Medsosku Bukan Seluruh Hidupku

social media
Source: jsums.edu

Ah!kamu suka gitu deh. Hampir semua teman kita saat ini memiliki akun di media sosial (medsos) seperti FB, Twitter, Instagram, dan Path. Mereka asyik-asyik hampir setiap hari posting status, catatan, kicauan, foto, lagu dan tautan-tautan dari sumber lain. Dulu, pada awalnya saya sering menilai seseorang dari dinding Facebook-nya, kicauan di Twitter-nya, foto di Instagram-nya, atau meme yang ia pajang di Path-nya. Apalagi, bila teman itu adalah teman sebatas medsos, tanpa pernah kopi darat alias ketemu langsung in person.

Beberapa teman sebatas medsos seperti ini akhirnya ada kesempatan untuk bertemu langsung. Saat ketemu tersebutlah penilaianku terhadap orang itu jadi berubah. Dia tidak sejutek kicauannya, dia tidak secongkak statusnya, dan dia juga tidak seglamor foto-fotonya. Nah kan…

Mungkin ada satu dua karakter yang tercirikan dari status dan sharing-nya, tapi tidak semua. Dan penilaiaan atas seseorang berdasarkan medsos memang tidak fair.

Inti utamanya, sebetulnya sih jangan pernah menilai seseorang dari apa pun, bahkan hanya dari medsos mereka. Tugas kita bukan menilai-nilai, kita bukan guru atau juri buat seseorang. Hidup mereka adalah hidup mereka sendiri, hidup saya adalah hidup saya juga sendiri.

Asalkan status atau apa pun yang mereka pasang dan pajang di medsos tidak mengganggu kita, ngapain juga meributkan. Atau seandainya hal itu mengusik pandangan kita terhadap suatu topik atau masalah, kita bisa berkomentar. Saling berkomentar atau berdiskusi secara baik dan sehat tentu akan menarik serta menuju pemahaman baru demi kebaikan bersama.  Akan tetapi, bila akhirnya kita saling bersikukuh terhadap pandangan masing-masing dan berkembang jadi debat kusir berkepanjangan, ya sudahlah akhiri saja. Tidak ada gunanya saling berbantah.

Apabila hal itu terjadi terus-menerus ya abaikan saja, atau gunakan senjata pamungkas di medsos, yaitu unfollow atau bahkan unfriend. Gampang ‘kan? Unfriend di sini kan sebatas di media sosial, di dunia maya. Bukan berarti kita memutuskan tali silaturahmi sebenarnya. Tapi, seandainya putus pun dengan teman sebatas medsos seperti itu toh juga gak ada salahnya, daripada dia akan mengotori hari-hari kita dan membuat kita akan menyakiti hati orang lain.

Ah!kamu… (bener juga) 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s