci itu sungguh di luar dugaan saya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke tengah ruangan yang sebetulnya tidak besar-besar amat. Si Bapak berkata dengan lantang: “Kalau Tri tidak ingin kehilangan pelanggan, sebaiknya segera memperbaiki sistemnya. Si Bapak ini (menunjuk ke saya) bahkan sudah tiga kali mengalaminya. … ”

Kata-kata selanjutnya sudah tidak bisa saya dengar lagi karena saya sudah keluar dari ruangan berpintu kaca itu. Saya hanya sempat melirik beberapa CS dan kasir yang ada di sana memandang saya dengan wajah kecut sekecut-kecutnya. Dalam hati saya merasa puas. Bukan saya lho yang berkata-kata. Dan saya betul-betul sudah merasa plong. Tidak ada emosi. Sudah saya salurkan kekesalan saya melalui Si Bapak Berpeci itu.

“Kecurangan memang harus diungkap (oleh siapa saja, tidak harus saya).” Itulah pesan moral dari kejadian tersebut.

*Thanks to Bapak Berpeci

Advertisements

2 thoughts on “Kecurangan Harus Diungkap (oleh Bapak Berpeci?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s